Bagaimana Islam Memandang Sikap Toleransi Beragama?

Bagaimana Islam Memandang Sikap Toleransi Beragama?

Azkia Nurfajrina - detikHikmah
Rabu, 14 Des 2022 08:00 WIB
Bagaimana Islam Memandang Sikap Toleransi Beragama?
Toleransi agama dalam Islam. Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Jakarta -

Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam, terlihat dari adanya sejumlah tradisi, suku, budaya, hingga agama. Tentu dalam kemajemukan ini terselip harapan agar sesama warganya bisa terus berperilaku toleran. Lalu bagaimana Islam memandang sikap toleransi ini?


Mengutip buku Tren Pluralisme Agama oleh Anis Malik Thoha, pandangan Islam mengenai toleransi terungkap dalam Surah Al-Baqarah ayat 256: "Laa ikraha fii ad-diin" artinya tak ada paksaan dalam menganut agama Islam.


Dikatakan bahwa kala diturunkannya ayat tersebut, belum dikenal adanya term toleransi. Sehingga untuk pertama kalinya Islam mengenalkan makna toleransi dari wahyu yang Allah SWT kepada Nabi SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Setelah istilah ini lahir dari dunia barat, Islam memperbincangkan padanan kata yang cocok dengan kata toleransi. Kemudian digunakanlah sebutan tasamuh untuk bahasa baku dari toleransi.


Makna Toleransi dalam Islam


Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa toleransi adalah tasamuh dalam bahasa Arab. Adapun makna tasamuh menurut bahasa dalam buku Berislam Secara Moderat oleh Khoirul Anwar, berarti memberi dengan kemurahan hati.

ADVERTISEMENT


Sementara tasamuh secara istilah bisa memiliki definisi berikut;

Menghormati pendirian yang berbeda (ihtiram mauqif al-mukhalif)

Menerima perbedaan dan bersikap halus dalam berinteraksi dengan semua orang serta tidak membeda-bedakannya (qabul al-mukhtalif wa al-layyin fi al-muamalah wa 'adam al-tamyizi baina al-nas)


Ulama Muhammad Abid al-Jabiri dalam kitab Qadaya fi al-Fikr al-Mu'asir, memberi pengertian perihal toleransi dalam perbedaan beragama, yakni:


'Tidak melampaui batas atau ekstrem di dalam beragama, dan menempuh jalan kemudahan dalam beragama, yakni jalan yang terbaik, serta menghormati hak minoritas pemeluk agama dalam menjalankan keyakinannya tanpa melakukan pembatasan atau penekanan kepadanya.'


Al-Jabiri memaknai toleransi sebagai wujud penghargaan terhadap sejumlah praktik keagamaan dalam suatu agama, serta penghormatan akan banyak agama dalam masyarakat. Sebab baginya, pluralitas yang ada ini merupakan bagian dari peradaban manusia yang tak bisa dilenyapkan begitu saja.


Dengan artian, toleransi agama bukanlah membiarkan atau tidak peduli terhadap orang lain yang berbeda, melainkan memberikan rasa hormat dengan berperilaku adil, yakni memberi hak serta kewajiban yang sebagaimana perlu diberikan.


Adapun toleransi juga mengharuskan golongan mayoritas suatu agama dalam mayarakat, untuk melepaskan sikap penguasaan dan pengaruhnya yang kuat terhadap kelompok di luar mereka.


Faktor yang Mendasari Sikap Toleransi


Dalam buku Tren Pluralisme Agama, ulama Al-Qardhawi menguraikan empat hal yang melandasi kaum muslim agar berperilaku toleran terhadap kalangan selain agamanya:


Keyakinan muslim akan hak setiap manusia untuk dihormati, terlepas dari agama, bangsa, dan sukunya. Sebagaimana sikap yang dicerminkan oleh Nabi SAW dalam hadits dari Jabir bin Abdullah:


'Ketika melewati jenazah yang sedang ditandu, beliau berdiri dan menatap. Lalu seorang sahabat berkata, ' Wahai Rasulullah, ini jenazah seorang Yahudi.' Beliau menjawab, "Bukankah ia seorang manusia?" (HR Bukhari)


Memahami bahwa perbedaan manusia perihal agama merupakan kehendak Allas SWT. Sebagai hamba, tugas kita hanya perlu menjalani kehidupan dengan penuh sikap menghargai, dan yakin bahwa semua ini memiliki hikmah tersendiri.


Kalam Allah dalam Surah Yunus ayat 99:


ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲˆŲ’ Ø´ŲŽØ§Û¤ØĄŲŽ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŲƒŲŽ Ų„ŲŽØ§Ų°Ų…ŲŽŲ†ŲŽ Ų…ŲŽŲ†Ų’ ؁ؐ؉ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŽØąŲ’Øļؐ ŲƒŲŲ„Ų‘ŲŲ‡ŲŲ…Ų’ ØŦŲŽŲ…ŲŲŠŲ’ØšŲ‹Ø§Û— Ø§ŲŽŲŲŽØ§ŲŽŲ†Ų’ØĒŲŽ ØĒŲŲƒŲ’ØąŲŲ‡Ų Ø§Ų„Ų†Ų‘ŲŽØ§ØŗŲŽ Ø­ŲŽØĒŲ‘Ų°Ų‰ ŲŠŲŽŲƒŲŲˆŲ’Ų†ŲŲˆŲ’Ø§ Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ


Arab Latin: Walau syā`a rabbuka la`āmana man fil-arḍi kulluhum jamÄĢ'ā, a fa anta tukrihun-nāsa á¸Ĩattā yakáģĨnáģĨ mu`minÄĢn


Artinya: Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?


Tak adanya perintah untuk mengadili atau menghukum kemusyrikan orang non-muslim. Umat Islam meyakini bahwa Allah lah yang akan bertindak atas kesesatan mereka di hari akhir nanti. Sehingga tak perlu adanya konflik dalam umat beragama.


Meyakini bahwa Allah mensyariatkan hamba-Nya untuk berbuat adil dan mengajak umat lain kepada kebaikan akhlak. Bahkan Allah mengecam perilaku zalim yang ditujukan kepada non-muslim, sesuai dalam Surah Al-Maidah ayat 8:


ŲŠŲ°Ų“Ø§ŲŽŲŠŲ‘ŲŲ‡ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ Ø§Ų°Ų…ŲŽŲ†ŲŲˆŲ’Ø§ ŲƒŲŲˆŲ’Ų†ŲŲˆŲ’Ø§ Ų‚ŲŽŲˆŲ‘ŲŽØ§Ų…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ؄ؐ؄ؑذ؇ؐ Ø´ŲŲ‡ŲŽØ¯ŲŽØ§Û¤ØĄŲŽ Ø¨ŲØ§Ų„Ų’Ų‚ŲØŗŲ’ØˇŲÛ– ŲˆŲŽŲ„ŲŽØ§ ŲŠŲŽØŦŲ’ØąŲŲ…ŲŽŲ†Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ Ø´ŲŽŲ†ŲŽØ§Ų°Ų†Ų Ų‚ŲŽŲˆŲ’Ų…Ų ØšŲŽŲ„Ų°Ų“Ų‰ Ø§ŲŽŲ„Ų‘ŲŽØ§ ØĒŲŽØšŲ’Ø¯ŲŲ„ŲŲˆŲ’Ø§ Û—Ø§ŲØšŲ’Ø¯ŲŲ„ŲŲˆŲ’Ø§Û— Ų‡ŲŲˆŲŽ Ø§ŲŽŲ‚Ų’ØąŲŽØ¨Ų ؄ؐ؄ØĒŲ‘ŲŽŲ‚Ų’ŲˆŲ°Ų‰Û– ŲˆŲŽØ§ØĒŲ‘ŲŽŲ‚ŲŲˆØ§ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ Û—Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ ØŽŲŽØ¨ŲŲŠŲ’ØąŲŒÛĸ Ø¨ŲŲ…ŲŽØ§ ØĒŲŽØšŲ’Ų…ŲŽŲ„ŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ


Arab Latin: Yā ayyuhallaÅŧÄĢna āmanáģĨ káģĨnáģĨ qawwāmÄĢna lillāhi syuhadā`a bil-qisáš­i wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin 'alā allā ta'diláģĨ, i'diláģĨ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabÄĢrum bimā ta'maláģĨn


Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads