Umat Islam pasti tidak asing dengan istilah Sidratul Muntaha, terutama saat peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sidratul Muntaha dikenal sebagai tempat paling tinggi yang dicapai Rasulullah SAW dalam perjalanan Mi'raj. Meski begitu, masih banyak yang bertanya, apa itu Sidratul Muntaha? Dan mengapa tempat ini menjadi sangat istimewa?
Sidratul Muntaha bukan hanya bagian dari kisah Isra Miraj, tetapi juga berkaitan dengan keimanan kepada hal gaib dan kebesaran Allah SWT. Oleh karena itu, penting untuk memahami arti Sidratul Muntaha, kedudukan, dan hikmahnya dalam Islam.
Apa Itu Sidratul Muntaha?
Mengutip Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur Jilid 4 karya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, sidrah adalah nama sebuah pohon yang berada di atas langit ketujuh. Pohon ini menjadi batas terakhir yang dapat dicapai para malaikat. Dalam peristiwa Isra Miraj, Malaikat Jibril AS tidak mampu melewati batas tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hadits disebutkan bahwa buah Sidratul Muntaha sebesar kendi, daunnya menyerupai telinga gajah, dan besarnya batang pohon itu begitu luar biasa hingga jaraknya tidak dapat ditempuh meski berjalan selama puluhan tahun.
Secara bahasa, sidrah berarti "pohon bidara", sedangkan muntaha bermakna "batas akhir". Ada pula pendapat yang menafsirkan al-Muntaha sebagai Allah SWT. Dengan demikian, Sidratul Muntaha dipahami sebagai pohon ciptaan Allah SWT yang menjadi tempat berakhirnya segala urusan dan ketentuan.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa Sidratul Muntaha disebut sebagai batas tertinggi karena di sanalah berakhir pengetahuan seluruh makhluk. Setelahnya, hanya Allah SWT yang mengetahui hakikat apa yang berada di balik batas tersebut. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas.
Dalam peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Tempat ini digambarkan sebagai sangat agung dan penuh kemuliaan.
Sidratul Muntaha digambarkan sebagai pohon raksasa dengan daun selebar telinga gajah dan buah sebesar kendi. Ketika Allah SWT menetapkan perintah-Nya, pohon tersebut dipenuhi buah-buahan. Keindahannya begitu luar biasa hingga tidak dapat digambarkan secara sempurna oleh makhluk mana pun.
Besarnya Sidratul Muntaha juga diumpamakan bahwa seorang penunggang kuda yang berlari sangat cepat selama seratus tahun di bawah naungannya tidak akan mampu mencapai ujung pohon tersebut. Sidratul Muntaha menjadi tempat tertinggi di alam semesta sebelum Arsy Allah SWT.
Keberadaan Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha disebutkan dalam Al-Qur'an, Surah An-Najm ayat 16,
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
Artinya: "(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya."
Kedudukan Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj
Dalam peristiwa Isra Miraj, Sidratul Muntaha menempati kedudukan yang sangat penting. Tempat ini menjadi salah satu bagian paling agung dalam perjalanan Rasulullah SAW ketika menerima perintah langsung dari Allah SWT.
1. Batas Akhir yang Bisa Dicapai Makhluk Allah SWT
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Sidratul Muntaha merupakan batas terakhir yang dapat dijangkau oleh makhluk ciptaan Allah SWT. Setelah melewati batas tersebut, hanya Allah SWT semata yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang berada di baliknya.
Bahkan Malaikat Jibril AS, yang selama ini mendampingi Rasulullah SAW dalam menyampaikan wahyu, tidak mampu melampaui Sidratul Muntaha. Hal ini menegaskan bahwa tempat tersebut berada di luar jangkauan manusia maupun malaikat.
2. Tempat Rasulullah SAW Menerima Perintah Salat
Selain menjadi batas akhir perjalanan makhluk, Sidratul Muntaha juga memiliki kedudukan yang sangat mulia karena berkaitan langsung dengan ditetapkannya perintah salat.
Dalam peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW diangkat hingga mencapai Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang digambarkan sangat indah dan agung, hingga Rasulullah SAW tidak mampu berpaling dari pandangannya.
Di Sidratul Muntaha inilah Allah SWT menetapkan kewajiban salat bagi Rasulullah SAW dan umatnya. Pada awalnya, Allah SWT mewajibkan salat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Setelah menerima perintah tersebut, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS yang menyarankan agar beliau memohon keringanan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW pun beberapa kali kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan, hingga jumlah salat dikurangi, dari 50 waktu menjadi 45 waktu, kemudian terus berkurang dengan kelipatan lima, sampai akhirnya menjadi lima waktu sehari semalam. Hal ini dijelaskan dalam buku Sejarah Peradaban Islam tulisan Ahmad Jamal Rohman.
Hikmah Sidratul Muntaha bagi Umat Islam
Mengenal apa itu Sidratul Muntaha bisa membantu umat Islam belajar percaya kepada hal-hal gaib. Percaya kepada hal gaib juga merupakan tanda orang yang bertakwa. Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 3,
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
Al-lażīna yu'minūna bil-gaibi wa yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a).
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka."
Selain itu, Sidratul Muntaha adalah tempat yang sangat tinggi dan sangat mulia. Di tempat inilah Allah SWT langsung memberi perintah salat kepada Nabi Muhammad SAW saat peristiwa Isra Miraj.
Oleh karena itu, umat Islam harus melaksanakan salat lima waktu dengan sungguh-sungguh dan hati yang ikhlas.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Soal Presiden Beli Sapi Kurban Pakai APBN, MUI: Disunnahkan bagi Pemimpin
Prabowo Akan Salat Idul Adha di Prancis, Kurban 1.098 Sapi Tetap Jalan
Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Dipahami sebagai Program Sosial Negara