Bulan Ramadan menjadi bulan melatih ketakwaan bagi umat Islam. Umat Islam menjalankan ibadah puasa sekaligus menjadi sarana untuk membentuk ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam detikKultum Ramadan, Prof Nasaruddin Umar menjelaskan inti dari ibadah puasa adalah membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Ketakwaan bukan sekadar istilah teologis, tetapi sebuah kondisi batin yang mendalam yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
"Apa itu takwa? Takwa itu artinya suasana kebatinan di mana seseorang itu merasa lebih dekat dengan Tuhannya, karena dia dekat dengan Tuhannya maka ibadah-ibadahnya itu akan lebih dekat, maka ibadah-ibadahnya itu akan lebih rajin, maka dia akan melakukan perbuatan yang diperintahkan dan mencegah pekerja-pekerjaan yang dilarang, itu takwa. Menjauhi apa yang dilarang dan melakukan apa yang diperintahkan," jelas Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Sabtu (14/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Nasaruddin Umar juga memperkenalkan konsep menarik, yaitu takwa digital. Istilah ini menggambarkan bagaimana ketakwaan dapat dipahami melalui pendekatan yang lebih konkret dan terukur.
Beliau menjelaskan bahwa dalam Al-Qur'an terdapat konsep setiap perbuatan manusia, sekecil apa pun, akan diperhitungkan oleh Allah SWT.
"Apa itu digital? Takwa digital itu misalnya, barang siapa melakukan kebaikan sekecil atom maka Tuhan pun juga akan melihat hasilnya memperlihatkan hasilnya, tapi sebaliknya barang siapa melakukan keburukan sekecil atom pun juga Tuhan akan menunjukkan hasilnya," lanjutnya.
Ayat yang dimaksud merujuk pada firman Allah dalam Surah Az-Zalzalah yang menyatakan siapa pun yang melakukan kebaikan sebesar zarrah (atom) akan melihat balasannya, begitu pula dengan keburukan sekecil apa pun.
Dari sinilah muncul gagasan setiap amal manusia sebenarnya dapat "tercatat" secara rinci, seolah-olah memiliki sistem pencatatan seperti dalam dunia digital.
Untuk memudahkan pemahaman tentang konsep tersebut, Prof Nasaruddin Umar memberikan contoh sederhana tentang bagaimana seseorang dapat "menghitung" amal ibadahnya secara simbolis.
"Bagaimana caranya mengukur ketakwaan secara digital ini antara lain contohnya puasa saya sudah 30, Tarawih saya di masjid sekian rakaat ada sekian rakaat, saya zakat sekian. Itu digitalisasi ketakwaan," jelasnya.
Melalui contoh tersebut, Imam Besar Masjid Istiqlal itu menjelaskan ibadah yang dilakukan selama Ramadan sebenarnya dapat dilihat sebagai indikator peningkatan ketakwaan. Misalnya jumlah hari puasa yang telah dijalani, jumlah rakaat tarawih yang dikerjakan, hingga zakat dan sedekah yang telah diberikan.
Pada akhirnya, Prof Nasaruddin Umar menegaskan seluruh ibadah Ramadan bertujuan untuk membentuk ketakwaan dalam diri manusia.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Puasa sebagai Jalan Menuju Takwa Digital tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Baca juga: Ramadan dan Kesetaraan Gender di Era Digital |












































Komentar Terbanyak
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel
Muslim di Kota Ini Cuma Puasa 1 Jam
Perkiraan Lebaran 2026 Menurut NU, Muhammadiyah, Pemerintah, BMKG dan BRIN