Kementerian Haji dan Umrah bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri untuk mencegah jemaah nakal yang ingin mengakali antrean agar bisa berangkat haji lebih cepat.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf yakin apabila data calon jemaah yang ada di SISKOHAT sudah dipadupadankan dengan data yang ada di Dukcapil, maka tak lagi ada upaya atau permainan nakal agar jemaah tertentu bisa berangkat lebih cepat.
"Saya yakin, saya percaya kalau data ini sudah klop sudah terpadu dengan baik tentu tidak akan ada lagi upaya-upaya, permainan-permainan, akal-akalan agar bisa berangkat lebih cepat," kata Gus Irfan --sapaan akrabnya-- dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Menhaj menjelaskan beberapa poin yang sering jadi celah oknum. Misalnya seperti jemaah yang meninggal digantikan oleh ahli warisnya namun justru yang berangkat orang lain, bukan ahli warisnya.
"Di sinilah permainan bagaimana orang meninggal itu yang bukan anaknya menjadi anaknya," sambung Gus Irfan.
Selain itu, ada juga oknum yang memalsukan usia jadi lebih tua. Tujuannya agar mendapat prioritas percepatan lansia dan pendampingan haji.
"Ada beberapa hal yang usianya sebetulnya 50 diubah menjadi hampir 70. Kenapa? Untuk mendapatkan dua keuntungan. Keuntungan pertama bisa mendapatkan prioritas percepatan lansia. Yang kedua bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendampingan haji," terang Gus Irfan.
Oleh karena itu, melalui kerja sama yang dilakukan dengan Kemendagri diharapkan hal-hal seperti itu bisa teratasi.
"Dan ini saya yakin dengan kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri kita akan bisa mengatasi hal-hal seperti ini," tandasnya
