Bayangkan suatu pagi kita diberi kesempatan kembali ke Tebuireng. Bukan Tebuireng hari ini dengan kendaraan yang lalu-lalang dan telepon genggam di tangan hampir setiap orang. Bayangkan kita datang menemui Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari pada satu abad yang lalu.
Di hadapan beliau seorang wartawan membawa pertanyaan yang mungkin tidak dikenal pada tahun 1926. Tentang digitalisasi, media sosial, politik elektoral, kekuasaan, data jutaan warga NU, profesionalisasi organisasi, perebutan kepemimpinan, bahkan masa depan NU setelah satu abad.
Tetapi sesungguhnya pertanyaan pokoknya tetap sama. Untuk apa NU didirikan? Dan setelah menjadi organisasi besar, ke mana NU seharusnya berjalan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini adalah sebuah wawancara imajiner seorang wartawan dengan KH. M. Hasyim Asy'ari. Sebuah percakapan lintas zaman tentang jam'iyah, ulama, kekuasaan, persatuan, dan masa depan Nahdlatul Ulama.
Berikut wawancara imajiner antara seorang jurnalis dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari.
Jurnalis:
Hadratussyaikh Hasyim, hampir satu abad lalu para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama. Apa sesungguhnya yang melatarbelakangi berdirinya NU?
Hadratussyaikh:
Jangan memulai sejarah NU hanya dari tanggal berdirinya. Sebelum ada Nahdlatul Ulama, sudah ada kegelisahan para ulama. Umat menghadapi penjajahan. Kehidupan keagamaan mengalami perubahan. Dunia Islam juga sedang mengalami pergolakan.
Para kiai melihat bahwa umat tidak cukup hanya mempunyai banyak orang alim. Ulama perlu berhimpun. Pesantren perlu saling menguatkan. Umat perlu memiliki jam'iyah. Di Hijaz ketika itu juga terjadi perubahan kekuasaan yang menimbulkan kekhawatiran mengenai kebebasan bermadzhab dan keberlangsungan sejumlah tradisi serta peninggalan Islam. Para ulama pesantren kemudian membentuk Komite Hijaz. Tetapi persoalannya ternyata lebih besar daripada mengirim delegasi ke Hijaz.
Para ulama memerlukan organisasi yang dapat bekerja secara terus-menerus. Dari situlah jam'iyah menjadi kebutuhan.
Jurnalis:
Jadi NU tidak lahir semata-mata karena perbedaan masalah fikih?
Hadratussyaikh:
Terlalu kecil jika kelahiran NU dipahami demikian. Bermadzhab memang penting. Sebab agama tidak boleh dipahami setiap orang hanya berdasarkan pikirannya sendiri tanpa ilmu, sanad, dan metode. Tetapi lihatlah Muqaddimah Qanun Asasi. Saya berbicara panjang mengenai persatuan.
Mengapa? Karena kebenaran yang dibawa sendiri-sendiri dapat menjadi lemah. Sedangkan kebatilan yang terorganisasi dapat menjadi kuat.
Saya pernah mengingatkan: "Innal haqqa yadh'ufu bil ikhtilafi wal iftiraq, wa innal bathila qad yaqwa bil ittihadi wal ittifaq."
Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan. Kebatilan dapat menjadi kuat karena persatuan dan kekompakan.
Maka organisasi diperlukan agar kebaikan mempunyai kekuatan.
Jurnalis:
Mengapa namanya Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Ulama?
Hadratussyaikh:
Karena ulama mempunyai tanggung jawab.Ulama bukan sekadar orang yang banyak mengetahui kitab. Ilmu melahirkan amanah. Jika masyarakat rusak, ulama harus membimbing. Jika umat berselisih, ulama mendamaikan. Jika agama disalahgunakan, ulama meluruskan. Jika rakyat lemah, ulama harus hadir.
Jika negeri terancam, ulama tidak boleh berdiam diri. Karena itu yang harus bangkit terlebih dahulu adalah ulamanya. Tetapi kebangkitan ulama bukan berarti ulama mencari kedudukan. Kebangkitan berarti bertambahnya tanggung jawab.
Jurnalis:
Lalu apakah tujuan utama NU adalah mempertahankan tradisi?
Hadratussyaikh:
Tradisi harus dilihat dengan ilmu. Yang dijaga bukan sesuatu hanya karena ia lama. Yang dijaga adalah ajaran dan amaliah yang mempunyai dasar, sanad, serta membawa kemaslahatan. Ahlussunnah wal Jamaah mempunyai jalan keilmuan.
Dalam fikih kita mengenal madzhab-madzhab yang mu'tabar. Dalam akidah ada disiplin keilmuan. Dalam tasawuf ada jalan penyucian jiwa yang dibimbing para ulama. Beragama memerlukan ilmu sekaligus adab. Karena itu pesantren menjadi penting.
Pesantren bukan hanya tempat memindahkan pengetahuan dari kitab kepada kepala seorang murid. Pesantren membentuk hubungan antara ilmu, guru, murid, sanad, akhlak, dan pengabdian.
Jurnalis:
Kalau begitu, apa ukuran keberhasilan NU?
Hadratussyaikh:
Jangan hanya menghitung jumlah pengurus.
Jangan pula hanya menghitung banyaknya kantor.
Tanyakan hal yang lebih mendasar.
Apakah umat semakin memahami agamanya?
Apakah anak-anak memperoleh pendidikan?
Apakah orang miskin mendapatkan pertolongan?
Apakah pesantren semakin kuat?
Apakah ulama dihormati karena ilmu dan akhlaknya?
Apakah persaudaraan semakin kokoh?
Apakah masyarakat memperoleh manfaat karena keberadaan NU?
Jam'iyah tidak boleh sibuk mengurus dirinya lalu melupakan jamaah.
Jurnalis:
Hari ini NU sangat besar. Anggotanya puluhan juta. Apakah Hadratussyaikh senang melihatnya?
Hadratussyaikh:
Besar adalah amanah.
Saya akan lebih dahulu bertanya, besar untuk apa?
Jumlah yang besar dapat menjadi kekuatan apabila mempunyai ilmu, disiplin, persatuan, dan tujuan.
Tetapi jumlah yang besar juga dapat menjadi beban apabila orang-orang di dalamnya lebih banyak memikirkan kedudukan daripada khidmah.
Jangan tertipu oleh banyaknya orang.
Yang harus diperiksa adalah manfaatnya.
Jurnalis:
Sekarang NU memiliki struktur dari pusat sampai desa. Ada lembaga, badan otonom, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga ekonomi, media, dan sistem digital.
Apakah perkembangan seperti ini sesuai dengan cita-cita pendiri?
Hadratussyaikh:
Sarana boleh berubah.
Zaman memang berubah.
Dahulu orang menyampaikan kabar dengan surat. Sekarang kalian menyampaikannya dalam beberapa detik.
Dahulu pencatatan dilakukan dengan tangan. Sekarang kalian mempunyai mesin yang dapat menyimpan jutaan data.
Tidak ada masalah dengan alat.
Pertanyaannya tetap sama.
Untuk apa alat itu digunakan?
Jika teknologi memudahkan khidmah, gunakan.
Jika data membantu pendidikan, pelayanan kesehatan, zakat, dakwah, dan penguatan umat, manfaatkan.
Tetapi apabila teknologi justru menjauhkan pengurus dari umat, berhati-hatilah.
Jangan sampai alat yang seharusnya melayani jam'iyah berubah menjadi alat untuk menguasai jam'iyah.
Jurnalis:
Hari ini data menjadi sumber kekuatan. NU mempunyai jutaan warga yang dapat dihimpun dalam sistem digital.
Bagaimana Hadratussyaikh melihatnya?
Hadratussyaikh:
Manusia jangan diubah menjadi angka.
Data diperlukan untuk mengetahui keadaan umat.
Berapa anak yang belum memperoleh pendidikan.
Berapa pesantren yang membutuhkan bantuan.
Berapa keluarga miskin yang harus ditolong.
Berapa guru yang perlu diperkuat.
Berapa orang sakit yang memerlukan pelayanan.
Kalau data dipakai untuk itu, ia menjadi sarana khidmah.
Tetapi apabila data jamaah dikumpulkan untuk kepentingan kekuasaan, perdagangan, atau kepentingan kelompok tertentu, kalian harus bertanya kembali kepada hati nurani dan tujuan jam'iyah.
Jurnalis:
Bagaimana dengan hubungan NU dan politik?
Hadratussyaikh:
Ulama tidak mungkin tidak memikirkan keadaan negeri.
Ketika negeri dijajah, para ulama melawan penjajahan.
Ketika kemerdekaan terancam, para ulama menyerukan kewajiban mempertahankannya.
Agama tidak mengajarkan ketidakpedulian terhadap nasib masyarakat.
Tetapi bedakan antara memperjuangkan kemaslahatan politik dengan menjadikan jam'iyah sebagai kendaraan perebutan kekuasaan.
Kekuasaan adalah sarana.
Jangan sampai NU menjadi besar karena dekat dengan penguasa, tetapi kehilangan keberanian untuk mengatakan yang benar kepada penguasa.
Jurnalis:
Jadi NU boleh dekat dengan pemerintah?
Hadratussyaikh:
Dekatlah kepada kemaslahatan.
Jika pemerintah melakukan kebaikan, bantulah.
Jika pemerintah membutuhkan nasihat, nasihati.
Jika kebijakannya membahayakan masyarakat, ingatkan.
Ulama tidak boleh menjadi musuh pemerintah hanya karena ingin disebut berani.
Tetapi ulama juga tidak boleh membenarkan segala sesuatu hanya karena dekat dengan pemerintah.
Ukuran seorang alim bukan kedekatannya kepada kekuasaan.
Ukuran itu adalah ilmu, amanah, dan keberpihakannya kepada kebenaran.
Jurnalis:
Hadratussyaikh, salah satu persoalan organisasi besar adalah perebutan jabatan. Menjelang permusyawaratan, orang membentuk kelompok, mencari dukungan, bahkan terkadang terjadi transaksi politik.
Bagaimana Hadratussyaikh melihat keadaan seperti itu?
Hadratussyaikh:
Jika jabatan diperebutkan karena orang ingin berkhidmah, periksa niat dan caranya.
Jika jabatan diperebutkan karena kehormatan, kekuasaan, atau keuntungan, maka penyakitnya bukan berada pada aturan organisasi saja.
Penyakit itu berada dalam hati.
Organisasi ulama harus mempunyai adab.
Jangan menghalalkan cara yang buruk untuk memperoleh jabatan dalam organisasi yang didirikan untuk tujuan yang baik.
Kebaikan organisasi tidak dapat dijaga dengan kebatilan.
Jurnalis:
Apakah demokrasi dan pemungutan suara tidak cocok untuk NU?
Hadratussyaikh:
Saya hidup pada zaman yang berbeda dengan kalian.
Maka jangan meminta saya menetapkan teknis yang menjadi urusan zaman kalian.
Tetapi saya dapat memberikan ukurannya.
Permusyawaratan harus menjaga persaudaraan.
Pemimpin harus dipilih karena amanah dan kemampuan.
Ulama harus ditempatkan pada kemuliaan ilmunya.
Harta jangan menentukan pilihan.
Permusuhan jangan menjadi hasil permusyawaratan.
Dan setelah pemimpin dipilih, jam'iyah harus kembali bersatu.
Jika suatu mekanisme menghasilkan perpecahan terus-menerus, kalian wajib mengevaluasinya.
Jangan mempertahankan cara hanya karena kalian sudah terbiasa dengannya.
Jurnalis:
Berarti mekanisme organisasi dapat berubah?
Hadratussyaikh:
Mengapa tidak?
Yang tidak boleh berubah adalah tujuan yang benar menjadi tujuan yang salah.
Cara dapat diperbaiki.
Administrasi dapat diperbaiki.
Sistem pendidikan dapat diperbaiki.
Pengelolaan organisasi dapat diperbaiki.
Tetapi jangan menggunakan kata pembaruan untuk memutus sanad.
Dan jangan menggunakan kata tradisi untuk mempertahankan kesalahan.
Jurnalis:
Sekarang orang mudah sekali bertengkar melalui media sosial. Bahkan sesama warga NU dapat saling menyerang secara terbuka.
Apa nasihat Hadratussyaikh?
Hadratussyaikh:
Dahulu orang yang hendak mencela saudaranya harus mendatanginya atau menulis surat.
Sekarang kalian dapat mencela ribuan orang dalam beberapa detik.
Berarti alat kalian semakin cepat.
Apakah akhlak kalian juga semakin baik?
Ilmu tanpa adab menimbulkan kerusakan.
Perbedaan pendapat tidak harus menjadi permusuhan.
Para ulama berbeda dalam banyak persoalan. Karena mereka mempunyai ilmu dan adab, perbedaan tidak selalu memutus persaudaraan.
Jika setiap perbedaan menghasilkan penghinaan, mungkin yang perlu diperbaiki bukan telepon kalian.
Yang perlu diperbaiki adalah hati.
Jurnalis:
Bagaimana Hadratussyaikh melihat munculnya ustaz dan tokoh agama melalui media sosial yang mempunyai jutaan pengikut?
Hadratussyaikh:
Banyak pengikut tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu.
Dalam agama ada sanad.
Ada guru.
Ada disiplin.
Ada adab.
Ada tanggung jawab ketika menyampaikan hukum kepada masyarakat.
Jangan mengganti ukuran kealiman dengan ukuran kepopuleran.
Orang yang dikenal satu negeri belum tentu lebih alim daripada seorang kiai yang mengajar kitab dengan istiqamah di sebuah desa.
Jangan biarkan jumlah pengikut di layar menentukan siapa yang kalian jadikan rujukan agama.
Jurnalis:
Bagaimana NU menghadapi kecerdasan buatan dan perkembangan teknologi yang sangat cepat?
Hadratussyaikh:
Pelajarilah.
Ulama jangan takut kepada pengetahuan.
Tetapi ilmu harus memimpin alat.
Jangan alat memimpin manusia.
Jika mesin dapat membantu mencari informasi, gunakan.
Jika dapat membantu pendidikan, gunakan.
Jika dapat membantu pelayanan umat, gunakan.
Tetapi mesin tidak mempunyai sanad, tanggung jawab moral, rasa takut kepada Allah, dan adab kepada guru.
Karena itu jangan menyerahkan otoritas agama sepenuhnya kepada mesin.
Jurnalis:
Apa yang paling Hadratussyaikh khawatirkan terhadap NU di masa depan?
Hadratussyaikh:
Saya tidak terlalu khawatir NU menjadi kecil.
Saya lebih khawatir apabila NU tetap besar tetapi kehilangan tujuan.
Nama Nahdlatul Ulama tetap ada.
Kantornya banyak.
Pengurusnya banyak.
Acaranya ramai.
Tetapi pesantren melemah.
Ulama tidak lagi menjadi rujukan.
Jamaah hanya dihitung ketika diperlukan.
Permusyawaratan menjadi perebutan kekuasaan.
Khidmah berubah menjadi transaksi.
Jika itu terjadi, yang tersisa adalah nama organisasi.
Ruhnya perlahan hilang.
Jurnalis:
Apa ruh itu?
Hadratussyaikh:
Ilmu, adab, ukhuwah, amanah, hmnidmah dan keikhlasan.
Jurnalis:
Kalau Hadratussyaikh hadir dalam Muktamar NU hari ini, pesan apa yang akan disampaikan kepada para peserta?
Hadratussyaikh:
Saya akan bertanya kepada mereka. Kalian datang ke Muktamar membawa kepentingan siapa?
Jika membawa kepentingan pesantren, mari kita bicarakan pesantren.
Jika membawa kepentingan umat, mari kita lihat keadaan umat.
Jika membawa persoalan pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan masa depan anak-anak kita, mari kita musyawarahkan.
Tetapi jika kalian datang hanya membawa nama calon, kemudian pulang setelah menentukan siapa yang menjadi ketua, kalian telah membuat Muktamar menjadi terlalu kecil. Muktamar ulama harus membicarakan persoalan umat.
Jurnalis:
Apa kriteria pemimpin NU masa depan?
Hadratussyaikh:
Ia harus memahami bahwa dirinya bukan pemilik NU.
NU bukan warisan pribadi.
Bukan milik keluarga tertentu.
Bukan milik kelompok tertentu.
Bukan milik orang yang sedang menjadi pengurus.
Jam'iyah adalah amanah.
Pemimpin datang dan pergi.
Karena itu carilah orang yang ilmunya dapat dipercaya, akhlaknya menjaga persaudaraan, mampu bekerja, tidak menjadikan organisasi sebagai jalan mencari keuntungan pribadi, dan bersedia mendengar para ulama serta jamaah.
Jurnalis:
NU hari ini memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Apakah NU perlu menjadi kekuatan ekonomi?
Hadratussyaikh:
Umat harus kuat ekonominya. Orang miskin harus dibantu agar berdaya. Petani harus dilindungi. Pedagang harus berkembang. Pesantren perlu mandiri. Guru harus memperoleh kehidupan yang layak. Tetapi jangan membalik tujuan. NU membantu ekonomi umat. Jangan sampai umat justru menjadi pasar bagi kepentingan ekonomi orang-orang yang menggunakan nama NU. Itu dua perkara yang berbeda.
Jurnalis:
Apa tugas terbesar NU pada abad keduanya?
Hadratussyaikh:
Kembalilah melihat Masyarakat. Anak-anak membutuhkan Pendidikan. Keluarga membutuhkan penguatan ekonomi.Pesantren membutuhkan kader ulama. Bangsa membutuhkan persatuan. Agama membutuhkan orang-orang berilmu yang mempunyai akhlak. Teknologi membutuhkan tuntunan etika. Lingkungan membutuhkan penjagaan. Dan dunia yang mudah terpecah membutuhkan Islam yang membawa rahmat. Kerjakan itu. Jangan terlalu sibuk membesarkan nama NU. Besarkan manfaat NU.
Jurnalis:
Apakah NU harus menjadi organisasi modern?
Hadratussyaikh:
Jika modern berarti tertib, profesional, menggunakan ilmu, mengelola data dengan amanah, mendidik kader dengan baik, serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, lakukan.
Tetapi apabila modern berarti meninggalkan ulama, meremehkan pesantren, memutus sanad, atau mengukur segala sesuatu hanya dengan uang dan kekuasaan, jangan.
Kemajuan tidak diukur dari seberapa jauh kalian meninggalkan masa lalu.
Kemajuan diukur dari kemampuan menggunakan pengetahuan baru tanpa kehilangan prinsip.
Jurnalis:
Satu pertanyaan terakhir, Hadratussyaikh.
Jika seratus tahun lalu para kiai mendirikan NU, apakah NU masih diperlukan seratus tahun ke depan?
Hadratussyaikh:
Selama masih ada agama yang harus dijaga dengan ilmu.
Selama masih ada umat yang membutuhkan bimbingan.
Selama masih ada orang miskin yang membutuhkan pertolongan.
Selama masih ada anak yang harus dididik.
Selama masih ada pesantren yang harus dijaga.
Selama persatuan umat dan bangsa harus dirawat.
Maka jam'iyah masih diperlukan.
Tetapi ingat.
Yang harus dipertahankan bukan sekadar organisasi bernama Nahdlatul Ulama.
Yang harus dipertahankan adalah alasan mengapa Nahdlatul Ulama didirikan.
Wawancara antara jurnalis dan Hadratus Syaikhi di atas tentu tidak pernah terjadi. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari wafat pada 25 Juli 1947. Beliau tidak mengenal internet, kecerdasan buatan, big data, media sosial, pemilihan langsung dalam organisasi modern, ataupun kompleksitas hubungan NU dengan negara pada abad ke-21.
Tetapi Muqaddimah Qanun Asasi meninggalkan seperangkat pertanyaan yang masih relevan. Apakah organisasi memperkuat persatuan atau menghasilkan perpecahan? Apakah ulama memimpin orientasi jam'iyah atau sekadar melengkapi struktur? Apakah kekuasaan digunakan untuk kemaslahatan atau jam'iyah digunakan untuk memperoleh kekuasaan? Apakah teknologi informasi menjadi sarana khidmah atau instrumen penguasaan? Apakah jamaah menjadi tujuan pelayanan atau hanya angka dalam database? Apakah permusyawaratan menghasilkan kemaslahatan atau meninggalkan permusuhan?
Dan pertanyaan yang mungkin paling penting setelah satu abad perjalanan NU:
Apakah NU hari ini masih bergerak menuju tujuan yang dahulu menyebabkan para kiai merasa perlu mendirikannya?
Mungkin masa depan NU tidak selalu harus dicari dengan melihat semakin jauh ke depan. Sesekali ia perlu ditemukan dengan membaca kembali alasan para muassis memulainya.
Dr, KH. Mochammad Irfan Yusuf, M,Si.
Penulis adalah cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Penulis saat ini menjabat sebagai Menteri Haji dan Umrah.
Artikel ini adalah kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pribadi penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Komentar Terbanyak
Korupsi Makin Parah, MUI Dorong Pemerintah Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor
Kutip Al-Qur'an dalam Khotbah, Masjid di Paris Ditutup 6 Bulan
Islam Masuk Nusantara Ketika Nabi Muhammad Masih Hidup