Setiap kali hasil PISA (Programme for International Student Assessment) diumumkan, kita seperti sedang menyaksikan perlombaan. Angka dibandingkan, posisi negara dicari, lalu pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: Indonesia berada di peringkat berapa? Padahal, mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa sebenarnya yang sedang kita ukur ketika mengukur kemampuan anak-anak Indonesia?
Pertanyaan itu kembali mengemuka setelah OECD merilis PISA 2025 pada 8 September 2026. Dalam asesmen ini, Indonesia memperoleh skor rata-rata 389 dalam sains, 364 dalam matematika, dan 365 dalam membaca. Rata-rata OECD masing-masing 482, 463, dan 461. Dalam sains, hanya 37 persen peserta didik Indonesia mencapai Level 2 atau lebih; dalam matematika 17 persen; dan dalam membaca 27 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka tersebut jelas tidak menggembirakan. Kita tidak perlu mencari alasan untuk menutupinya. Kemampuan dasar peserta didik dalam membaca, matematika, dan sains memang harus diperkuat. Namun, ada kesalahan jika angka-angka itu kemudian digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak-anak Indonesia tidak cerdas. PISA mengukur kemampuan tertentu. PISA tidak mengukur seluruh kecerdasan manusia. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dari kebiasaan membandingkan peringkat dan mulai memahami hakikat kecerdasan.
Ray Kurzweil, dalam The Age of Spiritual Machines, mengajukan pertanyaan yang menarik: apakah proses evolusi dapat disebut cerdas? Bahkan, salah satu bab bukunya secara eksplisit diberi judul "The Intelligence of Evolution." Kurzweil mempertanyakan hubungan antara evolusi, kecerdasan manusia, dan perkembangan kemampuan yang lahir dari proses tersebut.
Evolusi menghasilkan kehidupan melalui proses yang sangat panjang. Dari bentuk kehidupan yang sederhana berkembang keragaman organisme yang luar biasa kompleks. Manusia kemudian muncul sebagai makhluk yang mampu bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga belajar, mengingat, mengenali pola, menggunakan bahasa, menciptakan seni, membangun ilmu pengetahuan, dan mengubah lingkungannya.
Dalam How to Create a Mind, Kurzweil mengembangkan gagasan Pattern Recognition Theory of Mind. Menurutnya, kemampuan mengenali pola merupakan bagian sangat mendasar dari cara kerja pikiran manusia. Otak, khususnya neokorteks, bekerja melalui hierarki pengenalan pola; manusia belajar dari pengalaman, membangun hubungan antarpola, kemudian menggunakan pola tersebut untuk memahami dan memprediksi situasi baru.
Jika demikian, kecerdasan tidak semata-mata kemampuan memperoleh jawaban benar. Kecerdasan juga merupakan kemampuan melihat hubungan, menemukan pola, belajar dari pengalaman, dan menggunakan pengetahuan dalam situasi yang berbeda.
PISA mengukur apakah peserta didik mampu menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan. OECD sendiri menjelaskan bahwa PISA tidak sekadar menguji apa yang diketahui siswa, tetapi bagaimana mereka menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk memecahkan persoalan dan menghadapi tantangan kehidupan nyata.
Karena itu, rendahnya capaian PISA seharusnya menjadi pertanyaan tentang proses pendidikan, bukan sekadar tentang kemampuan anak.
Jika hanya 17 persen peserta didik Indonesia mencapai Level 2 matematika, pertanyaan kita bukan hanya, "Mengapa anak-anak kita lemah matematika?" Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang terjadi dalam proses mereka belajar matematika? Apakah mereka memahami pola di balik angka? Apakah mereka mampu menghubungkan matematika dengan persoalan kehidupan? Apakah pembelajaran memberi kesempatan kepada mereka untuk menemukan hubungan, mencoba strategi, mengalami kesalahan, lalu memperbaikinya?
Demikian juga dengan membaca. Membaca bukan sekadar melafalkan kata. Membaca berarti menemukan makna, menghubungkan informasi, membedakan fakta dan opini, memahami konteks, dan menarik kesimpulan. OECD bahkan mencatat bahwa peserta didik dengan kemampuan membaca tinggi mampu memahami teks panjang, menangani konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang tersirat.
Dibandingkan PISA 2022, skor Indonesia naik 6 poin dalam sains dan 7 poin dalam membaca, sementara matematika turun 2 poin. OECD menyatakan perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Artinya, kita tidak boleh mengklaim telah terjadi peningkatan besar berdasarkan perubahan angka tersebut. Namun, data itu juga menunjukkan bahwa pembacaan terhadap pendidikan Indonesia tidak sesederhana cerita tentang "anak Indonesia semakin bodoh".
Bahkan, PISA 2025 menunjukkan adanya kelompok peserta didik Indonesia yang mampu mencapai performa tinggi meskipun berasal dari kelompok sosial-ekonomi kurang beruntung. Sekitar 15 persen peserta didik yang berada dalam kelompok sosial-ekonomi kurang beruntung berhasil masuk ke seperempat teratas performa sains di Indonesia. OECD menyebut mereka sebagai peserta didik yang secara akademik menunjukkan resilience.
Data menunjukkan bahwa latar belakang sosial-ekonomi memang berhubungan dengan prestasi pendidikan, tetapi latar belakang bukanlah takdir mutlak. Ada anak-anak yang mampu menembus keterbatasan lingkungan.
Jika gagasan Kurzweil tentang pengenalan pola kita gunakan sebagai bahan refleksi, pendidikan Indonesia membutuhkan perubahan cara pandang. Anak jangan hanya dilatih mengingat rumus. Ia perlu memahami pola yang membuat rumus itu bermakna. Anak jangan hanya diminta menghafal isi bacaan. Ia perlu menemukan hubungan antargagasan. Anak jangan hanya menghafal fakta sains. Ia perlu belajar melihat hubungan sebab-akibat, mengajukan hipotesis, membaca data, dan menguji kesimpulan.
Seorang anak yang menghafal seratus rumus belum tentu memahami matematika. Seorang anak yang membaca seratus buku belum tentu memiliki literasi yang kuat. Seorang anak yang mampu menyebutkan banyak fakta ilmiah belum tentu berpikir secara ilmiah.
Yang lebih penting, yakni kemampuan menggunakan pengetahuan ketika berhadapan dengan persoalan baru.
Evolusi tidak menghasilkan kehidupan dalam satu cetakan. Kehidupan berkembang melalui perubahan, variasi, seleksi, dan proses adaptasi yang sangat panjang. Manusia adalah bagian dari proses tersebut. Tetapi manusia memiliki keunikan: ia dapat secara sadar belajar dari pengalaman, menyimpan pengetahuan dalam kebudayaan, meneruskannya kepada generasi berikutnya, dan menciptakan lingkungan yang membantu manusia lain berkembang.
Anak belajar bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ia kemudian memahami hukum fisika. Ia belajar mengenali pola bahasa dan kemudian mampu membaca. Ia melihat hubungan angka dan kemudian memahami matematika. Ia mengamati fenomena alam dan kemudian belajar berpikir ilmiah.
Belajar merupakan proses menemukan keteraturan di tengah keragaman pengalaman. Dalam pengertian inilah gagasan Kurzweil tentang pengenalan pola dapat memberi inspirasi untuk membaca kembali persoalan PISA.
Jika kita hanya mengejar skor, kita bisa tergoda mengajarkan anak cara menjawab soal PISA. Padahal, yang harus kita bangun, yakni kemampuan yang membuat anak mampu menghadapi berbagai persoalan, termasuk persoalan yang belum pernah muncul dalam ujian.
PISA seharusnya menjadi alat diagnosis. Jika membaca lemah, kita memperbaiki budaya literasi dan kualitas pembelajaran. Jika matematika lemah, kita memperkuat penalaran matematis, bukan sekadar latihan soal. Jika sains lemah, kita menghidupkan kembali pembelajaran berbasis pengamatan, eksperimen, bukti, dan argumentasi.
Dan yang paling penting, kita harus mempercayai bahwa kemampuan anak dapat berkembang ketika lingkungan belajarnya memungkinkan perkembangan itu terjadi. Di sinilah tanggung jawab negara, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat menjadi penting.
Baca juga: OECD: Tren Literasi Membaca Turun Imbas AI |
PISA 2025 memang menyampaikan pesan keras bagi Indonesia. Kemampuan dasar kita masih jauh dari yang diharapkan. Tetapi pesan itu seharusnya tidak berakhir pada rasa malu. Tugas pendidikan bukan menemukan siapa anak yang paling cerdas. Tugas pendidikan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan kecerdasan setiap anak berkembang.
Mungkin inilah cara yang lebih tepat membaca PISA 2025. Bukan dengan bertanya, "Seberapa pintar anak-anak Indonesia?" Melainkan dengan bertanya: "Sudah seberapa baik kita menyediakan kondisi agar kecerdasan anak-anak Indonesia dapat berkembang?"
*) Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Kolumnis dan Pemerhati Pendidikan
*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom
Simak Video "OJK Perluas Literasi Keuangan hingga Ujung Selatan Indonesia"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)
