Surat Al-Hujurat Ayat 13 dan Tafsirnya tentang Keberagaman Umat Manusia

Surat Al-Hujurat Ayat 13 dan Tafsirnya tentang Keberagaman Umat Manusia

Devi Setya - detikHikmah
Jumat, 29 Agu 2025 14:50 WIB
Surat Al Alaq 1-5 Arab, Latin, dan Artinya Beserta Cara Mengamalkannya
Al-Qur'an surat Al Hujurat Foto: MdjihadHossen/Pixabay
Jakarta -

Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam tidak hanya membicarakan soal ibadah, tetapi juga menyentuh aspek sosial, etika, dan kemanusiaan. Salah satu ayat yang sangat penting dalam membangun hubungan antarmanusia adalah Surat Al-Hujurat ayat 13.

Ayat ini menekankan nilai kesetaraan, persaudaraan, serta pentingnya ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Surat Al-Hujurat Ayat 13

Berikut bacaan lengkap surat Al Hujurat ayat 13,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

ADVERTISEMENT

Arab-Latin: Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Tafsir dan Asbabun Nuzul Surat Al-Hujurat Ayat 13

Surat Al-Hujurat ayat 13 merupakan salah satu ayat Al-Qur'an yang menekankan pentingnya etika dalam menyikapi keragaman umat manusia. Dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI, ayat ini dijelaskan sebagai pedoman agar manusia tidak terjebak pada sikap merendahkan orang lain hanya karena perbedaan bangsa, suku, keturunan, kedudukan, atau warna kulit.

Allah SWT menegaskan bahwa segala perbedaan tersebut diciptakan bukan untuk menjadi bahan ejekan atau kebanggaan yang melahirkan kesombongan, melainkan sebagai sarana untuk saling mengenal, menghormati, dan menolong satu sama lain.

Kemuliaan Manusia Menurut Al-Qur'an

Dikutip dari buku Urgensi Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam karya A. Syathori, ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada status sosial, keturunan, atau kekayaan, tetapi pada tingkat ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam pandangan-Nya, orang yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa.

Rasulullah SAW pun menegaskan hal ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban dan Tirmidzi dari Ibnu Umar. Beliau menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa, merekalah yang mulia di sisi Allah. Kedua, orang-orang yang durhaka dan berbuat maksiat, merekalah yang hina di sisi-Nya.

Dengan demikian, Islam menolak segala bentuk diskriminasi yang hanya menilai manusia dari faktor lahiriah. Sebaliknya, Islam memuliakan orang berdasarkan amal dan ketakwaannya.

Asbabun Nuzul Surat Al-Hujurat Ayat 13

Dikutip dari buku Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an karya Imam As-Suyuthi, turunnya ayat ini tidak lepas dari beberapa peristiwa yang menunjukkan adanya sikap merendahkan sesama manusia.

Salah satunya diriwayatkan oleh Abu Dawud. Ketika itu seorang sahabat bernama Abu Hindin hendak dinikahkan dengan seorang perempuan dari suku Bani Bayadah. Namun sebagian orang dari suku tersebut merasa keberatan. Mereka memandang rendah Abu Hindin dengan berkata, "Apakah pantas kami mengawinkan gadis-gadis kami dengan budak-budak?" Ucapan ini jelas menunjukkan adanya kesombongan berbasis status sosial. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk meluruskan pandangan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usulnya, melainkan oleh ketakwaannya.

Riwayat lain datang dari Abu Mulaikah. Kisah ini terjadi saat peristiwa Fathul Makkah pada tahun 8 H. Rasulullah SAW memerintahkan sahabat Bilal bin Rabbah, seorang mantan budak berkulit hitam, untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan azan. Sebagian orang Quraisy merasa keberatan dan mencemooh dengan berkata, "Muhammad tidak menemukan orang lain untuk berazan kecuali burung gagak hitam ini?" Sikap merendahkan Bilal tersebut kemudian diluruskan Allah melalui turunnya ayat ini, menegaskan bahwa warna kulit tidak menentukan kemuliaan seseorang.




(dvs/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads