Berkawan dengan Nafsu

Kolom Hikmah

Berkawan dengan Nafsu

Aunur Rofiq, Penulis Kolom - detikHikmah
Jumat, 27 Mar 2026 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Aunur Rofiq. Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Berkawan dengan seseorang saja hendaknya memilih kawan yang berakhlak baik. Dalam Islam, nafsu adalah dorongan alami manusia yang harus dikendalikan agar tidak mendominasi akal dan jiwa, sehingga dapat membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Mengendalikan nafsu dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, berpuasa, memperbanyak doa, menjaga pandangan dari hal yang dilarang, berkumpul dengan orang saleh, serta mengevaluasi diri secara berkala.

Ingatlah bahwa siapa saja yang perhatiannya tertuju kepada dunia, Allah SWT membuatnya merasa fakir dan dicerai beraikan kekuatannya. Ia akan mendapatkan dari dunia sesuai dengan apa yang digariskan untuknya.

Ibnu Atha'illah berkata, "Keadaanmu bersama nafsu adalah seperti orang yang melihat istrinya di kedai arak, lalu ia memberinya pakaian yang bagus dan makanan yang lezat. Ketika kau meninggalkan salat, sesungguhnya kau memberinya beragam nikmat."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketahuilah firman Allah SWT dalam surah Yusuf ayat 53 yang terjemahannya, "Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Maknanya adalah: Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Yusuf sebagai manusia mengakui bahwa setiap nafsu cenderung dan mudah disuruh untuk berbuat jahat kecuali jika diberi rahmat dan mendapat perlindungan dari Allah SWT. Yusuf selamat dari godaan istri al-'Azīz karena limpahan rahmat Allah dan perlindungan-Nya, meskipun sebagai manusia Yusuf juga tertarik pada istri al-'Azīz sebagaimana perempuan itu tertarik kepadanya seperti diterangkan pada ayat 24?" Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. (Yūsuf ayat 24).

ADVERTISEMENT

Tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ayat 53 ini menerangkan pengakuan istri al-'Azīz dengan terharu dan rasa penyesalan yang mendalam bahwa dia tidak dapat membersihkan dirinya dari kesalahan dan ketelanjuran. Dia juga mengakui bahwa memang dia yang hampir mengkhianati suaminya dengan merayu Yusuf ketika suaminya tidak di rumah. Untuk menjaga nama baik diri, suami, dan keluarganya, dia menganjurkan supaya Yusuf dipenjarakan, atau ditimpakan kepadanya siksaan yang pedih. Istri al-'Azīz telah melakukan kesalahan ganda, yaitu berdusta dan menuduh orang yang jujur dan bersih serta menjebloskannya ke penjara. Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Nafsu selalu cenderung pada perbuatan buruk. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah al-Maidah ayat 30 yang terjemahannya, "Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi."

Maknanya adalah: Pada mulanya Qabil takut membunuh Habil, tetapi hawa nafsu amarahnya selalu mendorong dan memperdayakannya, sehingga timbullah keberanian untuk membunuh saudaranya dan dilaksanakanlah niatnya tanpa memikirkan akibatnya. Setelah hal itu benar-benar terjadi, maka sebagai akibatnya Qabil menjadi orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Di dunia ia rugi karena membunuh saudaranya yang saleh dan takwa. Dan di akhirat ia akan rugi karena tidak akan memperoleh nikmat akhirat yang disediakan bagi orang-orang muttaqin.

Imam as-Suddi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Murrah bin Abdillah, dan dari beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW. bahwa Qabil setelah teperdaya oleh hawa nafsunya dan bertekad membunuh saudaranya, ia mencari Habil dan menemukannya di atas gunung sedang menggembala kambing, tapi ia sedang tidur, maka Qabil mengambil batu besar lalu ditimpakan kepadanya di sebuah tempat yang terbuka bernama Arak.

Dalam Islam, hawa nafsu yang tidak terkendali dapat menjerumuskan manusia pada dosa seperti keserakahan atau amoralitas. Sebaliknya, hawa nafsu yang diarahkan dengan baik dapat menjadi motivasi untuk mencapai tujuan positif.

Dampak Negatif Mengikuti Hawa Nafsu

Menjauhkan Diri dari Kebenaran dan Hidayah: Hawa nafsu dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk menerima kebenaran dan petunjuk Allah, sehingga tersesat dari jalan yang benar.

Dalam surah al-An'am ayat 26 yang terjemahannya, "Mereka melarang (orang lain) mendengarkannya (Al-Qur'an) dan mereka pun menjauhkan diri darinya. Mereka tidak membinasakan kecuali diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadari."

Maknanya adalah: Ayat ini menjelaskan, bahwa mereka tidaklah berhenti mendustakan ayat-ayat Al-Qur'an dan memandangnya sebagai sihir, bahkan mereka mencegah orang lain mendengarkan serta menghasutnya, agar orang-orang itu tidak tertarik kepada Al-Qur'an yang indah bahasanya dan maknanya yang padat melebihi bahasa penyair-penyair mereka, sehingga pemimpin kaum musyrik itu merasa khawatir terhadap pengaruh gaya bahasa Al-Qur'an itu kepada pendengarnya. Mereka menyadari bahwa kesempatan untuk memperhatikan ayat Al-Qur'an itu berarti kesempatan untuk menanggapi mukjizatnya, karena itulah mereka menghalangi orang lain. Di samping mencegah orang lain, mereka sendiri menjauhkan diri dari Al-Qur'an, untuk menunjukkan bahwa mereka sangat menentangnya dan untuk menguatkan larangan mereka. Meskipun orang-orang musyrik telah berdaya upaya dengan pelbagai cara untuk memadamkan cahaya Islam, mereka tidak akan berhasil. Bahkan Allah menyatakan pada akhir ayat ini, bahwa tindakan mereka bukanlah menghancurkan Islam tetapi menghancurkan mereka sendiri tanpa mereka sadari. Peringatan akan kehancuran mereka ini beberapa tahun kemudian terbukti kebenarannya dalam pelbagai peperangan dan kemenangan di pihak Rasulullah SAW.

Membuat Lalai: Orang yang dikuasai hawa nafsu akan sering lalai, terutama dalam hal kebaikan dan mengingat hari perhitungan atau akhirat.

Menjerumuskan pada Dosa dan Kejahatan: Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang pada perbuatan dosa seperti keserakahan, amoralitas, dan kesombongan.

Hal ini telah dijelaskan dalam surah al-Falaq dengan terjemahannya, "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh). raja manusia, sembahan manusia. dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
dari (golongan) jin dan manusia."

Menghalangi Keadilan: Mengikuti hawa nafsu dapat membuat seseorang tidak mampu berbuat adil dan menjadi awal dari kerusakan.

Menyebabkan Kesesatan: Jika hawa nafsu menguasai akal, maka sikap manusia bisa menjadi keji, munkar (melakukan kejahatan), dan sesat.

Nafsu menjadikan seseorang melakukan perbuatan buruk, semoga kita semua terhindar dari berkawan dengan nafsu.

--

Aunur Rofiq

Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads