Bulan Rajab kini telah memasuki fase pertengahan. Sebagai salah satu bulan yang dimuliakan, ini menjadi kesempatan umat Islam untuk memperoleh pahala melalui dzikir. Salah satu dzikir yang dapat diamalkan adalah dzikir bulan Rajab tanggal 11-20.
Untuk itu, berikut panduan dzikir bulan Rajab tanggal 11-20 lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya serta amalan lain yang dapat dilakukan.
Dzikir Bulan Rajab Tanggal 11-20
Dikutip dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, pada pertengahan bulan Rajab tepatnya tanggal 11-20 Rajab, terdapat dzikir yang dapat diamalkan umat Islam untuk memperoleh pahala dan kemuliaan bulan Rajab. Berikut bacaannya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
سُبْحَانَ اللَّهِ الْأَحَدُ الصَّمَدِ
Subhaanallaahil ahadush shamad.
Artinya: "Maha Suci Allah yang Maha Esa, dan semua tergantung kepada-Nya."
Dzikir bulan Rajab tanggal 10-20 tersebut dianjurkan dibaca 100 kali.
Dzikir Bulan Rajab Tanggal 21-30
Mengacu sumber yang sama, setelah membaca dzikir pertengahan bulan Rajab, umat Islam dianjurkan melanjutkan membaca dzikir akhir bulan Rajab, tepatnya tanggal 21-30 Rajab.
Adapun bacaan yang dapat diamalkan pada 21-30 Rajab adalah sebagai berikut:
1. Membaca doa berikut sebanyak 100 kali
سُبْحَانَ اللهِ الرَّؤُوْفِ
Subhaanallaahir ra-uuf.
Artinya: "Maha suci Allah Yang Maha Belas Kasihan."
2. Membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 11 kali
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ٤
Qul huwallāhu aḥad. Allāhuṣ-ṣamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad.
Artinya: Katakanlah, "Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia."
Dzikir Bulan Rajab Tiap Pagi dan Sore
Selain amalan dzikir pada pertengahan dan akhir bulan Rajab, umat Islam juga dapat membaca istighfar Rajab tiap pagi dan sore. Masing-masing sebanyak 70 kali. Berikut bacaannya:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ.
Rabbighfirlii warhamnii watub 'alayya.
Artinya: "Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, dan terimalah taubatku."
Keterangan mengenai bacaan dzikir 70 kali di atas tertera dalam kitab Al-Jami' karya Imam Suyuti. Diriwayatkan dari Ibnu Asakir dari Abi Umamah bahwa Wahab bin Munabbih menuturkan, "Aku membaca dalam kitab Allah yang diturunkan sebelum Al-Qur'an bertuliskan bahwa barang siapa beristigfar di bulan Rajab di pagi dan sore hari dengan mengangkat kedua tangannya seraya berkata, 'Rabbighfirlii warhamnii watub 'alayya' 70 kali, maka kulitnya tidak akan disentuh oleh api neraka."
Memperbanyak Bacaan Tasbih
Umat Islam juga dapat memperbanyak tasbih sepanjang bulan Rajab. Membaca tasbih 100 kali setiap hari disebut bernilai seperti melaksanakan puasa. Bacaan tasbih yang dimaksud adalah sebagai berikut:
سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلَّا لَهُ، سُبْحَانَ الْأَعَزَّ الأَكْرَمِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْعِزَّ وَهُوَ لَهُ أَهْلُ
Subhaana man laa yanbaghit tasbiihu illaa lahuu, subhaanal a'azzal akraam, subhaana man labisal 'izza wahuwa lahu ahlun.
Artinya: "Maha Suci Dzat yang hanya kepada-Nya tasbih dipanjatkan. Maha Suci Dzat Yang Perkasa lagi Mulia. Maha Suci Dzat yang menyandang keperkasaan, dan hanya Dia-lah yang memang pantas menyandangnya."
Doa Dipertemukan dengan Bulan Ramadan
Selain dzikir di atas, pada sepanjang bulan Rajab, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa agar Allah SWT mempertemukan dengan bulan Ramadan. Berikut doa yang dapat dibaca sebagaimana dinukil dari buku Rahasia Kedahsyatan 12 Waktu Mustajab untuk Berdoa oleh Nurhasanah Nanim dari hadits Anas bin Malik RA.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, dia berkata, Rasulullah SAW jika memasuki bulan Rajab, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya'baana wa ballighnaa ramadhana.
Artinya: "Ya Allah berkahilah kepada kami keberkahan dalam bulan Rajab, dan sampaikanlah kami bulan Ramadan." (HR Ahmad & Ath-Thabrani)
Menurut penelusuran detikHikmah, hadits tersebut diriwayatkan oleh perawi yang bermasalah. Imam At-Thabrani mengkategorikan sebagai hadits munkar karena keberadaan Zaidah bin Abir Riqad dalam jajaran perawi, yang oleh para ahli hadits dinilai riwayatnya diingkari.
Imam an-Nawawi turut meriwayatkannya dalam Hilyatul Auliya dengan sanad dhaif, dari Ziad an-Namiri, dari Anas RA.
