Dalam Islam, ikhtiar dan takdir adalah dua hal yang saling melengkapi, bukan bertentangan. Ikhtiar adalah usaha maksimal manusia (wajib), sementara takdir adalah ketetapan Allah SWT.
Manusia diperintahkan berusaha, lalu bertawakal atas hasilnya. Hubungan keduanya adalah ikhtiar adalah cara menjemput takdir terbaik. Jadi jangan katakan ikhtiar tidak akan mengkhianati hasil? Karena hasil bukan semata karena upaya, hasil merupakan kehendak-Nya.
Adapun point Penting Hubungan Ikhtiar dan Takdir adalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
A. Ikhtiar adalah Perintah. Manusia wajib berikhtiar (berusaha/bekerja) untuk mencapai sesuatu, tidak boleh hanya berdiam diri menunggu nasib. ikhtiar adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT, bukan sekadar pilihan. Ikhtiar artinya berusaha secara sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh potensi, kemampuan, dan akal untuk mencapai hasil yang baik, sesuai dengan tuntunan syariat.
Manusia dilarang berdiam diri menunggu nasib tanpa usaha (fatalisme), karena Islam menekankan bahwa setiap usaha akan diperlihatkan hasilnya dan dibalas oleh Allah SWT.
Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Jumuah ayat 10 yang terjemahannya," Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
Maknanya : Apabila salat wajib telah dilaksanakan di awal waktu dengan berjamaah di masjid; maka bertebaranlah kamu di bumi, kembali bekerja dan berbisnis; carilah karunia Allah, rezeki yang halal, berkah, dan melimpah dan ingatlah Allah banyak-banyak ketika salat maupun ketika bekerja atau berbisnis agar kamu beruntung, menjadi pribadi yang seimbang, serta sehat mental dan fisik.
B. Takdir yang Bisa Diubah (Muallaq). Takdir jenis ini berkaitan dengan usaha manusia, seperti kesehatan, rezeki, dan kepintaran yang dapat diubah dengan ikhtiar dan doa. Takdir Muallaq adalah ketentuan Allah SWT yang digantungkan pada usaha (ikhtiar) dan doa manusia. Maksudnya, Allah memberikan ruang bagi manusia untuk mengubah nasibnya-seperti rezeki, kepintaran, atau kesehatan-melalui kerja keras, doa, dan perilaku, yang tercantum dalam Lauhul Mahfuz beserta sebab-sebab perubahannya.
Berikut ini adalah poin-poin penting mengenai Takdir Muallaq menurut Islam.
Berkaitan dengan Ikhtiar (Usaha). Takdir ini menekankan bahwa manusia tidak boleh pasif. Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya untuk berupaya mencapai hal yang lebih baik.
Peran Doa. Doa merupakan salah satu mekanisme utama yang dapat mengubah Takdir Muallaq.
Contoh dalam Kehidupan:
* Kesehatan: Seseorang yang sakit dapat menjadi sehat dengan berobat dan menjaga pola hidup.
* Rezeki: Kekayaan atau kemudahan rezeki dapat dicapai dengan bekerja keras dan bersedekah.
* Kepintaran: Seseorang yang bodoh bisa menjadi pintar dengan bersungguh-sungguh belajar.
* Nasib/Keadaan: Seseorang bisa mengubah nasibnya dari kesusahan menjadi kemudahan.
* Landasan Dalil: Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd: 11, "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...".
Berbeda dengan Takdir Mubram (yang tidak dapat diubah seperti kematian), Takdir Muallaq adalah motivasi bagi umat Islam untuk terus berusaha dan berdoa.
C.Takdir yang Tidak Bisa Diubah (Mubram). Ketetapan yang mutlak, seperti kematian, kelahiran, dan jenis kelamin. Takdir Mubram adalah ketetapan mutlak Allah SWT yang bersifat final, tidak dapat diubah, dan tidak melibatkan usaha (ikhtiar) manusia, seperti kelahiran, kematian, dan jenis kelamin saat lahir. Ini adalah hak prerogatif Allah yang wajib diyakini dan diterima sebagai bentuk keimanan.
D. Doa dan Tawakal. Ikhtiar harus diiringi doa (sebagai senjata) dan diakhiri dengan tawakal (berserah diri) atas hasil akhirnya.
Ikhtiar, doa, dan tawakal adalah trilogi kehidupan seorang Muslim yang seimbang: berusaha maksimal (ikhtiar), memohon petunjuk (doa) sebagai senjata, dan berserah diri sepenuhnya atas hasil (tawakal) kepada Allah SWT. Konsep ini menegaskan bahwa rezeki atau hasil dicapai dengan usaha halal, namun keputusan akhir mutlak di tangan Allah SWT. membawa ketenangan jiwa.
E. Sikap Mukmin: Jika ikhtiar berhasil, bersyukur (tidak sombong). Jika gagal, bersabar dan yakin ada hikmah (tidak putus asa).
Jika Ikhtiar Berhasil. Bersyukur (Tidak Sombong), Adapun Hakikat Syukur. Mengakui bahwa keberhasilan adalah karunia Allah, bukan semata-mata karena kehebatan diri. Sedang bentuk Syukur. Menggunakan nikmat untuk ketaatan, berbagi, dan rendah hati.
dan Menghindari Sombong: Sadar bahwa segala yang dimiliki adalah titipan yang bisa diambil kapan saja oleh Allah SWT.
Jika Gagal: Bersabar dan Yakin ada Hikmah (Tidak Putus Asa). Sabar & Husnuzan. Sabar bukan berdiam diri, melainkan menahan diri dari mengeluh, tidak murka pada takdir, dan berbaik sangka bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik. Tetap yakin akan adanya hikmah. Kegagalan adalah cara Allah SWT. mendidik, menghapus dosa, atau mengalihkan ke hal yang lebih baik. Serta mengajarkan pantang putus asa. Tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT, melainkan bangkit, mengevaluasi diri, dan mencoba kembali.
Ringkasnya, ikhtiar adalah kewajiban manusia, sedangkan hasil akhir adalah rahasia dan ketetapan Allah SWT. Semoga kita semua memahaminya dan makin bertambah ketaatan kita kepada-Nya.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin
Kenapa Mayoritas Penduduk Madinah Dulu Beragama Yahudi?