Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) Prof Vina Adriany, beberkan cara guru beri penjelasan kepada murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bagaimana caranya?
Vina menilai selama ini masyarakat kerap salah paham dalam memandang konsep anak. Menurutnya, anak bukanlah makhluk yang tidak paham akan hal-hal kompleks, termasuk soal karhutla.
"Padahal sebetulnya dari berbagai macam penelitian yang sudah banyak dilakukan, anak itu terbukti bisa memahami hal-hal yang kompleks. Bukan hanya terkait dengan karhutla tapi juga misalnya juga isu seperti gender, masalah stereotype, prejudice itu sebetulnya anak bisa paham," tuturnya kepada detikEdu usai acara 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development (ECD) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).
Dengan begitu, Vina memandang guru PAUD tak perlu ragu untuk menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia. Terutama soal perubahan iklim dan karhutla yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.
"Saya pikir guru bisa menjelaskannya. Justru barang kali ini kesempatan juga bagi guru dalam konteks bahwa melalui kejadian tersebut guru bisa mengajarkan kepada anak isu-isu yang terkait dengan perubahan iklim," sambungnya.
Cara Menjelaskan Karhutla pada Murid
Dalam konteks menjelaskan soal perubahan iklim pada murid PAUD, Vina menyebut guru bisa mengajarkan isu-isu lingkungan yang nyata terjadi, seperti karhutla. Namun, ia mengingatkan agar guru tak membebani murid dan menuntut mereka untuk bertanggung jawab terhadap persoalan lingkungan.
"Tentu tidak bisa, di situ harus ada peran yang lebih besar ya, seperti dari pemerintah, dari perusahaan-perusahaan," bebernya.
Selama prosesnya, guru bisa menjelaskan soal dampak dari karhutla bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Anak juga bisa diberi pemahaman tentang langkah-langkah kecil yang bisa mereka lakukan untuk menjaga bumi.
"Supaya kesadaran akan iklim ini juga bisa menjadi hal yang sama-sama diperkenalkan kepada anak," sampainya.
Saat ini, Vina menyatakan sudah banyak penelitian, modul, bahkan pelatihan yang bisa membantu guru dalam mengajarkan isu-isu lingkungan pada murid PAUD. Namun, ada 3 hal yang bisa guru perhatikan ketika menyampaikan isu karhutla pada murid PAUD, seperti:
1. Materi Disampaikan Sesuai Umurnya
Guru Besar bidang PAUD UPI itu menjelaskan proses pengajaran harus sesuai dengan prinsip pembelajaran. Salah satunya adalah materi yang disampaikan harus age appropriate atau sesuai dengan usia anak.
"Kita bisa mengajarkan isu apa pun juga kepada anak tapi mungkin pilihan bahasanya kemudian kedalaman topiknya itu akan menjadi berbeda," katanya.
2. Pembelajaran Harus Menyenangkan Bukan Menakuti
Ketika mengajarkan isu karhutla, guru harus bisa menyampaikan materi dengan menyenangkan bukan menakut-nakuti. Salah satu tujuan utama dalam pembelajaran iklim di jenjang PAUD adalah meningkatkan kesadaran.
3. Pendidikan Berbasis Tempat
Vina menjelaskan saat ini sedang berkembang metode pendidikan berbasis tempat atau place-based pedagogy. Place-based pedagogy adalah sebuah kesadaran bagaimana pendidikan itu haruslah berbasis tempat.
"Jadi semakin kita memperkenalkan anak dengan konteks tempat di mana anak berada, maka semakin mudah bagi anak untuk mengalami isu lingkungan," ujarnya.
New Zealand menjadi salah satu negara yang menerapkan metode ini. Guru PAUD di negara tersebut memberikan pembelajaran langsung di alam.
"Mengajak anak berjalan, kemudian selama berjalan itu mereka bercakap-cakap dan dari situ kesadaran lingkungan anak meningkat. Termasuk juga kan diajak ke sungai, diperkenalkan bahwa sungai ini fungsinya apa, kenapa kita harus menjaga sungai dan lain seperti ini, dengan hal-hal yang sifatnya langsung hands-on experience, pengalaman langsung," tandasnya.
Pengintegrasian isu iklim dalam pembelajaran PAUD dinilai sangat penting. Hal itu dikupas dalam 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum.
Acara ini diselenggarakan oleh Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC), bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Tanoto Foundation, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), serta Koalisi Nasional PAUD HI.
Diselenggarakan di Jakarta pada 20-22 Oktober, Learning Forum akan mempertemukan para pemangku kepentingan utama dari seluruh kawasan Asia-Pasifik. Kawasan Asia-Pasifik disebut sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Negara-negara di kawasan ini secara konsisten menempati peringkat tertinggi dalam Climate Risk Index. Meskipun anak usia dini merupakan kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim, mereka justru menjadi kelompok yang paling terdampak.
Hal ini disebabkan oleh kondisi tubuh yang masih berkembang, ketergantungan pada pengasuh, serta tingginya sensitivitas terhadap gangguan pada layanan kesehatan, gizi, pendidikan, dan pengasuhan.
Melalui Learning Forum, ARNEC dan para mitra bertujuan mendorong negara-negara untuk mengambil langkah yang nyata dan terarah guna melindungi anak usia dini dari dampak perubahan iklim.
Forum ini juga akan menjadi wadah regional untuk kampanye Act for Early Years Campaign di tingkat global. Kampanye ini membahas berbagai model pendanaan inovatif, menyelenggarakan dialog pendanaan PAUD bersama pejabat senior pemerintah, serta mendukung implementasi peta jalan bersama ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) dan SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) tentang pengasuhan dan pendidikan anak usia dini.
Simak Video "Video: Perjuangan Warga Menembus Asap, Jarak Pandang Terbatas Bahayakan Lalu Lintas"
(det/nwk)