Berita tentang hijrahnya Rasulullah SAW. sampailah ke Kabilah Muzainah, di mana perkampungan mereka bersebelahan dengan Yatsrib. an-Nu'man bin Muqarrin al-Muzani pemuka kabilah berkata kepada kaumnya, "Wahai kaum, kita tidak mengetahui tentang Muhammad kecuali kebaikan, kita tidak mendengar dari dakwahnya selain kasih sayang, kebaikan dan keadilan. Mengapa kita tidak bersegera kepadanya padahal orang banyak telah berlomba-lomba untuk mengikutinya?"
Dia melanjutkan, "Aku sendiri berniat kuat untuk berangkat kepadanya esok pagi, siapa di antara kalian yang berminat berangkat bersamaku maka hendaknya dia bersiap-siap."
Keesokan harinya, an-Nu'man bersama sepuluh bersiap mau berangkat diikuti empat ratus penunggang kuda. Ringkas cerita, rombongan ini telah bertemu dengan Rasulullah SAW. dan beliau sangat berbahagia dengan masuknya kabilah ini kedalam Islam dan menerima beberapa ekor domba. Kemudian Allah SWT. menurunkan firman-Nya surah at-Taubah ayat 99 yang terjemahannya, "Di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dia memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai (sarana) mendekatkan diri kepada Allah dan (sarana untuk memperoleh) doa-doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya (infak) itu (suatu sarana) bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayat ini bermakna: Bahwa Rasulullah SAW. selalu mendoakan orang yang menyalurkan zakat dan infak. Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat, yakni surga-Nya, lantaran keikhlasan mereka dalam berinfak; sesungguhnya Allah Maha Pengampun dosa orang-orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh, Maha Penyayang, karena selalu memberi rahmat kepada orang yang bertobat.
Sebelum perang Qadisiyah, Saad bin Abu Waqqash panglima pasukan kaum muslimin mengirimkan delegasi kepada raja Persia Kisra Yazdajurd dengan ketuanya an-Nu'man bin Muqarrin. Pada saat itu kepemimpinan Islam di bawah Khalifah Umar bin Khatab. Singkat cerita Nu'man telah menyampaikan seruannya yang intinya mengajak Raja tersebut untuk memeluk Islam. Raja Persi saking marahnya berkata, "Sesungguhnya aku tidak menemukan suatu umat di bumi ini yang lebih sengsara, lebih sedikit orangnya, lebih bercerai-berai dan lebih buruk keadaannya daripada kalian."
Sampai di sini mari kita ambil hikmahnya: Pertama, Kabilahnya Nu'man telah memperoleh hidayah dari-Nya sehingga mereka bergabung dengan Rasulullah SAW. dan memeluk Islam. Kedua, Nu'man menunjukkan sosok pemberani tanpa rasa takut menyampaikan seruannya di hadapan Raja Kisra (kala itu Persia dan Romawi adalah dua negara raksasa dan Madinah adalah negara kota yang baru berdiri dan sangat kecil ).
Ingatlah bahwa Allah SWT. sesuai dengan kehendak-Nya untuk memberikan hidayah. Hal ini kabilah Nu'man memperolehnya, sesuai dengan firman-Nya surah al-Baqarah 213 yang terjemahannya, "Dan Allah memberikan petunjuk jalan kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus."
Hidayah (petunjuk) diberikan Allah SWT. kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah SWT. adalah sumber segala hidayah, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Dia. Ini termasuk hidayah umum yang diberikan kepada semua makhluk, dan hidayah khusus yang diberikan kepada orang-orang tertentu yang Allah SWT. pilih.
Keberanian yang ditunjukkan Nu'man semata karena menjalankan perintah Allah SWT, atau sering disebut syaja'ah dalam Islam, memiliki dalil-dalil yang kuat. Salah satu dalilnya adalah surah al-Hujurat ayat 15 yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman tidak ragu dan berjuang di jalan Allah SWT. dengan harta dan jiwa mereka. Dalil lain adalah hadis yang menyatakan bahwa "jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim".
Akhir perang Qadisiyah pun terjadi, parit-parit dipenuhi darah musuh Islam dengan jumlah ribuan orang. Orang Persia tidak menyerah atas kekalahan di Qadisiyah dan mereka tetap menyiapkan pasukan sebanyak 150.000 orang-orang yang ahli berperang. Saat diketahui Khalifah Umar maka ditunjuklah an-Nu'man sebagai panglima pasukan.
Kemudian dan pasukannya mendekati musuh, dalam suatu tempat mereka terjebak ranjau darat sehingga para kuda tertancap besi ranjau. Akhirnya Nu'man bersiasat agar pasukan yang terjebak tetap tinggal dan menyalakan lampu saat malam hari dan mereka menunjukkan pura-pura takut dan mundur. Ini telah mengelabui musuh agar mereka mengejar dan selamjutnya musuh membersihkan ranjau jalanan.
Saat kondisi memungkinkan, maka Nu'man dan pasukannya menyerang kembali dan dapat menaklukkan Persia. Inilah sejarah agung yang terukir bahwa pasukan yang jumlahnya kalah besar dengan musuhnya dapat mengalahkannya.
Sejatinya kemenangan ini sesuai janji Allah SWT. Allah SWT menjanjikan kemenangan kepada pasukan Muslim meskipun jumlahnya sedikit jika mereka beriman dan bertakwa kepada-Nya. Dalilnya ada dalam Al-Quran, seperti Surah al-Anfal ayat 1 dan Surah ash-Shaffat ayat 173-179. Dari kedua surah itu menyebutkan bahwa Allah SWT. memastikan kemenangan pasukan muslim karena mereka beriman dan bertakwa.
Semoga Allah SWT. menurunkan kembali sosok yang berkarakter seperti an-Nu'man bin Muqarrin dalam kehidupan saat ini dan masa depan.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).

Komentar Terbanyak
Orang Miskin Masuk Surga 500 Tahun Lebih Dulu Sebelum Orang Kaya
Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian
Mesir dan Turki Tolak Kapal Pesiar LGBTQ , Jaga Nilai Masyarakat Setempat