Istilah gender sering menjadi bahan perdebatan. Sebagian orang memahaminya secara keliru.
Dalam detikKultum Ramadan, Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa penting bagi umat Islam untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan gender, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama.
"Saya jelaskan dulu apa yang dimaksud gender. Gender itu adalah perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi budaya. Kalau perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari sudut pandang biologis itu namanya seks," kata Prof. Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Rabu (11/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ramadan dan Persatuan Umat di Era Disrupsi |
Menurut Prof. Nasaruddin Umar, istilah gender sebenarnya baru dikenal luas di Indonesia sekitar tahun 1990-an. Sebelumnya, diskursus mengenai perempuan lebih sering menggunakan istilah "womanism" atau gerakan perempuan.
Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengatakan, "Tahun 90-an baru muncul istilah gender di Indonesia. Dulu istilahnya womanism."
Karena itu, memahami gender berarti memahami bagaimana masyarakat membentuk peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial.
Salah satu persoalan yang sering muncul dalam diskusi gender adalah mengenai kodrat perempuan dan laki-laki.
Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa dalam pandangan biologis, sebenarnya hanya ada empat perbedaan kodrati antara laki-laki dan perempuan.
Beliau menyebutkan:
1. Perempuan dapat hamil, sedangkan laki-laki tidak.
2. Perempuan melahirkan, laki-laki tidak melahirkan.
3. Perempuan menyusui, sedangkan laki-laki tidak.
4. Perempuan mengalami menstruasi, laki-laki tidak.
Beliau menegaskan, "Hanya empat itu yang disebut kodrat."
Di luar empat hal tersebut, banyak perbedaan yang sebenarnya bukan kodrat biologis, melainkan hasil dari konstruksi sosial.
Misalnya anggapan bahwa perempuan harus selalu berada di rumah, sementara laki-laki bekerja di luar rumah. Menurut Prof. Nasaruddin Umar, hal itu bukanlah kodrat, melainkan social construction atau konstruksi budaya yang berkembang di masyarakat.
Prof. Nasaruddin Umar mengingatkan, "Persoalannya sekarang ini seringkali agama dijadikan dasar untuk mendiskreditkan perempuan."
"Sering diterjemahkan laki-laki pemimpin bagi perempuan. Padahal mestinya bisa dimaknai laki-laki adalah pendamping bagi perempuan," ujarnya.
Dalam perspektif Islam, laki-laki dan perempuan bukanlah pihak yang saling mendominasi, melainkan saling melengkapi.
Sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan adanya dinamika peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga.
Prof. Nasaruddin Umar mencontohkan kehidupan rumah tangga Nabi bersama Khadijah RA.
Beliau menjelaskan, "Khadijah di Makkah yang menjadi kepala rumah tangga, karena beliau orang kaya, lebih senior, lebih tua, dan lebih bangsawan."
Namun ketika Nabi hijrah ke Madinah dan menikah dengan Aisyah RA, situasinya berubah. Nabi Muhammad SAW lebih berperan sebagai kepala rumah tangga.
Hal ini menunjukkan bahwa peran dalam keluarga bisa bersifat dinamis, tergantung situasi dan kondisi.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan dan Kesetaraan Gender di Era Digital tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Baca juga: Menghargai Perbedaan di Dunia Virtual |












































Komentar Terbanyak
Lebaran Muhammadiyah 2026, Ini Tanggal dan Penetapan Resminya
Rusia: AS-Israel Sengaja Tabur Perpecahan di Dunia Islam Selama Ramadan
Muslim di Kota Ini Cuma Puasa 1 Jam