Arkian, saat bulan Ramadan tiba, terutama di malam-malamnya, Tuhan suka turun ke langit dunia. Datang mendekat agar para hamba dapat memperpendek jarak dengan-Nya. Agar doa-doanya tidak terlalu "memakan" ruang dan waktu dalam perjalanan menuju Allah. Agar dalam keadaan tidur pun, orang yang puasa dengan niat "imanan wa ihtisaban", tetap bisa berasyik masyuk dengan Tuhan. Maka, semua fasilitas dan bonus kelipatan pahala, sudah Allah siapkan untuk para pemburu keistimewaan bulan Ramadan.
Semua ibadah dalam Islam, termasuk puasa di bulan Ramadan, didesain oleh Syaari'--pembuat syariat, sebagai instrumen bagi makhluk agar bisa dekat kepada Khaliq. Istilah lazimnya ; ber-taqarrub. Tujuannya, apapun jenis dan ragam ibadah tersebut, adalah mempersempit disparitas manusia dengan Tuhan. Tidak ada ibadah yang ujungnya berakibat pada melebar dan menjauhnya jarak antara makhluk dengan Sang Khaliq. Apalagi sampai memisahkan hamba dengan Tuhan.
Dalam konteks ini, maka maqam kedekatan sebagai sebuah "anugerah", adalah janji Allah yang Dia siapkan bagi siapa saja yang mau menempuh "jalan-jalan" kedamaian--subulus salaam. Tidak cuma satu jalan. Tapi banyak jalan. Subul jamak dari kata sabil. Subul berarti banyak jalan. Kedekatan adalah karunia. Kedekatan adalah nikmat. Bila kita sudah melakukannya tapi tidak juga bisa merasakan kenikmatan dari dan di dalam ibadah tertentu, maka artinya kita sedang tidak dekat Allah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam dimensi ibadah yang lebih luas maknanya, anugerah kedekatan juga selalu diupayakan oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Anak ingin dekat orang tua. Orang tua merasa nikmat jika dekat anak. Begitu juga, pasangan suami istri ingin selalu saling berdekatan. Santri selalu berharap bisa dekat dengan kiai, murid dengan guru, tetangga dengan tetangga. Kekasih tak ingin jauh dari kekasihnya. Dan untuk mencapai itu semua, segenap usaha dilakukan orang.
Mereka, kadang mempertaruhkan banyak hal untuk bisa dekat dan mempertahankan kedekatan. Faktor kedekatan, juga sering jadi alasan kenapa seseorang menentukan pilihan. Cari sekolah, tempat pertemuan, masjid, ngopi-ngopi, mal, sering juga karena dekat. Bahkan, secara abstrak, seseorang bergabung dalam organisasi A karena adanya kedekatan ideologis. Maka agak aneh, jika ada yang memilih sesuatu karena alasan tidak ingin dekat.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda ; "Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dari surga dan dekat dengan manusia."
Dekat adalah anugerah tak ternilai dari Allah. Dekat itu, posisi, maqam, dan derajat tidak main-main. Pada awalnya, bersama para malaikat, Iblis telah berada dalam posisi dekat kepada Tuhan. Tapi, sekali saja dia menyangkal dan menyelisihi perintah-Nya (sujud kepada Adam As.), Tuhan jauhkan dari sisi-Nya. Dekat itu station kelas atas bagi mereka yang menempuh suluk kepada-Nya. Dekat itu maqam paling dicari pemburu mahabbah Allah. Sebaliknya, tidak dekat, jadi isyarat sebuah bencana bagi semua.
Lantas, bagaimana kedekatan bisa dirasakan sebagai anugerah dan keberkahan? Yaitu apabila kita bisa merasakan kenikmatan dalam taqarrub alias kedekatan itu. Taqarrub berasal dari kata qarib. Qarib berarti dekat. Meski ibadah adalah instrumen mencapai kedekatan, tapi jika hilang kenikmatannya, maka konsep dan amaliyah taqarrub-nya perlu disempurnakan. Boleh jadi, ada hal yang tidak pas sehingga tidak merasakan kenikmatan dalam beribadah.
Syahdan, demikian dikisahkan Rumi dalam Matsnawi, ada seorang bertamu ke Nabi Syu'aib As. Dengan bangga, ia berkisah bahwa ia termasuk hamba yang dikasih dan disayang Allah. Karena merasa disayang, maka ia meyakini Tuhan tidak menghukumnya meski ia kerap bermaksiat. Ia percaya, maksiat tak membuat hidupnya menjadi sempit. Maksiatnya tak menyebabkan jatah rezeki dari Allah terhenti. Semuanya berjalan normal-normal saja.
Kisah semacam ini, mudah ditemukan dalam kehidupan sehar-hari. Figur sejenis tamu Nabi Syu'aib itu, juga tidak sulit kita dapati dalam dunia kita saat ini. Ada seseorang yang karirnya lancar. Promosinya melesat. Kinerjanya membanggakan. Memenuhi syarat dan rukun untuk bisa dinaikkan pendapatannya. Walhasil, semua on the track kecuali bahwa hubungannya dengan Tuhan yang up and down.
Usai cerita, sampai kabar kepada Nabi Syu'aib bahwa sejatinya Tuhan tengah menghukum tamunya itu. Bahwa, dia ibarat kertas putih yang sudah penuh coretan, sehingga mengubah jatidirinya dari putih menjadi hitam pekat. Begitu sering melakukan maksiat, hingga tak ada bagian kosong yang dapat menjelaskan di mana posisinya di mata Allah. Semua hitam. Semuanya menghitam. Menulis dengan tinta hitam di atas kertas hitam, kita tidak akan mendapati gambaran apapun.
Begitulah kondisi hamba Allah di atas. Memang dia tidak sepenuhnya meninggalkan taqarrub lewat salatnya. Sebelum azan, dia sudah bersiap ke masjid untuk salat berjama'ah. Saat musim umroh tiba, ia termasuk yang sering datang ke baitullah. Begitu idul qurban tiba, ia juga rutin berkurban. Bahkan, setiap Jum'at, ia tak lupa memasukkan sekian lembar rupiah ke kotak amal.
Tapi, itu semua tidak membuatnya dekat dengan Tuhan. Ia dihukum dengan cara tidak bisa memperoleh kenikmatan dalam ibadah-ibadahnya. Hukuman terberat seorang pelaku ibadah adalah apabila dia tidak bisa merasakan kenikmatan dalam ibadahnya, meski secara ketentuan fiqih ia sudah memenuhi semua rukun dan syarat syahnya. Ia hanya tak kuasa memenuhi syarat diterimanya ibadah.
Mengapa? Salah satu sebabnya, ia biasa bermaksiat di tengah-tengah taqarrub-nya kepada Allah SWT. Ia sudah berikrar untuk menempuh jalan yang sudah disiapkan oleh-Nya, tapi ia sering keluar menjauh, bahkan meninggalkan rambu-rambu dengan sengaja. Ia bertaubat tapi ia kembali ke maksiat yang sudah diakui dan ditaubati. Lama-lama ia tidak nikmat di jalan itu dan karenanya tidak akan dekat dengan Tuhan.
Syahdan ketika Ibrahim As. bertanya, kenapa Tuhan lekas-lekas memanggilnya, Tuhan balik bertanya, "Bukan 'kah khalilullah (Ibrahim As. kekasih Allah) tidak suka berpisah lama-lama dari Al-Kholil (Sang Kekasih)?" Dan nyawa Ibrahim pun lepas dari jasadnya. Ia kembali berada sangat dekat dengan Tuhan. Kematian adalah fasilitas mewah dari Tuhan agar para kekasih dapat beristirahat dari hasrat bermaksiat.
Apa isyarat bahwa seseorang sudah merasakan kenikmatan dalam ibadah-ibadahnya? Salah satunya adalah ia ingin mengulang-ulang ibadah itu dengan penuh kerinduan dan kesadaran. Ia mulai "nyandu" dan merasakan ada semacam kekuatan "adiktif" sehingga tampak ada anasir ketergantungan dengan ibadahnya. Ia akan merasa sangat bersalah dan berdosa jika mengabaikan ibadah-ibadah (dalam maknanya yang luas). Ia sudah sampai pada taraf merasa tidak "wujud" tanpa ibadah.
Ia akan terus bergantung kepada As-Shomad, berputar-putar dan berusaha tidak menjauh dari orbit ketuhanan. Sebab, sekali menjauh, ia akan terlempar dari orbit ketaatan kepada Tuhan, menuju tarikan hawa nafsu. Baginya hanya ada dua pilihan; dekat dengan Tuhan lewat ibadah-ibadah atau dekat dengan selain Tuhan, lewat "quwwatun syaithoniyah" (kekuatan setan) yang selalu menjauhkan hamba dari Tuhan.
Walhasil, jika kau rasakan tidak ada kenikmatan dalam Ramadanmu, kau anggap sebagai rutinitas yang beku, hanya untuk menggugurkan kewajiban syariat, maka waspadalah! Lebih-lebih bagi yang membangkang dari kewajiban puasa dan mengutamakan ajakan nafsu dari pada ajakan Tuhannya. Itu bisa jadi sebagai isyarat hukuman bagimu, bagiku dan bagi kita. Jika Ramadanmu tiada nikmat, maka itu isyarat...!
Wallaahu A'lamu Bishshowaab. (*)
Ishaq Zubaedi Raqib
Penulis adalah Guru ngaji di Masjid Annur, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Saat ini mengemban amanah sebagai Ketua LTN-PBNU
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026