Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai rasul terakhir yang membawa ajaran Islam bagi seluruh umat manusia. Salah satu peristiwa paling penting dalam hidup beliau adalah saat menerima wahyu pertama dari Allah SWT. Peristiwa ini menjadi awal dari perjalanan kenabian yang penuh hikmah dan keteladanan.
Lalu, pada usia berapakah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama tersebut? Untuk mengetahuinya, yuk simak penjelasan berikut berdasarkan riwayat dan sumber sejarah Islam.
Usia Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Pertama
Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama ketika sedang berkhalwat di Gua Hira. Peristiwa penting ini terjadi saat beliau berusia 40 tahun. Hal ini dijelaskan dalam buku Ensiklopedi Sejarah Islam karya Tim Riset dan Studi Islam Mesir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW kerap mengasingkan diri ke Gua Hira untuk beribadah, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hingga pada suatu malam, Malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Allah SWT kepada beliau.
Beberapa tahun sebelum turunnya wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW rutin menyepi di Gua Hira yang berjarak sekitar 5,7 kilometer dari Kota Makkah. Kegiatan ini dilakukan untuk menenangkan batin serta memperdalam kehidupan spiritualnya.
Gua Hira berada di puncak Jabal Nur dengan ketinggian kurang lebih 200 meter. Gunung ini memiliki medan yang terjal dan membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk didaki.
Bentuk Gua Hira memanjang dengan pintu masuk yang sempit sehingga hanya bisa dilewati satu orang. Ukurannya pun tidak besar, hanya cukup menampung sekitar lima orang, dengan tinggi gua yang memungkinkan seseorang berdiri tegak.
Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menghabiskan malam-malamnya dengan merenung di bawah langit bertabur bintang. Hatinya merasa tenang, meskipun saat itu beliau belum menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan sosial yang terjadi di Makkah. Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian menjadi bekal awal dalam perjalanan kenabiannya.
Hingga pada suatu malam yang penuh keberkahan, saat Nabi Muhammad SAW sedang bertahanuts di Gua Hira, kebenaran Ilahi datang menghampiri. Malaikat Jibril tiba-tiba hadir dan mendekati beliau, lalu memerintahkannya dengan berkata, "Bacalah!"
Nabi Muhammad SAW pun menjawab, "Aku tidak bisa membaca!"
Kemudian Malaikat Jibril memeluk beliau dengan kuat hingga beliau merasa sangat lemah, lalu melepaskannya sambil kembali berkata, "Bacalah!"
Namun, Nabi Muhammad SAW tetap menjawab, "Aku tidak bisa membaca!"
Peristiwa ini terjadi hingga tiga kali. Setelah itu, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dari Allah SWT dengan berkata,
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَق
Latin: Iqra' bismi rabbikal-lazi khalaq(a).
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَق
Latin: Khalaqal-insana min 'alaq(in).
Artinya: "Dia menciptakan manusia dari segumpal darah."
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ
Latin: Iqra' wa rabbukal-akram(u).
Artinya: "Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,"
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
Latin: Alladzii 'allama bil-qalam(i).
Artinya: "Yang mengajar (manusia) dengan pena."
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Latin: 'Allamal-insaana ma lam ya'lam.
Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (Surah Al-Alaq ayat 1-5)
Surah Al-Alaq ayat 1-5 diyakini sebagai wahyu pertama yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau sedang berkhalwat di Gua Hira. Melalui Malaikat Jibril, wahyu ini menjadi tanda dimulainya tugas Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
Kondisi Nabi Muhammad SAW Setelah Menerima Wahyu
Setelah peristiwa turunnya wahyu pertama, Rasulullah SAW segera pulang ke rumah dalam keadaan tubuh yang gemetar. Beliau membawa bacaan wahyu yang baru saja diterimanya.
Saat turun dari Gua Hira, Nabi Muhammad SAW mendengar suara yang memanggil dirinya. Peristiwa itu terasa begitu kuat dan menggetarkan. Ketika beliau menoleh ke berbagai arah, beliau melihat langit dan angkasa dipenuhi oleh sosok Malaikat Jibril dalam wujud aslinya yang sangat menakjubkan.
Setibanya di rumah, Nabi Muhammad SAW langsung menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, "Selimuti aku! Selimuti aku!"
Khadijah pun segera menyelimutinya hingga rasa takut yang dirasakan Nabi Muhammad SAW perlahan-lahan berkurang.
Dalam kondisi tersebut, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Khadijah, "Apa yang terjadi padaku?" Beliau kemudian menceritakan secara lengkap pengalaman yang dialaminya di Gua Hira. Di akhir ceritanya, beliau mengungkapkan kegelisahannya dengan berkata, "Aku sangat khawatir terhadap diriku!"
Mendengar hal itu, Khadijah menenangkannya dengan penuh keyakinan dan berkata, "Tidak mungkin! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu! Engkau selalu menjaga silaturahim, membantu orang yang kesusahan, memberi kepada yang membutuhkan, menjamu tamu, dan mendukung perjuangan kebenaran."
Setelah menenangkan Rasulullah SAW, Khadijah kemudian membawa beliau menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang pada saat itu menganut agama Nasrani.
Setelah mendengar kisah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, Waraqah berkata, "Ini adalah wahyu yang sama seperti yang diturunkan kepada Nabi Musa. Andai saja aku masih muda ketika engkau nanti diusir oleh kaummu!"
Ucapan itu membuat Nabi Muhammad SAW terkejut, lalu beliau bertanya, "Benarkah mereka akan mengusirku?"
Waraqah pun menjawab, "Benar! Setiap orang yang membawa risalah seperti yang engkau bawa pasti akan dimusuhi. Jika aku masih hidup saat itu, pasti aku akan mendukungmu dengan seluruh kekuatan yang kumiliki."
Demikianlah kisah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Setelah peristiwa tersebut, wahyu dari Allah SWT kemudian turun secara bertahap kepada beliau.
Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Selama 23 Tahun
Mengacu pada buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT selama kurang lebih 23 tahun.
Al-Quran diturunkan dalam jangka waktu yang panjang dan bertahap. Inilah yang menjadi pembeda antara Al-Quran dengan kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, dan Injil, yang diturunkan sekaligus tanpa melalui rentang waktu yang lama.
Mengenai proses turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur tersebut, Allah SWT menjelaskannya dalam surah Al-Isra ayat 106,
وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا
Wa qur'ānan faraqnāhu litaqra'ahū 'alan-nāsi 'alā mukṡiw wa nazzalnāhu tanzīlā(n).
Artinya: "Al-Quran Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap."
Al-Quran pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Namun, menurut sebagian ulama, penurunan Al-Quran yang dimaksud pada malam tersebut bukanlah langsung kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan diturunkan secara utuh dari Arsy ke langit dunia, tepatnya di Baitul Izzah.
Setelah itu, dari Baitul Izzah, Al-Quran baru diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan umat pada masa itu.
Proses penurunan wahyu ini berlangsung selama sekitar 23 tahun, yaitu sejak Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun hingga beliau wafat pada usia 63 tahun.
Dari total masa kerasulan tersebut, Nabi Muhammad SAW menjalani 13 tahun dakwah di Makkah, sedangkan 10 tahun berikutnya beliau menetap dan berdakwah di Madinah.
Orang-orang Pertama yang Masuk Islam
Masih mengutip sumber sebelumnya, yaitu buku Ensiklopedi Sejarah Islam, setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan ajaran Islam dan mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT. Pada tahap awal, dakwah dilakukan secara terbatas kepada orang-orang terdekat yang dikenal memiliki akhlak baik dan sudah mengenal kepribadian beliau.
Orang-orang yang pertama kali menerima ajakan Nabi Muhammad SAW dan memeluk agama Islam di antaranya adalah:
- Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Muhammad SAW, yang menjadi orang pertama beriman kepada risalah yang dibawa beliau.
- Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi Muhammad SAW, yang saat itu masih berusia muda dan tinggal bersama beliau.
- Zaid bin Haritsah, anak angkat sekaligus pelayan Nabi Muhammad SAW, yang setia mendampingi beliau.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat dekat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pedagang jujur, tokoh terpandang, dan sosok yang aktif menyebarkan dakwah Islam. Melalui perantara Abu Bakar, banyak orang kemudian memeluk Islam, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Al-Awam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.
- Sejumlah tokoh dan para budak dari suku Quraisy, baik laki-laki maupun perempuan, juga turut menerima Islam sebagai agama mereka.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Gus Yaqut Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Ketum PBNU: Serahkan ke Proses Hukum
Ada Aduan Penggelapan Dana Haji Furoda 2025, Kemenhaj Panggil Pihak Travel
MUI Soroti Pasal Nikah Siri dan Poligami dalam KUHP Baru