10 Teks Kultum Singkat 5 Menit tentang Akhlak dan Ibadah

10 Teks Kultum Singkat 5 Menit tentang Akhlak dan Ibadah

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Minggu, 12 Jul 2026 08:00 WIB
Ilustrasi Ceramah Agama.
Ilustrasi Dakwah. Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash
Jakarta -

Akhlak yang baik dan ibadah yang benar merupakan bekal penting bagi setiap muslim. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan tercermin dalam perilaku sehari-hari, sedangkan akhlak yang mulia lahir dari keimanan yang kuat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥū fil-majālisi fafsaḥū yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzū fansyuzū yarfa'illāhul-lażīna āmanū minkum, wal-lażīna ūtul-'ilma darajāt(in), wallāhu bimā ta'malūna khabīr(un).

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, "Berdirilah," (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

ADVERTISEMENT

Ayat tersebut mengingatkan bahwa Allah SWT memuliakan orang-orang yang beriman dan berilmu. Berikut 10 teks kultum singkat tentang akhlak dan ibadah yang dapat dijadikan referensi.

Teks Kultum Singkat 5 Menit tentang Akhlak dan Ibadah

Berikut teks kultum singkat yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Kultum tentang Sabar sebagai Akhlak Mulia

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena telah memberikan kepada kita semua nikmat sehat serta nikmat iman sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang insyaallah mulia ini.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliah menuju zaman ilmiah yang terang benderang seperti sekarang ini. Juga kepada keluarganya, sahabatnya, serta para pengikutnya, dan sampailah kepada kita selaku umatnya. Aamiin.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Allah serta Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kita untuk dapat menjalani hidup dengan lapang dan tenang. Salah satu sifat yang harus kita miliki untuk dapat hidup lapang dan tenang adalah sifat sabar. Kata sabar berasal dari bahasa Arab yang artinya menahan diri. Apabila diartikan dalam kehidupan sehari-hari, maka cakupan artinya sangat luas.

Kita akan semakin mudah untuk dapat bersabar dalam menghadapi cobaan apabila kita semakin sadar akan siapa diri kita sebenarnya. Untuk itu, hal pertama yang dapat kita bangun dalam diri kita adalah dengan menyadari bahwa kapan pun dan di mana pun kita berada, pasti tidak akan pernah lepas dari yang namanya cobaan.

Dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang membahas mengenai balasan bagi orang-orang yang bersabar. Beberapa ayat tentang sabar ada dalam Surah Al-Baqarah ayat 153, 155, 156, dan 157. Untuk ayat 153 berbunyi, yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah SWT bersama orang-orang yang sabar."


Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mengajak saudara semua untuk selalu meningkatkan kualitas sabar kita mengenai apa pun yang telah terjadi dalam hidup kita. Sehingga hati kita dapat lebih tenang dalam menerima apa yang telah Allah takdirkan.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Kultum Akhlak Mulia untuk Meraih Rida Allah

Sahabat, pernahkah kita merasa kagum ketika melihat orang yang begitu mulia akhlaknya?

Ketika bertemu dengannya, begitu tulus senyumnya. Saat kita berada di dekatnya, hati ini terasa sangat nyaman karena luhur budi pekerti dan tutur katanya.

Amanah tubuh yang Allah ciptakan ia gunakan dengan begitu sempurna untuk beribadah dan ikhlas membantu sesama.

Lalu kita berpikir, bagaimana dengan gambaran akhlak pada diri ini? Sangat mudah tersulut emosi, hal kecil dibesar-besarkan, bahkan perhitungan dengan kebaikan yang dilakukan.

Melihat manusia biasa yang memiliki akhlak mulia, kita begitu terpesona. Lalu bagaimana dengan manusia sempurna yang memiliki akhlak paling sempurna, yakni Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang sangat mulia? Sampai Allah mengutus beliau untuk menyempurnakan akhlak dan sebagai rahmatan lil 'alamin.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

"Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur." (HR. Ahmad)

Salah satu kunci untuk memiliki akhlak yang mulia dapat kita raih dengan hati yang ikhlas, hanya berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Orang yang selalu mengingat Allah, orientasi kehidupannya hanya kepada Allah, maka dia akan menjalani kehidupan yang terbaik, sebagaimana ia menginginkan kematian yang baik. Karena kematian yang baik akan kita raih jika kita selalu berpikir, berhati, berkata, beramal, dan berakhlak dengan baik. Sebab seseorang akan dimatikan sesuai dengan kebiasaannya.

Kisah menarik dari Muhammad Ali dan korek apinya. Setiap kali ia berpikir untuk berbuat maksiat, maka ia menyalakan koreknya dan mengarahkannya ke telapak tangan. Semakin terasa panas, ia semakin sadar bahwa api maksiat yang dilakukan di dunia saja sudah begitu panas. Bagaimana dengan siksaan Allah yang sesungguhnya di neraka yang kekal? Na'udzubillah.

Pertanyaannya, apakah kita memiliki rem yang sama dengan beliau? Mencoba membuat daftar bagian-bagian anggota tubuh yang sangat berpotensi untuk tidak berakhlak mulia. Seperti halnya menggigit sedikit lidah ketika akan berbicara yang tidak bermanfaat, bahkan menyakiti orang lain.

Lidah yang sangat berpotensi untuk tidak berakhlak mulia ini bahkan banyak membuat orang tergelincir masuk neraka gara-gara lisan yang terus berdosa, walaupun amalan ibadah wajib dan sunnah sudah sangat rajin dilakukan. Astaghfirullah.

Kita mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan menginginkan berjumpa dengan beliau. Namun, untuk mengikuti apa yang beliau contohkan, mengapa kita belum bersungguh-sungguh meraihnya? Mengapa kita masih mendahulukan hawa nafsu dan ego, dengan memilih-milih berakhlak mulia hanya kepada orang yang baik kepada kita?

Padahal Rasulullah tidak pilih-pilih. Walaupun beliau dizalimi dan disakiti, beliau tidak meminta Allah menurunkan azab kepada mereka. Bahkan Rasulullah tetap berhusnuzan kepada Allah dan tetap mendoakan mereka, hingga keturunan mereka, agar suatu hari Allah mengizinkan mereka beriman kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Masya Allah.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian." (HR. Tirmidzi)

Terkadang, kita merasa sudah melakukan amalan surga dengan menunaikan ibadah wajib dan sunnah. Namun, kita sendiri belum tahu apakah Allah sudah menerima amal ibadah kita atau belum. Kita banggakan amalan itu hingga merasa sangat berharap darinya kita akan masuk surga. Namun, ketika berkaca pada akhlak, rasanya surga itu belum dekat.

Rasanya kita lebih mudah melakukan tahajud dan shaum sunnah dibandingkan berakhlak mulia. Minimal, kita tidak membicarakan keburukan orang lain dan memberikan senyuman yang tulus kepada sesama. Ya, karena amalan akhlak mulia yang melibatkan sesama terasa lebih sulit daripada amalan ibadah yang langsung kita lakukan kepada Allah tanpa melibatkan sesama manusia.

Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)

Masya Allah, Sahabat. Semoga kita senantiasa semangat memperbaiki diri, terutama untuk meraih rida Allah dengan kemuliaan akhlak. Semoga kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia, tulus dan ikhlas, melakukan semua amal ibadah semata-mata karena mengharap rida Allah.

Semoga Allah mengaruniakan kehidupan yang baik dan kematian yang baik. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

3. Kultum Membangun Akhlak Mulia

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Pertama, marilah kita ucapkan alhamdulillah sebagai sanjungan dan rasa syukur kepada Allah SWT karena pada hari ini kita masih diberikan nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan sehingga dapat hadir dalam majelis kultum ini.

Kedua, semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, rasul yang dicintai dan dipilih oleh Allah SWT, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan kultum tentang "Membangun Akhlak Mulia", sebagaimana yang telah diajarkan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang berbahagia,

Suatu ketika, seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW tentang akhlak yang baik. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT yang artinya:

"Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Itu berarti kamu harus menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang memusuhimu, bersikap dermawan kepada orang-orang yang bersikap kikir kepadamu, dan memaafkan orang-orang yang berbuat zalim terhadapmu."

Itulah salah satu ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW dalam membangun akhlak yang baik. Sepintas, kita mungkin merasa mudah mengucapkannya. Namun, dalam pelaksanaannya dibutuhkan ketulusan, keikhlasan, dan kebersihan hati. Justru ketiga hal itulah yang sering kali paling sulit kita lakukan.

Hadirin yang berbahagia,

Hal pertama agar kita memiliki akhlak yang baik adalah tetap menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang memusuhi kita. Biasanya kita enggan menjalin silaturahmi dengan orang yang memusuhi kita. Bahkan, dengan kerabat sendiri pun terkadang hubungan kita kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa melakukannya tidaklah mudah karena membutuhkan perjuangan dan ketulusan hati yang besar.

Selain itu, berbuat derma kepada orang yang bersikap kikir kepada kita juga bukan perkara mudah. Kita sering kali enggan memberikan bantuan kepada orang yang dikenal pelit. Mungkin muncul anggapan bahwa orang yang kikir tidak pantas dibantu agar merasakan akibat dari perbuatannya. Bisikan seperti itulah yang sering muncul dalam hati.

Akan tetapi, dalam pandangan Allah SWT, tidaklah demikian. Kepada siapa pun dan bagaimana pun keadaannya, ketika kita diberi kelapangan untuk bersedekah, maka hendaklah kita mengeluarkan harta kita. Kita harus yakin bahwa Allah SWT akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Hal ketiga juga tidak kalah sulit, yaitu memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepada kita. Sikap yang sering muncul justru sebaliknya. Kita enggan memaafkan orang yang telah menyakiti kita, bahkan terkadang muncul keinginan untuk membalas dendam. Padahal, sikap seperti itu bukanlah cerminan akhlak yang baik. Memaafkan bukan berarti kita kalah, melainkan menunjukkan kebesaran hati yang kita miliki.

Hadirin yang berbahagia,

Sebagai umat Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita berusaha mengamalkan ajaran tersebut apabila ingin meraih derajat akhlak yang mulia di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya. Kita harus melatih diri untuk menjalankan ketiga hal tersebut semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji oleh manusia.

Marilah kita meningkatkan amal ibadah dengan memulai dari memperbaiki akhlak diri sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

Hadirin yang berbahagia,

Demikianlah kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyampaiannya. Semoga apa yang telah disampaikan dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Wabillahi taufik wal hidayah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

4. Kultum Taat kepada Allah Melahirkan Akhlak Mulia

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, kesehatan, dan berbagai karunia kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Akhlak merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Akhlak yang baik tidak hanya tercermin dari perkataan, tetapi juga dari sikap dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Islam, seseorang yang memiliki akhlak mulia adalah orang yang senantiasa berusaha menaati segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketaatan kepada Allah akan membimbing seseorang untuk berbuat baik kepada sesama, menjaga lisan, menepati janji, bersikap jujur, serta menjauhi perbuatan yang dapat merugikan orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita terus berusaha meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan izin Allah, ketaatan tersebut akan melahirkan akhlak yang mulia dan menjadi bekal untuk meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba yang taat dan berakhlak mulia.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5. Kultum Menanamkan Akhlak Mulia dalam Diri

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat iman, kesehatan, dan berbagai karunia kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Akhlak yang mulia merupakan salah satu ajaran utama dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik melalui setiap ucapan, sikap, dan perbuatan beliau. Akhlak yang luhur menjadi salah satu jalan yang mampu menyentuh hati banyak orang hingga mereka mengenal keindahan ajaran Islam.

Rasulullah SAW bersabda,

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)

Hadits tersebut mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara menjaga akhlak terhadap diri sendiri adalah dengan memelihara kebersihan lahir dan batin. Menjaga kebersihan tubuh merupakan wujud rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah SWT berikan. Di samping itu, menjaga hati dan pikiran dari sifat-sifat buruk, seperti iri, dengki, sombong, dan prasangka buruk, juga menjadi hal penting dalam membina akhlak yang mulia.

Sebagai hamba Allah SWT, setiap manusia memiliki kemuliaan dan martabat di hadapan-Nya. Oleh karena itu, menjaga diri dengan baik serta memanfaatkan setiap nikmat yang Allah SWT anugerahkan merupakan bagian dari rasa syukur kepada-Nya. Ketika seseorang mampu memperbaiki diri sesuai tuntunan Islam, ia juga akan lebih mudah memperlakukan sesama dengan akhlak yang mulia.

Marilah kita terus berusaha memperbaiki akhlak, dimulai dari diri sendiri. Semoga Allah SWT membimbing kita agar senantiasa memiliki akhlak yang mulia dalam setiap perkataan, perbuatan, dan niat.

Demikian kultum singkat ini. Semoga dapat memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

6. Kultum Pentingnya Niat dalam Beribadah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, kesehatan, dan berbagai karunia kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Niat menjadi salah satu kunci utama untuk menciptakan kenikmatan dalam beribadah dan juga kunci sebagai sumber keistimewaan dalam menjalankannya. Niat juga menentukan nilai ibadah kita. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang diniatkan. Apabila sudah berniat dan juga berusaha untuk melakukannya, maka dicatat sepuluh kebaikan serta tujuh ratus cabang kebaikan di dalamnya.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memperbaiki niat dalam beribadah kepada Allah SWT. Banyak amal dunia yang tercatat sebagai amal akhirat karena niat yang baik. Sebaliknya, banyak amal akhirat yang dinilai sebagai amal dunia karena niat yang buruk. Dalam beramal dan beribadah, apabila dimulai dengan niat yang baik dan jelas, maka akan mendapatkan pahala yang besar. Niat menjadi sesuatu yang sangat penting.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Niat seperti angka satu yang di belakangnya terdapat angka nol. Seberapa banyak pun angka nol tidak akan bernilai apabila tidak dimulai dari angka satu. Begitu juga angka satu, apabila tidak ada angka nol di belakangnya, maka nilainya akan tetap sama. Niat juga menjadi pembeda antara amal yang bernilai ibadah dan amal yang tidak bernilai ibadah.

Pentingnya niat itu melebihi perbuatan yang dilakukan. Apabila sudah berniat, tetapi tidak dapat dipenuhi karena beberapa kendala, maka Allah SWT tetap mencatat kebaikan itu sebagai kebaikan yang sempurna.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Marilah kita senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal dan ibadah yang dilakukan agar semua yang kita kerjakan benar-benar mengharap rida Allah SWT.

Demikian kultum singkat ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

7. Kultum tentang Ikhlas dalam Beribadah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT atas limpahan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah. Dengan ikhlas, kita tidak akan tersesat ke jalan yang tidak diridai Allah SWT serta terhindar dari sifat riya dan sombong, karena kesombongan merupakan sifat setan.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil dan batu-batu kecil. Demikian pula keikhlasan, yang menjadikan setiap amal terasa nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan membuat ibadah tidak terasa nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu merasa kecewa.

Namun, masih banyak yang beribadah tidak berlandaskan rasa ikhlas kepada Allah SWT, melainkan disertai sikap riya atau sombong agar mendapat pujian dari orang lain. Hal inilah yang dapat menyebabkan ibadah tidak diterima oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap rida-Nya."

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Ikhlas sangat penting bagi setiap muslim dalam melaksanakan ibadah. Tanpa rasa ikhlas dan hanya mengharap rida Allah SWT, ibadah tidak akan diterima oleh-Nya.

Lalu, bagaimana cara agar dapat beribadah dengan ikhlas? Salah satu caranya adalah dengan mengosongkan pikiran dari urusan dunia ketika sedang beribadah kepada Allah SWT.

Kita hanya perlu mengingat Allah. Salat untuk Allah, zikir untuk Allah, dan semua amal yang dilakukan hanya karena Allah. Lupakan segala urusan duniawi dan pusatkan hati hanya kepada Allah SWT. Jangan munculkan rasa riya atau sombong di dalam diri, karena kita tidak memiliki daya dan kekuatan di hadapan Allah SWT. Rasakan bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan mengetahui setiap amal yang kita lakukan.

Insyaallah, dengan cara tersebut kita dapat meraih keikhlasan. Jangan lupa pula untuk selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberikan keikhlasan dalam setiap ibadah yang dikerjakan.

Demikian kultum singkat ini. Apabila terdapat kekurangan, semoga menjadi bahan perbaikan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Semoga apa yang disampaikan dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

8. Kultum Keutamaan Ibadah melalui Kebaikan kepada Keluarga

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat iman, kesehatan, dan berbagai karunia kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Pernahkah kita merasa senang ketika berbuat baik kepada orang lain, tetapi saat melakukan hal yang sama kepada keluarga, justru menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa? Jika demikian, sudah saatnya kita melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.

Berbuat baik kepada siapa pun merupakan amalan yang mulia. Namun, Allah SWT juga mengajarkan agar kebaikan itu terlebih dahulu diberikan kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita, terutama kedua orang tua dan keluarga.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT pada Surah An-Nisa ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri."

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa urutan berbuat baik dimulai dari kedua orang tua dan kerabat atau keluarga. Setelah itu, barulah kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman, dan orang lain yang membutuhkan.

Hal ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Jabir bin Abdillah:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ابْدَءُوْا بِمَا بَدَأَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ

Artinya: "Mulailah (mengerjakan sesuatu) sesuai dengan apa yang dimulai oleh Allah." (HR. Baihaqi)

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa pemberian terbaik adalah yang didahulukan untuk keluarga. Dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Tsauban disebutkan:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ

Artinya: "Sebaik-baik dinar yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang dibelanjakan untuk keluarganya, kemudian dinar yang dibelanjakan di jalan Allah, dan dinar yang dibelanjakan untuk sahabatnya." (HR. Muslim)

Rasulullah SAW juga memberikan teladan melalui kehidupan beliau. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Ibnu Majah)

Sayyidah Aisyah RA juga menceritakan bahwa Rasulullah SAW membantu pekerjaan rumah ketika berada bersama keluarganya. Dalam hadits disebutkan:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

Artinya: "Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Apabila waktu salat telah tiba, beliau segera melaksanakan salat."

Selain itu, Allah SWT memberikan pahala yang besar kepada orang yang memberikan nafkah kepada keluarganya dengan niat yang ikhlas. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ النَّفَقَةَ يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ

Artinya: "Apabila seseorang memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka hal itu bernilai sedekah baginya." (HR. Muslim)

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Marilah kita mendahulukan kebaikan kepada keluarga sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jangan sampai kita lebih bersemangat membahagiakan orang lain, tetapi lalai memberikan perhatian kepada keluarga sendiri. Semoga Allah SWT membimbing kita agar senantiasa menjadi pribadi yang menghadirkan kebaikan, dimulai dari lingkungan keluarga.

Demikian kultum singkat ini. Semoga dapat memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

9. Kultum Ibadah Menuntut Ilmu dalam Islam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat iman, kesehatan, dan berbagai karunia kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Manusia membutuhkan ilmu melebihi kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Seseorang hanya membutuhkan makanan dan minuman satu atau dua kali dalam sehari, sedangkan kebutuhan terhadap ilmu hadir dalam setiap tarikan napas. Terlebih lagi ketika hidup pada masa yang dipenuhi kebodohan, kesesatan, dan berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap ilmu menjadi sangat penting.

Karena itu, marilah kita senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu dalam keadaan apa pun. Selain menjadi kebutuhan bagi setiap muslim, menuntut ilmu juga memiliki banyak keutamaan di sisi Allah SWT, khususnya ilmu syar'i.

Di antara keutamaan ilmu syar'i adalah sebagai berikut.

Pertama, Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Kedua, ilmu merupakan warisan para nabi. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh keuntungan yang besar.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka ia telah memperoleh keuntungan yang besar." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Ketiga, apabila Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama." (HR. Bukhari)

Keempat, Allah SWT akan memudahkan jalan menuju surga bagi orang yang menuntut ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Kelima, manfaat ilmu akan terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim sekaligus menjadi bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita terus berusaha mencari ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menyebarkannya kepada sesama agar menjadi amal yang terus mengalir pahalanya.

Demikian kultum singkat ini. Semoga dapat memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

10. Kultum Ibadah Harus Dilandasi Ilmu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat iman, kesehatan, dan berbagai karunia kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Berikut satu hikayat yang sangat masyhur dalam kitab-kitab hadits dan fikih.

Pada masa Rasulullah SAW, ada seorang sahabat yang terluka parah di bagian kepala. Pada suatu malam, ia mengalami junub. Lalu ia bertanya kepada teman-temannya apakah ia boleh bertayamum. Namun, mereka menjawab tanpa ilmu bahwa ia tetap harus mandi.

Akhirnya, ia mandi. Air masuk ke lukanya hingga menyebabkan ia wafat.

Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda:

"Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya." (HR. Abu Dawud)

Dari hikayat ini, kita belajar bahwa ibadah tanpa ilmu dapat mencelakakan diri. Islam tidak mengajarkan ibadah yang mempersulit, apalagi membahayakan.

Allah SWT berfirman:

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)

Allah SWT juga berfirman:

"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Terkadang kita rajin beribadah, tetapi malas belajar. Buku petunjuk kendaraan dibaca, panduan menggunakan telepon genggam dipelajari, tetapi tata cara salat dan wudu justru jarang dipelajari. Padahal, jika kendaraan mengalami kerusakan masih bisa diperbaiki, sedangkan jika ibadah kita keliru, kitalah yang akan menanggung akibatnya.

Oleh karena itu, marilah kita memperbaiki ibadah dengan ilmu. Bertanyalah kepada ahlinya apabila belum mengetahui suatu hukum atau tata cara ibadah. Sebab, keselamatan dalam menjalankan agama berawal dari ilmu yang benar.

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT.

Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah manfaat kepada kami melalui ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.

Demikian kultum singkat ini. Semoga dapat memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



(inf/dvs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads