Niat Puasa Zulhijah dan Ganti Puasa Ramadan Arab, Latin, dan Artinya

Niat Puasa Zulhijah dan Ganti Puasa Ramadan Arab, Latin, dan Artinya

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Jumat, 22 Mei 2026 20:00 WIB
Happy Muslim family together making iftar dua to break fasting during Ramadan at the dining table at home focus on a bowl of dates. . High quality photo
Ilustrasi membaca niat puasa Zulhijah dan ganti puasa Ramadan. Foto: Getty Images/Malik Nalik
Jakarta -

Niat puasa Zulhijah dan ganti puasa Ramadan menjadi salah satu hal yang banyak dicari umat Islam menjelang bulan Zulhijah. Sebab, sebagian orang masih memiliki utang puasa Ramadan namun ingin tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah di awal Zulhijah.

Dalam Islam, terdapat pembahasan mengenai hukum menggabungkan niat puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah Zulhijah. Karena itu, penting mengetahui bacaan niat puasa dalam tulisan Arab, latin, dan artinya agar ibadah dapat dilaksanakan dengan benar.

Puasa Zulhijah

Puasa Zulhijah adalah salah satu puasa sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan pada awal bulan Zulhijah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam buku Meraih Surga dengan Puasa karya H. Herdiansyah Achmad disebutkan bahwa puasa ini termasuk amalan sunnah yang dapat dilakukan umat Islam menjelang Hari Raya Idul Adha.

Niat Puasa Zulhijah

نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْحِجَّةِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى

ADVERTISEMENT

Arab latin: Nawaitu shauma-sy-syahri dzilhijjati sunnata-lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya berniat puasa sunnah bulan Zulhijah karena Allah Ta'ala."

Puasa Qadha Ramadan

Dijelaskan dalam Buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah karya Nur Solikhin, puasa qadha Ramadan merupakan puasa yang dilaksanakan untuk mengganti puasa Ramadan yang telah terlewat.

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan puasa qadha Ramadan. Sebagian ulama berpendapat puasa qadha sebaiknya dilakukan secara berurutan apabila puasa yang ditinggalkan sebelumnya juga berurutan. Sementara pendapat lainnya menyebut puasa qadha boleh dilakukan terpisah karena tidak ada dalil yang mewajibkan pelaksanaannya secara berurutan.

Puasa qadha Ramadan dapat dikerjakan sejak bulan Syawal hingga sebelum datangnya Ramadan berikutnya. Meski demikian, umat Islam dianjurkan untuk segera mengganti puasa yang ditinggalkan dan tidak menundanya tanpa alasan.

Niat Puasa Ganti Ramadan

Dalam Buku Praktis Ibadah karya Irwan, Ahmad Jafar, dan Husain dijelaskan bahwa niat puasa qadha dilakukan sebagai bentuk kesungguhan dalam mengganti puasa Ramadan yang pernah ditinggalkan.

Berikut bacaan niat puasa qadha tersebut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرٍ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā.

Artinya: "Saya berniat mengganti (menggadha) puasa bubul Ramadan karena Allah Ta'ala."

Bolehkah Menggabungkan Puasa Ganti Ramadan dan Puasa Zulhijah?

Dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Islam (Akidah, Ibadah, Muamalah, Tematik) karya Dr. Makmur Dongoran, menggabungkan puasa wajib dengan puasa sunnah dikenal dengan istilah at-tasyrik. Maksudnya, seseorang mengerjakan puasa qadha Ramadan bersamaan dengan puasa sunnah, seperti puasa Zulhijah, puasa Senin Kamis, maupun puasa sunnah lainnya.

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum penggabungan niat puasa tersebut karena tidak terdapat dalil yang secara tegas membahasnya. Meski begitu, qadha puasa Ramadan sebenarnya tidak diwajibkan dilaksanakan langsung pada bulan tertentu setelah Ramadan berakhir. Hal ini merujuk pada riwayat Aisyah RA yang terkadang mengganti puasa Ramadan hingga bulan Sya'ban.

Sebagian ulama dari mazhab Syafi'iyah membolehkan penggabungan niat puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah Zulhijah. Pendapat ini juga difatwakan oleh Lembaga Fatwa Mesir.

Imam As-Suyuthi dan Imam Ar-Ramli menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat memperoleh pahala puasa wajib sekaligus pahala puasa sunnah apabila keduanya diniatkan bersamaan. Meski demikian, mereka menilai memisahkan puasa wajib dan sunnah tetap lebih utama.

Sementara itu, sebagian ulama lain seperti Syaikh bin Bāz, dan Syaikh Dr. Abdurrahman Ali Al-Askar, dan Syaikh Dr. Muhammad bin Hassan tidak membolehkan penggabungan niat puasa qadha dengan puasa sunnah. Menurut pendapat ini, apabila kedua niat digabungkan, maka yang dianggap sah adalah puasa qadha Ramadan, sedangkan pahala puasa sunnah tidak diperoleh secara sempurna.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads