Umrah Ramadan dan Spirit Haji Perempuan

Kolom Hikmah

Umrah Ramadan dan Spirit Haji Perempuan

Puji Raharjo Soekarno - detikHikmah
Sabtu, 28 Feb 2026 16:02 WIB
Muslims gather during the holy month of Ramadan at the Grand Mosque in the holy city of Mecca, Saudi Arabia, February 18, 2026. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
Jakarta -

Ibadah haji sering dipahami sebagai puncak rukun Islam yang menuntut kesiapan fisik, biaya, dan kesempatan yang tidak selalu mudah diperoleh. Tidak semua orang dapat segera memenuhi panggilan itu. Dalam satu peristiwa setelah Haji Wada', haji yang seka-kalinya dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi Muhammad SAW. menghadirkan keluasan makna ibadah. Beliau menyapa seorang perempuan yang belum sempat berhaji, lalu membuka pintu harapan melalui umrah di bulan Ramadan.

Sejak masa itu, sabda beliau tentang keutamaan umrah Ramadan hidup dalam ingatan umat. Ia menjadi akar historis dari fenomena yang kita saksikan hari ini. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi penuh pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Jutaan muslim dari berbagai negeri berbondong-bondong menunaikan umrah, membawa kerinduan dan harapan akan pahala yang agung. Ramainya umrah di bulan suci bukan sekadar tren perjalanan religi, melainkan jejak panjang yang berakar dari sabda Nabi SAW.

Hadis ini bukan hanya berbicara tentang pahala. Ia memuat pesan tentang perhatian Nabi SAW. kepada perempuan, tentang realitas sosial keluarga yang kadang membatasi langkah, dan tentang kemurahan Allah yang selalu menyediakan jalan kebaikan bagi siapa pun yang belum mampu menunaikan haji. Di tengah antrean panjang dan keterbatasan yang nyata, sabda itu tetap relevan dan terus menghidupkan semangat menuju Baitullah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Fase Ampunan

Dalam Sahih al-Bukhari diriwayatkan:

ADVERTISEMENT

لَمَّا رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَجَّتِهِ قَالَ لِأُمِّ سِنَانٍ الأَنْصَارِيَّةِ مَا مَنَعَكِ مِنَ الحَجِّ
قَالَتْ أَبُو فُلَانٍ تَعْنِي زَوْجَهَا كَانَ لَهُ نَاضِحَانِ حَجَّ عَلَى أَحَدِهِمَا وَالآخَرُ يَسْقِي أَرْضًا لَنَا
قَالَ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِي

Artinya: "Ketika Nabi SAW kembali dari hajinya, beliau bertanya kepada Ummu Sinan al-Ansariyah, "Apa yang menghalangimu untuk berhaji?" Ia menjawab, "Suamiku memiliki dua unta. Ia berhaji dengan salah satunya dan yang lain digunakan untuk mengairi kebun kami." Beliau bersabda, "Sesungguhnya umrah pada bulan Ramadan menyamai haji bersamaku."

Dialog sederhana ini menyimpan kehangatan yang menenangkan. Rasulullah SAW. tidak menegur, tidak pula menyudutkan alasan yang disampaikan. Beliau memahami bahwa dalam kehidupan rumah tangga ada pertimbangan ekonomi, ada keterbatasan alat, ada tanggung jawab yang harus dijaga. Beliau melihat kenyataan itu dengan empati.

Di situlah letak keindahannya. Ketika satu kesempatan belum bisa diraih, Rasulullah SAW. tidak membiarkan hati perempuan itu tenggelam dalam rasa kecewa. Beliau menghadirkan harapan. Beliau menunjukkan bahwa Allah tidak menutup jalan kebaikan hanya karena keterbatasan sarana. Masih ada ruang ibadah yang besar nilainya. Masih ada pintu yang bisa diketuk dengan penuh rindu.

Dalam syarah Irsyad al-Sari dijelaskan:

يعني في الثواب وليس المراد أن العمرة تقضي بها فرض الحج وإن كان ظاهره يشعر بذلك بل هو من باب المبالغة وإلحاق الناقص بالكامل للترغيب فيه

Artinya:
Yang dimaksud adalah kesetaraan dalam pahala, bukan berarti umrah menggugurkan kewajiban haji, walaupun secara lahir tampak demikian. Ini adalah bentuk penegasan dan dorongan agar orang terdorong melakukannya.

Penjelasan ini penting. Umrah Ramadan tidak menggantikan kewajiban haji. Ia menyamai dalam pahala, bukan dalam hukum. Haji tetap wajib bagi yang mampu. Namun bagi yang belum mendapat kesempatan, Allah membuka pintu pahala yang luas.

Syarah Irsyadus Syari juga menegaskan sisi lain hadis ini. Disebutkan:

ومطابقة الحديث للترجمة في قوله ما منعك من الحج فإن فيه دلالة على أن النساء يحججن

Artinya:
Kesesuaian hadis ini dengan bab "Haji Perempuan" terletak pada sabda beliau "Apa yang menghalangimu untuk berhaji", karena di dalamnya terdapat dalil bahwa perempuan juga wajib berhaji.

Di sini tampak bahwa perempuan adalah subjek ibadah yang utuh. Mereka ditanya tentang kesiapan haji, diperhatikan keadaannya, dan diberi solusi atas keterbatasan.

Hadis ini juga memberi pelajaran sosial. Ummu Sinan tidak berhaji karena alat transportasi yang terbatas dan kebutuhan ekonomi keluarga. Haji pada masa itu memerlukan kendaraan. Keputusan keluarga mempertimbangkan keberlangsungan hidup. Nabi SAW. memahami realitas itu. Beliau tidak memaksa, tetapi mengarahkan kepada kesempatan lain.

Bagi kita hari ini, pelajaran hadis ini tetap terasa dekat. Tidak semua orang langsung mampu berhaji. Daftar tunggu panjang, kemampuan finansial terbatas, serta tanggung jawab keluarga sering kali membuat langkah tertunda. Di tengah kondisi itu, umrah Ramadan menjadi pilihan yang sangat diminati. Setiap tahun kita menyaksikan lonjakan jemaah di bulan suci. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipenuhi lautan manusia, terutama pada sepuluh malam terakhir. Suasana ibadah memang sangat kuat, tetapi kepadatan juga menuntut kesiapan fisik dan manajemen yang matang.

Karena itu, semangat menuju Baitullah harus disertai kehati-hatian. Jangan sampai kerinduan dimanfaatkan oleh penyelenggara yang tidak bertanggung jawab. Pastikan visa yang digunakan jelas dan sesuai aturan. Pastikan akomodasi benar-benar tersedia dan layak. Pastikan konsumsi dan transportasi tertata. Pastikan layanan selama perjalanan aman dan nyaman. Ramainya umrah Ramadan bukan hanya tentang pahala, tetapi juga tentang perlindungan jemaah. Ibadah harus dijalankan dengan tenang, bukan dengan kecemasan akibat persoalan administratif atau pelayanan yang bermasalah. Kerinduan itu mulia, dan ia harus dijaga dengan ikhtiar yang cermat.

Hadis tentang Ummu Sinan mengingatkan kita bahwa pintu ibadah tidak pernah tertutup bagi hati yang tulus. Haji tetap kewajiban bagi yang mampu, sementara umrah di bulan Ramadan adalah peluang pahala yang besar, bukan pengganti kewajiban, tetapi penguat semangat dan pengikat rindu kepada Baitullah. Di tengah antrean panjang dan berbagai keterbatasan hidup, yang harus dijaga adalah api kerinduan itu. Yang belum berangkat tetap bisa mendekat dengan amal dan doa. Yang sudah berhaji pun tetap membutuhkan sentuhan Ramadan agar makna hajinya tidak berhenti pada perjalanan fisik, tetapi tumbuh menjadi kematangan akhlak dan kedekatan kepada Allah. Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk menunaikan haji dengan sempurna, menjaga niat kita tetap lurus, dan menerima setiap langkah kecil kita menuju rumah-Nya.

Puji Raharjo Soekarno
Penulis adalah Direktur Jenderal Bina Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah Indonesia.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(lus/lus)
ramadan penuh hikmah

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads