Surah Al-Isra Ayat 7: Hukum Tabur Tuai Amal Perbuatan Manusia

Surah Al-Isra Ayat 7: Hukum Tabur Tuai Amal Perbuatan Manusia

Tia Kamilla - detikHikmah
Selasa, 30 Des 2025 06:30 WIB
Surah Al-Isra Ayat 7: Hukum Tabur Tuai Amal Perbuatan Manusia
Ilustrasi membaca Al-Qur'an. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Surah Al-Isra ayat 7 menyampaikan pesan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, baik atau buruk, tidak akan hilang begitu saja. Semua akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk balasan yang setimpal. Pesan ini dikenal sebagai hukum tabur tuai amal perbuatan. Apa yang ditanam hari ini, itulah yang akan dipetik di kemudian hari.

Surah Al-Isra sendiri merupakan surah ke-17 dalam Al-Quran. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah, yaitu surah yang diturunkan di Makkah. Kata Al-Isra sendiri berarti "memperjalankan di malam hari". Berikut adalah bunyi surah Al-Isra ayat 7.

Surah Al-Isra Ayat 7: Teks Arab, Latin, dan Artinya

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Latin: In aḥsantum aḥsantum li'anfusikum, wa in asa'tum fa lahā, fa iżā jā'a wa'dul-ākhirati liyasū'ū wujūhakum wa liyadkhulal-masjida kamā dakhalūhu awwala marratiw wa liyutabbirū mā 'alau tatbīrā(n).

Artinya: "Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai."

ADVERTISEMENT

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 7, Hukum Tabur Tuai Amal Manusia

Mengutip Tafsir Kementerian Agama RI, Surah Al-Isra ayat 7 menjelaskan bahwa Allah SWT menegaskan bahwa jika seseorang berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, jika seseorang berbuat jahat, maka akibat dari kejahatan itu juga akan menimpa dirinya.

Pada awalnya, ayat ini berbicara tentang Bani Israil. Namun, para ulama menegaskan bahwa ketentuan dalam ayat ini tidak hanya berlaku untuk Bani Israil, melainkan berlaku umum bagi seluruh manusia sepanjang masa. Inilah yang disebut sebagai hukum tabur tuai amal perbuatan.

Dalam tafsir dijelaskan, balasan kebaikan di dunia bisa berupa kehidupan yang lebih kuat dan tertata. Suatu kaum yang gemar berbuat baik akan diberi kemampuan untuk mempertahankan diri dari niat jahat musuh-musuhnya. Mereka juga diberi kelapangan rezeki, keturunan yang berlanjut, serta kesempatan membangun kehidupan dan peradaban yang lebih baik.

Selain itu, kebaikan juga memudahkan manusia dalam menjalankan ibadah dan menata hidup agar lebih tenang. Adapun balasan kebaikan di akhirat adalah surga, yang penuh dengan kenikmatan sebagai bukti keridaan Allah SWT atas amal kebajikan yang dilakukan.

Sebaliknya, jika manusia melakukan perbuatan jahat, seperti menentang kebenaran, melanggar ajaran Allah, dan mengikuti hawa nafsu, maka akibatnya adalah kemurkaan Allah SWT. Dalam tafsir dijelaskan bahwa perbuatan buruk akan membawa kehancuran, baik secara pribadi maupun sebagai sebuah kaum.

Mereka akan hidup dalam perpecahan, saling menjatuhkan satu sama lain, dan kehilangan kekuatan untuk mempertahankan diri. Akibatnya, mereka menjadi lemah, tertindas, dan mudah dikuasai oleh musuh. Inilah balasan buruk yang bisa dirasakan di dunia.

Adapun balasan di akhirat dari perbuatan jahat adalah azab neraka, sebagai hukuman yang sangat berat atas kedurhakaan kepada Allah SWT.

Contoh nyatanya ada di dalam Sejarah Bani Israil. Allah SWT juga mengingatkan kembali hukuman yang pernah menimpa Bani Israil akibat kejahatan yang mereka lakukan untuk kedua kalinya. Pada saat itu, Allah membiarkan mereka berada dalam keadaan kacau ketika musuh datang menyerang dan menaklukkan mereka.

Menurut catatan sejarah, kehancuran kedua ini dilakukan oleh bangsa Romawi. Pada tahun 70 Masehi, Kaisar Titus memasuki Baitul Maqdis, menghancurkan kota, membakar Masjidil Aqsa, dan menawan serta membunuh banyak orang Yahudi. Dalam peristiwa ini, disebutkan sekitar satu juta orang tewas.

Kemudian, pada masa Kaisar Hadrianus (117-138 Masehi), Baitul Maqdis kembali dikuasai dan dirusak. Kota tersebut diubah namanya menjadi Aelina Capitolina. Masjidil Aqsa diruntuhkan dan digantikan dengan bangunan lain. Akibatnya, bangsa Yahudi kehilangan negeri dan kerajaan, lalu tercerai-berai ke berbagai penjuru dunia.

Hikmah yang Bisa Diambil dari Surah Al-Isra Ayat 7

Surah Al-Isra ayat 7 memiliki banyak pelajaran berharga tentang sikap dan perilaku manusia. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perbuatan memiliki dampak, baik di dunia maupun di akhirat. Berikut beberapa hikmah yang dapat diambil.

  1. Setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Apa yang dilakukan seseorang akan kembali kepada dirinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain.
  2. Kebaikan yang dilakukan tidak pernah sia-sia dan akan mendapat balasannya dari Allah SWT. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan memberikan manfaat bagi pelakunya dan orang di sekitarnya.
  3. Perbuatan buruk tidak akan hilang begitu saja dan pada akhirnya akan merugikan pelakunya sendiri.
  4. Ayat ini mengajarkan pentingnya introspeksi diri. Sebelum bertindak, seseorang perlu mempertimbangkan apakah perbuatannya baik dan membawa manfaat.

Dengan memahami makna surah Al-Isra ayat 7 tentang hukum tabur tuai amal perbuatan manusia, umat Islam diajak untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan memilih perbuatan yang baik. Ayat ini juga mendorong upaya memperbaiki diri, karena setiap perubahan menuju kebaikan akan kembali membawa manfaat bagi kehidupannya sendiri.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads