Kematian adalah sebuah kepastian yang akan dialami oleh setiap makhluk bernyawa. Kebenaran ini dijelaskan dalam Al-Qur'an melalui sebuah ayat, yaitu "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut". Ayat ini merupakan peringatan bagi umat Islam bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara, dan akhir dari perjalanan adalah kembali kepada Sang Pencipta.
Berikut penjelasan lengkap tentang bacaan, terjemahan, dan tafsir ayat "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut".
Bacaan Ayat Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut
Terdapat tiga potongan ayat dalam tiga surat di Al-Qur'an yang memiliki bacaan "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut". Berikut merupakan bacaan Arab, latin, dan artinya dari ketiga ayat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Surat Al-Ankabut ayat 57
ŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲØŗŲ Ø°ŲØ§Û¤ŲŲŲŲŲØŠŲ اŲŲŲ ŲŲŲØĒŲÛ ØĢŲŲ ŲŲ Ø§ŲŲŲŲŲŲŲØ§ ØĒŲØąŲØŦŲØšŲŲŲŲŲ
Arab-Latin: Kullu nafsin dhÄ'iqatul-maut(i), thumma ilainÄ turja'ÅĢn.
Artinya: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan."
2. Surat Ali Imran ayat 185
ŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲØŗŲ Ø°ŲØ§Û¤ŲŲŲŲŲØŠŲ اŲŲŲ ŲŲŲØĒŲÛ ŲŲØ§ŲŲŲŲŲ ŲØ§ ØĒŲŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ø§ŲØŦŲŲŲØąŲŲŲŲ Ų ŲŲŲŲŲ Ų Ø§ŲŲŲŲŲŲ°Ų ŲØŠŲ Û ŲŲŲ ŲŲŲ Ø˛ŲØŲØ˛ŲØŲ ØšŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲØ§ØąŲ ŲŲØ§ŲØ¯ŲØŽŲŲŲ Ø§ŲŲØŦŲŲŲŲØŠŲ ŲŲŲŲØ¯Ų ŲŲØ§Ø˛Ų Û ŲŲŲ ŲØ§ اŲŲØŲŲŲ°ŲØŠŲ Ø§ŲØ¯ŲŲŲŲŲŲØ§Ų اŲŲŲŲØ§ Ų ŲØĒŲØ§ØšŲ اŲŲØēŲØąŲŲŲØąŲ
Arab-Latin: Kullu nafsin dhÄ'iqatul-maut(i), wa innamÄ tuwaffauna ujÅĢrakum yaumal-qiyÄmah(ti). Faman zuá¸Ĩziá¸Ĩa 'anin-nÄri wa udkhilal-jannata faqad fÄz(a), wa mal-á¸ĨayÄtud-dun-yÄ illÄ matÄ'ul-ghurÅĢr(i).
Artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."
3. Surat Al-Anbiya ayat 35
ŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲØŗŲ Ø°ŲØ§Û¤ŲŲŲŲŲØŠŲ اŲŲŲ ŲŲŲØĒŲÛ ŲŲŲŲØ¨ŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų Ø¨ŲØ§ŲØ´ŲŲØąŲŲ ŲŲØ§ŲŲØŽŲŲŲØąŲ ŲŲØĒŲŲŲØŠŲ ÛŲŲØ§ŲŲŲŲŲŲŲØ§ ØĒŲØąŲØŦŲØšŲŲŲŲŲ
Arab-Latin: Kullu nafsin dhÄ'iqatul-maut(i), wa nablÅĢkum bisy-syarri wal-khairi fitnah(tan), wa ilainÄ turja'ÅĢn.
Artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan."
Baca juga: 7 Tanda Orang Akan Meninggal Menurut Islam |
Tafsir Ayat "Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut" Menurut Ulama
Tafsir Ash-Shaawiy syekh Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki
Tafsir Ash-Shaawiy syekh Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki menafsiri bahwa setiap yang memiliki jasad pasti akan merasakan kematian (dengan dicabutnya ruh dari jasad) tetapi ruh tidak akan mati. Keumuman ayat yang sudah dijelaskan di atas yakni surat Ali Imran ayat 185 mencakup syuhada, para nabi, dan malaikat. Semuanya pasti akan merasakan kematian.
Tafsir Ibnu Katsir
Dalam tafsir Ibn Katsir, yang membahas surat Al Ankabut ayat 57 juga dijelaskan atas kekuasaan Allah. Ma-nusia yang awalnya tiada, kemudian Allah jadikan dia ada di muka bumi ini. Semua pasti akan mati, kemudian dibangkitkan kembali setelah kematian itu.
Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata "dzaiqah" (merasakan) dalam ayat ini menunjukkan bahwa kematian adalah suatu pengalaman yang akan dirasakan oleh setiap jiwa. Ia menafsirkan bahwa proses kematian bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan suatu fase transisi yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Al-Qurthubi juga menekankan bahwa ayat ini menjadi peringatan bagi manusia untuk tidak terlena dengan kehidupan dunia.
Tafsir At-Thabari
At-Thabari dalam tafsirnya menyoroti bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang kepastian kematian, tetapi juga tentang kepastian kebangkitan dan kembalinya manusia kepada Allah SWT. Ia menafsirkan bahwa frasa "tsumma ilaina turja'un" (kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan) sebagai penegasan adanya hari kebangkitan dan perhitungan amal. At-Thabari menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi peristiwa tersebut.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Kisah Wanita Pemberani 'Sang Perisai Rasulullah' di Perang Uhud
MUI: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Keterlibatan RI di Board of Peace