Derit roda kendaraan dan suara peluit di Pasar Pon, Purwokerto Barat, sudah menjadi "musik" harian bagi Sucipto selama 25 tahun terakhir. Siapa sangka, dari uang receh hasil parkir dan peluh keringat menjaga malam, pria berusia 64 tahun ini sukses menembus batas mustahil, berangkat ke Tanah Suci.
Sucipto, warga Kelurahan Sumampir, Banyumas, Jawa Tengah, membuktikan bahwa panggilan haji bukan hanya milik mereka yang berdompet tebal. Dengan penghasilan rata-rata Rp 50 ribu per hari sebagai tukang parkir, ditambah upah Rp 900 ribu per bulan sebagai penjaga malam di perumahan pemda, ia perlahan merangkai mimpi menuju Baitullah.
"Profesi saya tukang parkir, kalau malam bantu jaga keamanan di perumahan. Dari situ saya nabung sedikit-sedikit," ujar Sucipto saat ditemui di kediamannya, Selasa (12/5/2026), dikutip dari Antara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjuangan spiritual ini dimulai Sucipto sejak tahun 2012. Saat itu, ia harus memutar otak luar biasa. Pasalnya, ketiga anaknya masih membutuhkan biaya sekolah. Di tengah himpitan ekonomi, Sucipto tetap disiplin menyisihkan sisa uang hasil parkirnya.
"Kalau habis bayar sekolah anak-anak, ada sisa Rp 40 ribu atau Rp 50 ribu, saya tabung. Sedikit-sedikit," kenangnya.
Awalnya, uang receh itu ia simpan di rumah. Begitu nominalnya cukup, ia segera memindahkannya ke rekening bank. Namun, tabungan harian saja tak cukup untuk menutupi setoran awal pendaftaran. Sucipto pun mengambil keputusan besar dengan menjual sebidang tanah miliknya demi melengkapi biaya setoran awal sebesar Rp 25,5 juta.
Kabar Sucipto naik haji pun menghebohkan lingkungan Pasar Pon dan perumahan tempatnya bekerja. Bagi para pedagang, Pak Sucipto bukan sekadar penjaga parkir, tapi sudah dianggap keluarga. Rasa bangga pun menyeruak di kalangan warga.
"Kadang nelangsa, kadang senang. Warga perumahan pada bangga, nyelameti (memberi selamat) saya. Tiga RT di sana ikut senang," kata Sucipto sembari menunjuk koper haji berwarna gelap yang sudah tertata rapi di sudut ruang tamu.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Banyumas, H. Afifuddin Idrus, menyebut kisah Sucipto adalah bukti nyata kekuatan tekad. Menurutnya, haji bukan soal angka di rekening, tapi soal keimanan dan istiqamah.
"Luar biasa. Ini membuktikan bahwa kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Beliau sudah menunjukkan langkah nyata, istiqamah berusaha hingga akhirnya bisa berangkat," puji Afifuddin.
Menariknya, Sucipto bukan satu-satunya 'pahlawan' dari kalangan masyarakat kecil di Banyumas tahun ini. Berdasarkan data Kemenhaj, ada lebih dari lima jamaah dengan latar belakang serupa, mulai dari penjual peyek hingga pedagang siomay yang sukses memberangkatkan anak-anaknya ke Tanah Suci.
Sucipto dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci pada 14 Mei melalui Embarkasi Solo yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 73. Kini, di sela-sela aktivitasnya meniup peluit parkir, ia lebih banyak berzikir, menyiapkan hati untuk bersimpuh di depan Ka'bah.
(hnh/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha