Selama ini puasa Ramadan identik dengan kewajiban spiritual. Namun, di balik ketaatan menjalankan rukun Islam tersebut, tersimpan mekanisme medis yang luar biasa bagi tubuh, terutama kesehatan otak.
Dalam acara kajian menyambut Ramadan 1447 H di Gedung Bhineka Tunggal Ika, Jakarta, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. Dr. Taruna Ikrar, membedah manfaat puasa dari kacamata neurosains. Menurutnya, puasa adalah momentum "servis besar" bagi organ manusia.
Tiga Keajaiban Fisiologis Saat Puasa Ramadan
Sebagai pakar yang mendalami ilmu saraf, Prof. Taruna menjelaskan bahwa saat seseorang berpuasa selama kurang lebih 16 jam, tubuh mengalami transformasi biologis dalam tiga tahap penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama fase glikolisis (pemecahan glukosa). Pada 8 jam pertama, tubuh menghabiskan cadangan glukosa dari sahur. Setelah habis, tubuh mulai membakar lemak untuk energi.
"Proses ini membantu membersihkan pembuluh darah dari simpanan yang berpotensi menjadi sumber penyakit," ujar Taruna dalam keterangan persnya, Kamis (12/2/2026).
Kemudian proses autofagi. Tubuh secara otomatis membuang sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel baru (regenerasi). Dengan regenerasi sel secara rutin selama sebulan, tubuh membangun benteng terhadap penyakit metabolik seperti diabetes, obesitas, hingga penyakit degeneratif seperti kanker dan jantung koroner.
"Ramadan bukan hanya datangnya bulan, tetapi datangnya kesempatan. Kita siapkan hati sebelum tubuh berpuasa," tutupnya.
Sinergi Sains dan Religi
Kegiatan ini juga menghadirkan dai kondang Ustadz Nur Maulana. Dalam tausiyahnya yang interaktif, ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan rasa syukur.
Ia mengingatkan bahwa menyambut Ramadan harus dimulai dengan doa dan sujud syukur dengan membaca tasbih lengkap 11 kali.
"Ya Allah berikan aku rezeki untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Berniat puasa sebulan penuh karena Allah Ta'ala, memperbarui niat setiap malam sebelum Subuh, serta menyambut malam pertama dengan ucapan Marhaban Ya Ramadan," pesan Ustadz Maulana kepada seluruh staf BPOM yang hadir secara luring maupun daring.
Tak sekadar berbagi ilmu, BPOM juga menunjukkan sisi humanisnya dengan menyantuni 300 pekerja senyap. Mereka adalah petugas kebersihan, satpam, sopir, hingga pramusaji yang selama ini memastikan operasional kantor BPOM berjalan lancar.
Pemberian paket kebutuhan Ramadan ini menjadi simbol bahwa Ramadan harus menjadi momentum penguatan empati sosial di lingkungan lembaga profesional.
(hnh/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026