Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan satu dari lima siswa berusia 15 tahun memiliki kemampuan rendah dalam membaca, matematika, dan sains, naik 16 persen dari hasil PISA 2022.
Lebih lanjut, program penilaian siswa internasional dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) ini menunjukkan tren penurunan literasi membaca siswa berusia 15 tahun di berbagai negara.
PISA merupakan survei yang mengukur kemampuan dan keterampilan dalam sains, membaca, dan matematika siswa berusia 15 tahun. Melibatkan 760.000 siswa di 91 negara dan wilayah ekonomi, PISA 2025 juga untuk pertama kalinya menilai bagaimana siswa belajar dan memecahkan masalah menggunakan alat digital.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rata-rata skor membaca turun 28 poin di seluruh negara OECD antara tahun 2015 dan 2025. Dikutip dari laman resminya, penurunan ini dinilai setara dengan sekitar satu setengah tahun pembelajaran.
Dalam kanal Instagram @the_oecd, OECD Director for Education and Skills, Andreas Schleicher menyoroti penurunan tajam kemampuan membaca siswa di tengah era perkembangan kecerdasan buatan (AI).
"Membaca selalu menjadi induk dari semua keterampilan, jadi ini sangat penting. Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kita melihat penurunan dalam jenis keterampilan membaca, yang paling penting di era AI; kemampuan kita untuk menggabungkan berbagai informasi atau membedakan fakta dari opini untuk menghadapi ambiguitas," ucapnya, diakses Rabu (9/9/2026).
"Anak muda sekarang membaca lebih cepat, tetapi kurang akurat, dan sekali lagi, itu bukan tren yang sehat," sambungnya.
Risiko Jadi Kurang Kritis
Teknologi baru seperti AI menurut Schleicher menjadikan siswa lebih banyak menjadi konsumen pengetahuan yang sudah jadi, sehingga tidak tertuntut untuk berpikir kritis, berefleksi, membandingkan, dan memberikan kritik.
"Sayangnya, perubahan perilaku semacam itu tercermin dalam hasil pembelajaran," ucapnya.
Seperti halnya orang yang tidak bugar hanya karena menonton acara olahraga, ia menekankan, siswa juga tidak menjadi cerdas hanya dengan mengonsumsi konten. Untuk itu, butuh usaha lebih besar dalam memproses materi pelajaran agar sekaligus melatih kemampuan bernalar kritis dan berefleksi.
"Sayangnya, banyak aplikasi AI dirancang justru untuk mempermudah hidup kita. Aplikasi-aplikasi tersebut memberikan jawaban siap pakai, alih-alih mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kemungkinan besar itulah yang tercermin dalam hasil-hasil (PISA) tersebut," ucapnya.
Potensi Positif AI
Di sisi lain, Schleicher mengatakan, penggunaan AI justru tampak berkorelasi positif dengan hasil pembelajaran jika siswa secara sengaja diajarkan cara menafsirkan informasi dari AI.
Berdasarkan hasil PISA, siswa yang mengatakan mereka tidak menggunakan AI untuk menyusun teks tugas menulis memiliki prestasi lebih baik daripada mereka yang mengatakan mereka menggunakannya. Namun, di antara pengguna yang sering, siswa yang menggunakan AI untuk membantu mereka belajar dan diajari cara menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI cenderung berprestasi lebih baik daripada mereka yang tidak menerima bimbingan seperti itu.
"Jadi, membekali anak muda dengan tingkat literasi AI yang tepat bisa menjadi penawar terhadap dampak-dampak negatif tersebut," ucapnya.
Selaras, Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann mengatakan AI dapat bermanfaat jika digunakan secara terarah.
Hasil PISA 2025 menunjukkan, siswa yang mengaku tidak menggunakan AI untuk menyusun teks tugas menulis memiliki prestasi lebih baik daripada mereka yang mengaku menggunakannya. Di sisi lain, siswa yang sering menggunakan AI untuk membantu mereka belajar tetapi diajari cara menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI cenderung berprestasi lebih baik daripada mereka yang tidak menerima bimbingan serupa.
"Teknologi dan AI dapat memperkuat pembelajaran dan membantu mempersiapkan kaum muda untuk masa depan, tetapi hanya jika digunakan dengan tujuan yang jelas dan bukan sebagai pengganti perhatian, usaha, dan pemahaman," ucapnya.
Teknologi dan AI Jangan Berlebihan
Sementara itu, hasil PISA 2025 menunjukkan, prestasi siswa cenderung lebih buruk ketika menggunakan AI secara berlebihan atau ketika menggunakan perangkat untuk hiburan di sekolah.
Hasil survei tahun ini juga menunjukkan adanya gangguan digital bagi siswa di sekolah. Lebih dari seperempat siswa mengatakan, teman sekelas mereka terganggu oleh perangkat digital di sebagian besar atau setiap pelajaran sains.
Lebih lanjut, siswa yang dikelilingi oleh teman sekelas yang terganggu berprestasi lebih buruk, kurang terlibat dalam pembelajaran, dan merasa kurang terhubung dengan sekolah.
Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"
[Gambas:Video 20detik] (twu/nwk)
