Tafsir Ayat "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut" Menurut Ulama

Tafsir Ayat "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut" Menurut Ulama

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Kamis, 11 Des 2025 14:00 WIB
Tafsir Ayat Kullu Nafsin Dzaiqatul Maut Menurut Ulama
Foto: Freepik
Jakarta -

Kematian adalah sebuah kepastian yang akan dialami oleh setiap makhluk bernyawa. Kebenaran ini dijelaskan dalam Al-Qur'an melalui sebuah ayat, yaitu "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut". Ayat ini merupakan peringatan bagi umat Islam bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara, dan akhir dari perjalanan adalah kembali kepada Sang Pencipta.

Berikut penjelasan lengkap tentang bacaan, terjemahan, dan tafsir ayat "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut".

Bacaan Ayat Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut

Terdapat tiga potongan ayat dalam tiga surat di Al-Qur'an yang memiliki bacaan "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut". Berikut merupakan bacaan Arab, latin, dan artinya dari ketiga ayat tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Surat Al-Ankabut ayat 57

ŲƒŲŲ„Ų‘Ų Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲ Ø°ŲŽØ§Û¤Ų‰Ų•ŲŲ‚ŲŽØŠŲ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲˆŲ’ØĒŲÛ— ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø§ŲŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽØ§ ØĒŲØąŲ’ØŦŲŽØšŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ

Arab-Latin: Kullu nafsin dhā'iqatul-maut(i), thumma ilainā turja'ÅĢn.

ADVERTISEMENT

Artinya: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan."

2. Surat Ali Imran ayat 185

ŲƒŲŲ„Ų‘Ų Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲ Ø°ŲŽØ§Û¤Ų‰Ų•ŲŲ‚ŲŽØŠŲ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲˆŲ’ØĒŲÛ— ŲˆŲŽØ§ŲŲ†Ų‘ŲŽŲ…ŲŽØ§ ØĒŲŲˆŲŽŲŲ‘ŲŽŲˆŲ’Ų†ŲŽ Ø§ŲØŦŲŲˆŲ’ØąŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲŠŲŽŲˆŲ’Ų…ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲŲŠŲ°Ų…ŲŽØŠŲ ۗ ŲŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų’ Ø˛ŲØ­Ų’Ø˛ŲØ­ŲŽ ØšŲŽŲ†Ų Ø§Ų„Ų†Ų‘ŲŽØ§ØąŲ ŲˆŲŽØ§ŲØ¯Ų’ØŽŲŲ„ŲŽ Ø§Ų„Ų’ØŦŲŽŲ†Ų‘ŲŽØŠŲŽ ŲŲŽŲ‚ŲŽØ¯Ų’ ŲŲŽØ§Ø˛ŲŽ ۗ ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų’Ø­ŲŽŲŠŲ°ŲˆØŠŲ Ø§Ų„Ø¯Ų‘ŲŲ†Ų’ŲŠŲŽØ§Ų“ Ø§ŲŲ„Ų‘ŲŽØ§ Ų…ŲŽØĒŲŽØ§ØšŲ Ø§Ų„Ų’ØēŲØąŲŲˆŲ’ØąŲ

Arab-Latin: Kullu nafsin dhā'iqatul-maut(i), wa innamā tuwaffauna ujÅĢrakum yaumal-qiyāmah(ti). Faman zuá¸Ĩziá¸Ĩa 'anin-nāri wa udkhilal-jannata faqad fāz(a), wa mal-á¸Ĩayātud-dun-yā illā matā'ul-ghurÅĢr(i).

Artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."

3. Surat Al-Anbiya ayat 35

ŲƒŲŲ„Ų‘Ų Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲ Ø°ŲŽØ§Û¤Ų‰Ų•ŲŲ‚ŲŽØŠŲ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲˆŲ’ØĒŲÛ— ŲˆŲŽŲ†ŲŽØ¨Ų’Ų„ŲŲˆŲ’ŲƒŲŲ…Ų’ Ø¨ŲØ§Ų„Ø´Ų‘ŲŽØąŲ‘Ų ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’ØŽŲŽŲŠŲ’ØąŲ ؁ؐØĒŲ’Ų†ŲŽØŠŲ‹ Û—ŲˆŲŽØ§ŲŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽØ§ ØĒŲØąŲ’ØŦŲŽØšŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ

Arab-Latin: Kullu nafsin dhā'iqatul-maut(i), wa nablÅĢkum bisy-syarri wal-khairi fitnah(tan), wa ilainā turja'ÅĢn.

Artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan."

Tafsir Ayat "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut" Menurut Ulama

Tafsir Ash-Shaawiy syekh Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki

Tafsir Ash-Shaawiy syekh Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki menafsiri bahwa setiap yang memiliki jasad pasti akan merasakan kematian (dengan dicabutnya ruh dari jasad) tetapi ruh tidak akan mati. Keumuman ayat yang sudah dijelaskan di atas yakni surat Ali Imran ayat 185 mencakup syuhada, para nabi, dan malaikat. Semuanya pasti akan merasakan kematian.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam tafsir Ibn Katsir, yang membahas surat Al Ankabut ayat 57 juga dijelaskan atas kekuasaan Allah. Ma-nusia yang awalnya tiada, kemudian Allah jadikan dia ada di muka bumi ini. Semua pasti akan mati, kemudian dibangkitkan kembali setelah kematian itu.

Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata "dzaiqah" (merasakan) dalam ayat ini menunjukkan bahwa kematian adalah suatu pengalaman yang akan dirasakan oleh setiap jiwa. Ia menafsirkan bahwa proses kematian bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan suatu fase transisi yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Al-Qurthubi juga menekankan bahwa ayat ini menjadi peringatan bagi manusia untuk tidak terlena dengan kehidupan dunia.

Tafsir At-Thabari

At-Thabari dalam tafsirnya menyoroti bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang kepastian kematian, tetapi juga tentang kepastian kebangkitan dan kembalinya manusia kepada Allah SWT. Ia menafsirkan bahwa frasa "tsumma ilaina turja'un" (kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan) sebagai penegasan adanya hari kebangkitan dan perhitungan amal. At-Thabari menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi peristiwa tersebut.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads