Perubahan lanskap geopolitik global belakangan ini telah menggeser arah mobilitas mahasiswa internasional. Ketidakpastian kebijakan imigrasi di sejumlah negara maju, pengetatan visa, hingga dinamika politik domestik di negara tujuan utama seperti Amerika Serikat dan sebagian Eropa, mendorong mahasiswa internasional mencari alternatif baru. Dalam konteks ini, Indonesia mulai disebut sebagai salah satu destinasi yang menjanjikan.
Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat persoalan konseptual yang kerap luput dari perhatian: apakah menguatnya posisi Indonesia dalam arus mobilitas mahasiswa global merupakan hasil dari desain strategis yang matang, atau justru refleksi dari pergeseran eksternal yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita?
Distingsi ini penting, karena akan ditentukan cara kita memaknai fenomena ini, yakni sebagai tanda transformasi yang bersifat struktural atau sebagai momentum sementara yang tidak selalu berkelanjutan.
Momentum Global
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang menunjukkan kemajuan yang patut diapresiasi. Peringkat sejumlah perguruan tinggi meningkat dalam pemeringkatan global. Program studi tertentu, seperti pertanian, teknik, dan beberapa bidang sains, mulai menempati posisi kompetitif. Di sisi lain, kekhasan Indonesia dalam bidang ekonomi Islam, studi kawasan tropis, dan keberagaman sosial-budaya menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa dari Asia, Afrika, dan Timur Tengah.
Pemerintah pun merespons peluang ini dengan cukup progresif. Target ambisius untuk menarik lebih dari 115 ribu mahasiswa internasional pada tahun 2030 menunjukkan adanya kesadaran bahwa pendidikan tinggi kini menjadi arena strategis dalam percaturan global (Kompas, 18/3/2026). Pelbagai kebijakan mulai diarahkan pada internasionalisasi, mulai dari penguatan kerja sama antarnegara, pembentukan pusat layanan mahasiswa asing, hingga penyediaan beasiswa seperti Kemitraan Negara Berkembang (KNB).
Namun demikian, optimisme ini perlu dibaca secara lebih jernih. Sebab, ada perbedaan mendasar antara menjadi pilihan utama dan menjadi opsi alternatif. Indonesia hari ini, dalam banyak hal, masih berada pada kategori kedua.
Mahasiswa internasional yang datang ke Indonesia seringkali bukan karena Indonesia adalah destinasi terbaik yang mereka incar sejak awal, melainkan karena destinasi utama mereka menjadi semakin sulit diakses. Dalam logika ini, Indonesia bukan magnet, melainkan penyangga. Indonesia hadir bukan sebagai pusat gravitasi, tetapi sebagai ruang alternatif. Di sinilah letak persoalan strategisnya.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
(nwk/nwk)