Seorang ulama seharusnya tidak mempunyai hubungan yang terlalu erat dengan penguasa dan konglomerat di luar tugasnya untuk menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar. Ingatlah Rasulullah SAW. Bersabda," Seburuk-buruk umatku adalah para ulama yang suka mendatangi para penguasa, sebaliknya sebaik-baik para penguasa adalah mereka yang suka mendatangi kaum ulama." ( lihat lebih lanjut dalam kitab Kasyful Khafa', karya Imam al-Ajluni, jilid 2, halaman 4627. Juga dalam kitab al-Musnad al-Firdaus, karya Imam al-Dailami, jilid 1, halaman 155 ).
Poin Penting Maksud Hadis di atas :
Seburuk-buruk Ulama : Ulama yang mendatangi penguasa demi harta, jabatan, atau takut pada penguasa. Ini mencerminkan ketamakan, di mana ilmu digunakan untuk tujuan duniawi (ulama su').
Sebaik-baik Penguasa : Pemimpin yang sadar posisi dan mendatangi ulama/majelis ilmu untuk mendapat bimbingan akhirat, bukan memaksa ulama tunduk pada ambisi politiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengecualian : Ulama yang mendatangi penguasa untuk amar ma'ruf nahi mungkar (memberi nasihat kebenaran) tidak termasuk golongan yang dicela.
Inti hadis ini adalah menjaga independensi ulama agar tidak terkooptasi oleh penguasa, serta menekankan bahwa ulama harus menjadi rujukan bagi penguasa, bukan sebaliknya.
Oleh karena itu, seharusnya para ulama tidak berharap kepada siapapun, karena tugas utamanya adalah memberi nasihat kepada orang banyak, bukan untuk mengenyangkan perutnya dan mencari harta dari penguasa. Para ulama bergaul erat dengan penguasa dan hartawan, maka hatinya akan dikuasai oleh mereka. Kebaikan mereka bisa mengubah hati para ulama. Akan tetapi, jika penguasa dab pengusaha yang suka mendatangi para ulama karena tugas mereka (ulama ) adalah memberi petunjuk yang baik kepada para penguasa dan pengusaha, agar mereka melaksanakan ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan politik dan bisnisnya.
Dikisahkan bahwa ketika para tokoh Quraisy meminta nasihat Rasulullah SAW, dan mereka diberi waktu khusus, tanpa menghadirkan kaum lemah bersama merek, maka turunlah firman-Nya Surah Kahfi ayat 28 yang terjemahannya," Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas."
Maknanya : Dan bersabarlah engkau wahai Nabi Muhammad SAW.,bersama orang-orang yang beriman yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan berzikir dan berdoa dengan mengharap keridaan-Nya, bukan karena mengharap kesenangan duniawi; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka walaupun mereka miskin, lalu mengarah perhatianmu kepada orang-orang kafir karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, sebab keengganannya mengikuti tuntunan yang Kami wahyukan serta menuruti keinginannya yang teperdaya oleh kesenangan duniawi dan keadaannya yang demikian itu sudah melewati batas.
Sebenarnya ruhani Rasulullah SAW. Sangat tinggi, bahkan jauh dari pendapat para tokoh Quraisy yang minta diberi keistimewaan. Firman Allah SWT. jelas memberi petunjuk beliau ( Rasulullah SAW) bahwa beliau tidak boleh lebih mengutamakan kaum konglomerat dan para penguasa. Beliau diperintah meneruskan dakwahnya seperti yang telah ditunjukkan Allah kepada beliau SAW.
Kondisi di negeri ini agak mengkhawatirkan karena penguasa dan hartawan ini memiliki magnit bagi para ulama ( dan mereka mendekati keduanya ).
Berikut ini adalah keutamaan ulama yang menjauhi pintu penguasa dan pengusaha :
A. Menjaga Kemuliaan dan Otoritas Ilmu Agama : Ulama yang tidak mendekati penguasa terhindar dari perilaku "penjilat" (stempel kezaliman), sehingga wibawa ilmu dan agama tetap terjaga di mata masyarakat. Mereka dianggap sebagai pelita umat karena tidak menjual ayat Allah untuk kepentingan duniawi.
B. Terhindar dari Fitnah dan Suap (Risywah) :Pintu penguasa dan pengusaha seringkali menjadi tempat fitnah. Hadits menyebutkan, "Siapa yang mendatangi penguasa, ia akan terfitnah". Menjauhi mereka berarti menjaga diri dari godaan harta yang tidak halal atau tekanan untuk membenarkan kedustaan.
Dalam pandangan Islam, menjauhi penguasa-khususnya penguasa yang zalim, tidak adil, atau gemar melakukan maksiat-adalah bentuk kehati-hatian (wira'i) untuk menjaga agama, kehormatan, dan terhindar dari fitnah (ujian/ujian iman) serta praktik suap (risywah).
Mengapa Menjauhi Penguasa Dapat Menghindarkan Fitnah dan Suap:
1. Mencegah Fitnah Terjebak Dukungan Kebatilan: Mendekati penguasa zalim berisiko membuat seseorang membenarkan kebohongan mereka atau mendukung tindakan zalim mereka.
2. Terhindar dari Suap (Risywah):Dekat dengan kekuasaan sering kali membuka pintu suap, baik memberi untuk mempermudah urusan atau menerima untuk menutupi kesalahan.
3. Menjaga Agama dan Ibadah: Banyak ulama salaf menghindari penguasa agar tidak terjebak dalam politik praktis yang dapat mengotori hati dan merusak ibadah.
4. Menghindari Terkena Doa Buruk:Penguasa yang tidak adil akan berurusan dengan azab Allah, dan mereka yang membantu atau mendukungnya berisiko terkena imbasnya.
C.Kebebasan dalam Menyampaikan Kebenaran (Amar Ma'ruf Nahi Munkar) : Ulama yang mandiri tidak memiliki beban psikologis atau keterikatan ekonomi, sehingga mereka berani menegur penguasa zalim secara terbuka tanpa rasa takut.
D. Termasuk Ulama yang Dicintai Allah SWT : Ulama yang menjaga jarak dari penguasa yang fasik seringkali dibenci oleh kaum munafik dan penguasa zalim. Hal ini justru merupakan tanda kebenaran mereka, sebagaimana disebutkan bahwa ulama sejati adalah yang dibenci oleh kaum kafir dan munafik.
Dalam pandangan Islam, khususnya menurut pandangan ulama tasawuf dan beberapa atsar (perkataan sahabat/tabiin), menjauhi pintu penguasa (umara) dan pengusaha yang zalim sering dianggap sebagai ciri ulama yang mulia dan dicintai Allah SWT. Hal ini didasarkan pada kekhawatiran ulama tersebut akan terbawa fitnah, menjilat, atau membenarkan kebatilan, sehingga kehilangan independensinya dalam menyampaikan kebenaran (amar ma'ruf nahi munkar).
E. Mendapatkan Kedudukan Tinggi di Akhirat : Menghindari pintu penguasa demi menjaga agama, meskipun hidup dalam kesederhanaan, dianggap sebagai bentuk zuhud tertinggi bagi seorang alim, yang akan mengangkat derajat mereka di sisi Allah SWT.
Dalam pandangan Islam, ulama yang menjaga jarak dari penguasa (umara) dan pengusaha (konglomerat/pemilik modal) demi menjaga integritas ilmu dan agama mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Ulama tipe ini sering disebut sebagai Ulama Akhirat, yang berfokus menanam ilmu untuk memetik kebahagiaan di akhirat, bukan menjualnya demi kemegahan duniawi.
Sebaliknya, ulama yang mendatangi penguasa zalim untuk membenarkan kebatilan dianggap sebagai perilaku yang tercela dalam ajaran Islam. Semoga di negeri tercinta ini ulama tetap fokus untuk memberikan nasihat dan para penguasa mendengarkannya.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Gaji ASN Nunggak 2 Bulan, Kemenhaj-Kemenag Saling Tuding
Pengiriman 8.000 TNI ke Gaza Dinilai Berisiko, MUI Sampaikan Hal Ini
Hukum Sholat Subuh Kesiangan Lengkap Bacaan Niatnya