Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin menyoroti tantangan Indonesia dalam hal gizi anak. Sementara ada anak kekurangan gizi karena faktor kekurangan pangan, sebagian lainnya makan tetapi tak bergizi.
Sekolah pun diajak turun tangan untuk mengatasi isu gizi anak-anak di sekolah.
"Saya kira intinya adalah kita menyadari bahwa hal yang paling penting dalam kontek Indonesia saat ini terkait ada kekurangan gizi di anak-anak, juga ada yang berlebih dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi. Jadi ini bagian penting yang ingin kita respon melalui sekolah sebagai agen perubahan," katanya Tatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut ia sampaikan pada perayaan 10 tahun program Nutrition Goes to School (NGTS) Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) di Plaza Insan Berprestasi, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Tatang mengatakan, adanya program diharapkan mendorong perubahan terkait bagaimana anak-anak mendapatkan gizi yang terbaik, tidak kekurangan maupun tidak berlebih.
"Mudah-mudahan kalau gizinya sudah oke, kemudian kesehatannya pasti akan lebih baik, angka absen sekolahnya akan makin rendah, artinya angka kehadiran sekolah makin tinggi, dan konsentrasi penyerapan untuk belajar juga akan lebih baik, sehingga apa yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran akan lebih mudah diserap," jelasnya.
Edukasi Gizi-Praktik Baik di Sekolah
Centre Director SEAMEO RECFON Prof Dr dr. Rini Sekartini, SpA(K) mengatakan, pada NGTS, sekitar 2.400 sekolah lewat kepemimpinan kepala sekolah dan guru menjadi motor edukasi dan praktik baik gizi di sekolah. Implementasi juga termasuk dengan membuat kebun hingga peternakan yang hasilnya bisa digunakan oleh anak-anak di sekolah tersebut untuk mendapatkan asupan nutrisi yang baik.
Sebagai contoh, SMPN 7 Cirebon, Jawa Barat merawat burung-burung puyuh yang hasilnya dapat dimanfaatkan warga sekolah. Hasil penjualan telurnya juga dapat diputar kembali untuk perawatan dan membeli pupuk.
"Jadi gizi ini adalah fondasi utama untuk tumbuh pembangunan, menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif," ucapnya.
"Dan diharapkan dekade berikutnya, ini 10 tahun ke-2, selain menjangkau daerah-daerah lain, sekolah lain di Indonesia, juga kita ke negara-negara lain di South East Asia ya, dan sudah tadi ada perwakilan dari Malaysia dan Laos, mungkin nanti akan kita perluas lagi, seperti New Zealand, Thailand, Filipina, dan lain-lain sesuai dengan konteks," ucapnya.
