Di tengah padatnya pelayanan jemaah haji Indonesia di Makkah, ada kisah yang terus membekas di ingatan Jamaluddin Affan Asyi atau Syekh Jamal. Selama berbulan-bulan, ia bersama tim Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dan Pemerintah Provinsi Aceh mendampingi para calon jemaah korban banjir besar Aceh agar tetap bisa berangkat ke Tanah Suci.
Bencana yang terjadi pada 22-26 November 2025 itu meluluhlantakkan banyak wilayah di Aceh. Banjir yang disebut warga sebagai 'tsunami kedua' tersebut menyebabkan ribuan rumah rusak dan warga kehilangan harta benda.
"Di antara 23 kabupaten/kota di Aceh, 18 kabupaten/kota itu terdampak bencana yang sangat luar biasa yang harta benda mereka itu habis semuanya, contohnya di Aceh Tamiang," ungkap Syekh Jamal saat ditemui tim Media Center Haji (MCH), Selasa (12/5/2026), di hotel Burj Alwahda Almutamayiz.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah yang paling berat terdampak banjir. Syekh Jamal masih mengingat bagaimana sulitnya para calon jemaah melunasi biaya haji setelah rumah dan penghidupan mereka terdampak bencana.
"Tamiang itu adalah daerah yang sangat-sangat berat tertimpa bencana, di sana ada jemaah haji 150 jemaah haji pada saat pelunasan pertama, ya hanya baru satu orang," katanya.
Kondisi itu membuat Syekh Jamal bersama tim Kemenhaj harus turun langsung ke lapangan. Mereka mendatangi wilayah-wilayah terdampak untuk membantu proses keberangkatan jemaah, mulai dari pengurusan kesehatan hingga pelunasan biaya haji.
"Kemudian kami, saya, kemudian dengan tim dari Kemenhaj ditugaskan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur untuk menjemput bola, untuk merelokasi jemaah supaya bisa melakukan istitha'ah," ujarnya.
Tak sedikit kendala yang mereka hadapi. Di Aceh Utara, sebanyak 18 paspor jemaah hanyut terbawa banjir. Infrastruktur rusak membuat akses komunikasi dan internet lumpuh di sejumlah daerah.
"Kemudian di Aceh Utara ada 18 paspor itu hanyut. Nah, hampir tiap hari kami berjibaku dengan pemerintah dan membuat laporan setiap hari termasuk ke Kemenhaj, ke Komisi VIII DPR RI, kemudian juga ke Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur," katanya.
Di tengah situasi itu, sempat muncul kekhawatiran kuota haji Aceh akan dialihkan ke provinsi lain karena banyaknya jemaah terdampak bencana. Namun Syekh Jamal dan tim terus bergerak memastikan kuota tersebut tetap bisa dipenuhi oleh jemaah asal Aceh.
"Karena pada saat itu ada isu bahwa jemaah daerah yang dampak bencana itu kuotanya akan dialihkan ke provinsi lain. Tetapi kami di Aceh, saya ditugaskan oleh Bapak Gubernur itu betul-betul jemput bola," kenangnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Kuota haji Aceh justru menjadi salah satu yang paling cepat terpenuhi secara nasional. "Akhirnya Aceh termasuk yang pertama sekali penuh kuota hajinya, malah melebihi target nasional," kata Syekh Jamal.
Ia juga mengingat bagaimana tim harus memindahkan pelayanan ke daerah lain yang masih memiliki jaringan internet dan komunikasi. "Akhirnya kami alihkan ke daerah yang ada internetnya, kemudian yang ada komunikasi telepon dan sebagainya, karena semua infrastruktur elektronik hancur," ujarnya.
Namun di balik semua tantangan itu, ada satu momen yang paling menyentuh bagi Syekh Jamal, melihat para jemaah tetap berangkat haji meski sudah kehilangan segalanya setelah diterjang banjir.
"Alhamdulillah sampai sekarang jemaah haji walaupun bagaimana... yang paling menyedihkan saya, di Tamiang. Mereka nggak ada apa-apa lagi, rumah udah nggak ada, tapi mereka tetap berhaji," ujarnya lirih.
Kini, satu per satu jemaah Aceh telah tiba di Makkah. Bagi Syekh Jamal, perjalanan mereka bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga simbol keteguhan setelah melewati musibah besar.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan