PISA 2025: Rasa Ingin Tahu Anak Indonesia Tinggi Dibanding Negara Lain

ADVERTISEMENT

PISA 2025: Rasa Ingin Tahu Anak Indonesia Tinggi Dibanding Negara Lain

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 08 Sep 2026 18:28 WIB
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Dr Rahmawati ST, MEd
Foto: Nikita Rosa Damayanti/detikcom
Jakarta -

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) resmi meluncurkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Dalam survey tersebut, terlihat rasa ingin tahu siswa Indonesia cukup tinggi.

"Anak-anak Indonesia itu rasa ingin tahunya tinggi dibandingkan dengan banyak negara. Bahkan lebih tinggi dari rerata OECD," ujar Kepala Pusat Asesmen Pendidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rahmawati, dalam Peluncuran Hasil PISA 2025 di Gedung E Komplek Kemendikdasmen, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, kedisiplinan siswa di kelas cukup tinggi. Kendati demikian, Rahmawati melihat hasil PISA Indonesia menunjukkan growth mindset yang masih rendah.

"Tetapi kita tidak bisa menutup mata, growth mindset dari siswa Indonesia ini masih sangat rendah," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Growth mindset sendiri diartikan sebagai keyakinan untuk mengembangkan bakat dan kecerdasan melalui latihan dan pembelajaran.

"Growth mindset ini masih menjadi catatan," ungkapnya.

Sebelumnya, PISA adalah tes yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk menilai kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun. Selain tiga kemampuan di atas, PISA 2025 juga mencari tahu dukungan yang didapat siswa dalam belajar.

PISA 2025 diadakan di 91 negara dengan 760 ribu siswa sebagai sampel. Metode pengujian menggunakan Paper Based Test (PBT) dan Computer Based Test (CBT) dengan periode ujian pada April-Mei 2025.

Dukungan Sekolah di Indonesia Cukup Baik

Lebih lanjut, hasil PISA juga menunjukkan dukungan belajar yang cukup baik dari sekolah maupun siswa. Namun, belum terlihat pada keluarga.

"Tetapi dukungan dari keluarga Ini kita masih relatif sangat rendah dibandingkan hasil secara global," tuturnya.

Ke depannya, Kemendikdasmen akan menegaskan lagi tujuh kebiasaan anak Indonesia di keluarga. Kebiasaan itu termasuk:

1. Bangun pagi
2. Beribadah
3. Berolahraga
4. Makan sehat dan bergizi
5. Gemar belajar
6. Bermasyarakat
7. Tidur cepat

Menurut Rachmawari, tujuh kebiasaan ini sudah diterapkan baik di sekolah maupun keluarga. Akan tetapi penerapannya butuh dukungan dari berbagai pihak.

"Membutuhkan dukungan yang kuat antara orang tua dengan sekolah dan juga masyarakat," tegasnya.



(nir/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads