Pemerintah Belanda berencana memperbarui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Indonesia terkait kerja sama pendidikan tinggi, riset, dan ilmu pengetahuan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda Prof. Rianne Monique Letschert dalam pembukaan The Week of Indonesia-Netherlands Education and Research (WINNER) 2026.
Rianne mengatakan pembaruan kerja sama diperlukan untuk memperkuat kolaborasi kedua negara dalam menghadapi berbagai tantangan yang semakin bersifat lintas batas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berencana memperbarui Memorandum of Understanding (MoU) mengenai kerja sama di bidang pendidikan tinggi, riset, dan ilmu pengetahuan," ujar Rianne.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia dan Belanda tidak berhenti pada batas wilayah negara. Sejumlah persoalan seperti perubahan iklim, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), hingga pemenuhan kebutuhan pangan dunia membutuhkan kerja sama lintas negara.
"Tantangan bersama membutuhkan tindakan bersama," kata pakar viktimologi dan hukum internasional tersebut.
Kesamaan Indonesia dengan Belanda
Rianne mengatakan Belanda memiliki sejumlah kesamaan dengan Indonesia dalam memandang pentingnya pendidikan dan pengembangan talenta.
Pada awal 2026, pemerintah Belanda meluncurkan strategi talenta nasional. Selain itu, menurut Rianne, pemerintah Belanda juga melakukan investasi dalam berbagai bentuk pendidikan untuk memperkuat pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.
"Kami juga berinvestasi pada berbagai bentuk pendidikan untuk membangun pengetahuan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan penting," katanya.
Ia juga mengatakan Belanda, seperti halnya Indonesia, memandang penting hubungan antara pendidikan dan dunia kerja.
"Saya melihat banyak kesamaan antara kedua negara kita. Seperti Indonesia, kami percaya pentingnya menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja. Kami berinvestasi pada talenta-talenta potensial di bidang sains dan teknologi," ujarnya.
WINNER Jadi Wadah Kolaborasi
Menurut Rianne, pengembangan talenta tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat kebutuhan di dalam negeri. Kerja sama internasional diperlukan agar pengetahuan dan keahlian dapat terus berkembang melalui pertukaran pengalaman.
"Pengetahuan menjadi semakin bernilai ketika kita membagikannya," katanya.
Rianne menilai WINNER menjadi salah satu contoh bagaimana Indonesia dan Belanda dapat membangun kolaborasi melalui pertukaran pengetahuan.
Selama penyelenggaraannya, forum tersebut mempertemukan peneliti, pendidik, dan penasihat kebijakan dari kedua negara untuk berbagi gagasan serta mengembangkan berbagai inisiatif baru.
Salah satu bentuk kolaborasi yang disebut Ria adalah Program Riset Blue Economy. Melalui program tersebut, ilmuwan Indonesia dan Belanda bekerja sama mengkaji berbagai persoalan di sektor kelautan. Cakupannya antara lain perikanan, energi, pariwisata, hingga keanekaragaman hayati.
Rianne mengatakan kerja sama semacam itu menunjukkan pentingnya menggabungkan pengetahuan dan keahlian dari kedua negara untuk menemukan solusi atas persoalan bersama.
"Dengan berbagi pengetahuan dan keahlian, kita dapat menemukan solusi yang lebih baik untuk berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini," tuturnya.
Ia menilai kolaborasi juga dapat mengubah persoalan yang dihadapi bersama menjadi peluang bersama. "Dengan bekerja sama, kita juga dapat mengubah tantangan bersama menjadi peluang bersama," katanya.
"Karena kolaborasi itulah yang menjadi inti dari WINNER. Dan ketika kita bekerja sama, kita semua menjadi pemenang," imbuhnya.
WINNER merupakan program pertukaran bilateral antara Indonesia dan Belanda, yang mempertemukan para peneliti, pendidik, pembuat kebijakan, dan profesional yang memiliki komitmen terhadap kemajuan berbasis pengetahuan.
Pada gelaran acara tahun ini, WINNER mengusung tema 'Competitive and Resilient Societies: Human Capital, Innovation & Sustainability' dan diadakan secara hibrid di Jakarta dan Amsterdam pada 6 hingga 8 Oktober 2026.
Adapun, hari keduanya dilaksanakan di Universitas Trisakti dan akan berisi sesi tematik yang merupakan program utama kerjasama ini. Penutupan acara akan dilakukan pada hari ketiga, 8 Oktober, di Indonesia House yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Belanda (KBRI Den Haag).
