Fenomena perubahan besar yang dipicu oleh kemajuan teknologi sering disebut sebagai disrupsi teknologi. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul pula pertanyaan, bagaimana manusia menyikapi teknologi agar tidak merusak nilai-nilai kemanusiaan?
Dalam detikKultum Ramadan, Prof Nasaruddin Umar menilai kehadiran teknologi memang tidak dapat dihindari. Teknologi akan selalu membawa dampak bagi kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Karena itu, yang paling penting bukan menolak teknologi, melainkan mampu menyeleksi dan mengarahkannya agar tetap bermanfaat bagi kemanusiaan.
"Apa yang dimaksud disrupsi teknologi? Itu kehadiran teknologi yang pasti akan melahirkan dampak-dampak. Nah persoalannya sekarang ini tidak semua teknologi memberikan disrupsi yang negatif, ada juga hal-hal yang sifatnya produktif," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Jumat (13/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ramadan dan Kesetaraan Gender di Era Digital |
Menurutnya, teknologi pada dasarnya bersifat netral. Ia bisa menjadi alat yang membawa manfaat besar, tetapi juga bisa menimbulkan kerusakan jika digunakan tanpa nilai moral. Karena itu, manusia perlu memiliki kemampuan untuk menyaring dan memilih teknologi yang benar-benar membawa kebaikan.
"Maka bagaimana menyeleksi, memfilter teknologi mana yang bermanfaat untuk dunia kemanusiaan," lanjutnya.
Dalam pandangan Prof Nasaruddin Umar, salah satu momentum terbaik untuk membangun kesadaran moral dalam menghadapi kemajuan teknologi adalah bulan suci Ramadan. Bulan ini bukan hanya waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi ruang pendidikan spiritual yang sangat kuat.
Ramadan dapat menjadi media untuk membangun kesadaran etika dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam pengembangan teknologi.
"Bulan Ramadan ini adalah media yang paling bagus untuk menciptakan produk-produk teknologi yang lebih bermoral," ujar Prof Nasaruddin Umar.
Puasa melatih manusia untuk mengendalikan diri, menahan keinginan, serta memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Nilai pengendalian diri inilah yang sangat penting dalam menghadapi era teknologi yang serba cepat.
Prof Nasaruddin Umar meyakini jika seseorang berkarya atau menciptakan sesuatu pada bulan Ramadan, maka akan ada pengendalian moral yang lebih kuat dalam dirinya. Nilai spiritual yang tumbuh selama bulan suci ini akan mempengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak.
"Saya sangat yakin kalau kita menghasilkan suatu produk apa pun di bulan suci Ramadan ini, entah menggunakan teknologi secanggih apa pun, itu pasti ada controlling-nya yang sangat bagus," jelas Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini.
Artinya, Ramadan berfungsi sebagai pengendali batin yang mampu menuntun manusia agar tidak menggunakan teknologi secara sembarangan. Dalam kondisi hati yang bersih dan pikiran yang jernih, manusia akan lebih mudah menciptakan karya yang membawa manfaat luas bagi masyarakat.
"Orang yang berpuasa itu umumnya melakukan perbuatan yang sifatnya nurturing. Nurture itu merawat, mengasuh, mengayomi, mendidik," tutupnya.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan dan Penguatan Iman di Era Disrupsi Teknologi tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Baca juga: Ramadan dan Persatuan Umat di Era Disrupsi |












































Komentar Terbanyak
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel
Rusia: AS-Israel Sengaja Tabur Perpecahan di Dunia Islam Selama Ramadan
Muslim di Kota Ini Cuma Puasa 1 Jam