Wamenhaj Dahnil Ungkap Sosok Pemain Kartel Haji, Siapa Mereka?

Wamenhaj Dahnil Ungkap Sosok Pemain Kartel Haji, Siapa Mereka?

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 09 Jul 2026 09:50 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak
Foto: Istimewa
Jakarta -

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan praktik kartel dalam penyelenggaraan ibadah haji masih menjadi persoalan serius. Menurutnya, praktik tersebut bukan sekadar dugaan, melainkan fakta yang ditemukan di berbagai lini penyelenggaraan haji.

"Jadi Bapak Ibu sekalian, ini ingin saya katakan, saya dimarahi banyak ormas, ulama. Saya sering menggunakan istilah ada kartel haji. Memang iya, Pak. Bapak sekalian mau marah saya sebutkan ada kartel haji, itu ada faktanya. Kartel haji itu fakta, Pak. Hampir di semua lini itu ada kartelnya," kata Dahnil dalam kegiatan Rapat Kerja Kementerian Haji dan Umrah di Asrama Haji Jakarta, Rabu (9/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, hal yang paling memprihatinkan bukan hanya keberadaan kartel tersebut, tetapi juga sosok yang diduga terlibat di dalamnya. Dahnil mengatakan sebagian pelaku justru merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama atau dikenal sebagai tokoh agama di masyarakat.

"Yang menyedihkan adalah pelaku kartel-kartel ini, kartel haji, adalah orang-orang yang paham agama. Mohon maaf Pak, para ustaz, para kiai, bisa jadi dari ormas macam-macam," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Kemenhaj Perketat Pengawasan KBIH

Sebagai bagian dari upaya pemberantasan praktik tersebut, Kementerian Haji dan Umrah memperketat pengawasan terhadap penyelenggara bimbingan ibadah haji, termasuk Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH/KBIHU).

Dahnil mengatakan pemerintah melakukan razia terhadap sejumlah KBIH yang diduga melakukan praktik penyimpangan selama musim haji.

"Kemarin kami agak ketat Pak, KBIH, KBIHU, semuanya kami razia. Bapak Ibu tahu nggak berapa miliar yang terpaksa kami sita dan kami OTT?" ungkapnya.

Menurut Dahnil, pengawasan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian yang dibentuk khusus di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah. Direktorat tersebut, kata dia, diperkuat oleh personel yang memiliki pengalaman di bidang pemberantasan korupsi.

"Kebetulan di Haji itu ada Dirjen Pengendalian, Pak. Isinya teman-teman KPK yang kami rekrut di sini. Jadi di haji itu ada Dirjen Pengendalian namanya. Ini yang melakukan kendali terhadap praktik-praktik yang tidak sesuai di haji," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Dahnil juga mengungkap adanya dugaan penipuan berkedok layanan ibadah haji, seperti badal dan dam. Menurutnya, praktik tersebut mampu menghasilkan uang dalam jumlah sangat besar selama musim haji.

"Pak, yang kami tangkap langsung yang dilakukan oleh teman-teman KBIH misalnya, ada satu KBIH yang melakukan penipuan badal, penipuan dam. Dia bisa mengumpulkan puluhan miliar pada saat musim haji. Ada yang kami OTT dia sudah ngumpulin Rp2 miliar, Rp1,4 miliar. Itu kami tangkap-tangkapin karena kita tangkap di luar yurisdiksi hukum kita, maka nanti pas kembali itu langsung diambil oleh Polda. Misal Jawa Barat, ada beberapa yang langsung ketika mendarat itu langsung diambil, Pak," katanya.

Ia menyebut para terduga pelaku yang diamankan selanjutnya diserahkan kepada aparat penegak hukum di Indonesia karena penindakan dilakukan di luar wilayah yurisdiksi hukum nasional.

Pelaku Disebut Mengaku sebagai Tokoh Agama

Dahnil kembali menyoroti latar belakang sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam praktik tersebut. Menurutnya, persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh elemen umat Islam.

"Pelakunya siapa? Mohon maaf, ini PR kita semua yang berasal dari ormas. Yang ustaz, yang berstatus ustaz, mengaku dirinya ustaz, mengaku dirinya ajengan, mengaku dirinya kiai. Ini PR kita semuanya dari kelompok Islam," ujarnya.

Ia bahkan mengungkapkan salah satu pengalaman saat petugas mengamankan seorang pengurus KBIH yang diduga membawa uang hasil penipuan dam.

"Bahkan ada satu pengurus KBIH yang tertangkap begitu, dia bawa Rp1,4 miliar dari penipuan-penipuan dam. Itu ketika ditangkap oleh petugas kami, apa Pak yang ditawarkan? 'Pak, kita bagi dua aja.' Bagi dua, Pak! Tapi kemudian tetap kita amankan, kemudian ditangkap di Jawa Barat," ungkap Dahnil.

Di akhir pernyataannya, Dahnil menegaskan bahwa praktik-praktik penyimpangan tersebut bertentangan dengan nilai ibadah haji. Menurutnya, haji semestinya menjadi momen untuk memperbaiki akhlak dan membangun peradaban, bukan dijadikan ajang mencari keuntungan dengan cara melanggar aturan.

"Saya mau katakan apa? Ini masalah peradaban dan keadaban, Pak. Islam, agama kita, harusnya itu menjadi-apalagi ibadah haji-itu harusnya menjadi sarana untuk memperbaiki peradaban dan keadaban," pungkasnya.




(dvs/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads