×
Ad

Kolom Edukasi

PISA 2025: Apakah Kita Salah Membaca Kecerdasan Anak?

Penulis Kolom - Odemus Bei Witono - detikEdu
Senin, 05 Okt 2026 20:30 WIB
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh ChatGPT
Jakarta -

Setiap kali hasil PISA (Programme for International Student Assessment) diumumkan, kita seperti sedang menyaksikan perlombaan. Angka dibandingkan, posisi negara dicari, lalu pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: Indonesia berada di peringkat berapa? Padahal, mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa sebenarnya yang sedang kita ukur ketika mengukur kemampuan anak-anak Indonesia?

Pertanyaan itu kembali mengemuka setelah OECD merilis PISA 2025 pada 8 September 2026. Dalam asesmen ini, Indonesia memperoleh skor rata-rata 389 dalam sains, 364 dalam matematika, dan 365 dalam membaca. Rata-rata OECD masing-masing 482, 463, dan 461. Dalam sains, hanya 37 persen peserta didik Indonesia mencapai Level 2 atau lebih; dalam matematika 17 persen; dan dalam membaca 27 persen.

Angka tersebut jelas tidak menggembirakan. Kita tidak perlu mencari alasan untuk menutupinya. Kemampuan dasar peserta didik dalam membaca, matematika, dan sains memang harus diperkuat. Namun, ada kesalahan jika angka-angka itu kemudian digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak-anak Indonesia tidak cerdas. PISA mengukur kemampuan tertentu. PISA tidak mengukur seluruh kecerdasan manusia. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dari kebiasaan membandingkan peringkat dan mulai memahami hakikat kecerdasan.

Ray Kurzweil, dalam The Age of Spiritual Machines, mengajukan pertanyaan yang menarik: apakah proses evolusi dapat disebut cerdas? Bahkan, salah satu bab bukunya secara eksplisit diberi judul "The Intelligence of Evolution." Kurzweil mempertanyakan hubungan antara evolusi, kecerdasan manusia, dan perkembangan kemampuan yang lahir dari proses tersebut.

Evolusi menghasilkan kehidupan melalui proses yang sangat panjang. Dari bentuk kehidupan yang sederhana berkembang keragaman organisme yang luar biasa kompleks. Manusia kemudian muncul sebagai makhluk yang mampu bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga belajar, mengingat, mengenali pola, menggunakan bahasa, menciptakan seni, membangun ilmu pengetahuan, dan mengubah lingkungannya.

Dalam How to Create a Mind, Kurzweil mengembangkan gagasan Pattern Recognition Theory of Mind. Menurutnya, kemampuan mengenali pola merupakan bagian sangat mendasar dari cara kerja pikiran manusia. Otak, khususnya neokorteks, bekerja melalui hierarki pengenalan pola; manusia belajar dari pengalaman, membangun hubungan antarpola, kemudian menggunakan pola tersebut untuk memahami dan memprediksi situasi baru.

Jika demikian, kecerdasan tidak semata-mata kemampuan memperoleh jawaban benar. Kecerdasan juga merupakan kemampuan melihat hubungan, menemukan pola, belajar dari pengalaman, dan menggunakan pengetahuan dalam situasi yang berbeda.

PISA mengukur apakah peserta didik mampu menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan. OECD sendiri menjelaskan bahwa PISA tidak sekadar menguji apa yang diketahui siswa, tetapi bagaimana mereka menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk memecahkan persoalan dan menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Karena itu, rendahnya capaian PISA seharusnya menjadi pertanyaan tentang proses pendidikan, bukan sekadar tentang kemampuan anak.



Simak Video "OJK Perluas Literasi Keuangan hingga Ujung Selatan Indonesia"


(nwk/nwk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork