Pemerintah Inggris menghentikan target kuota penerimaan mahasiswa asing dan mendorong kampus membuka cabang di luar negeri. Strategi itu bertujuan untuk meningkatkan ekspor pendidikan hingga £40 miliar (Rp 907,7 triliun) per tahun pada tahun 2030.
Tadinya sejak 2019, Inggris menargetkan 600.000 mahasiswa internasional per tahun untuk belajar di Inggris.
Menteri Inggris Bridget Phillipson menyarankan penghapusan target mahasiswa asing dan menggantinya dengan strategi mendorong kampus membuka cabang di luar negeri untuk memperluas ekspor pendidikan.
"Dengan ekspansi ke luar negeri, universitas, perguruan tinggi, dan penyedia pendidikan kita dapat mendiversifikasi pendapatan, memperkuat kemitraan global, serta memberi jutaan orang akses ke pendidikan kelas dunia di depan pintu mereka sendiri, sambil mendorong pertumbuhan di dalam negeri," kata Phillipson dilansir dari Guardian, dikutip Rabu (21/1/2026).
Departemen Pendidikan Inggris menjelaskan, strategi baru ini akan fokus pada memperluas pendidikan Inggris ke pasar internasional, membangun kemitraan di luar negeri, dan menghadirkan pendidikan Inggris di wilayah baru. Sementara itu, pemerintah menegaskan tetap akan menyambut mahasiswa internasional yang belajar di kampus-kampus di Inggris.
"Pendekatan ini menghapus target jumlah mahasiswa internasional di Inggris dan menggeser fokus ke arah peningkatan ekspor pendidikan ke luar negeri dengan mendukung penyedia pendidikan Inggris untuk berekspansi secara internasional, membangun kemitraan di luar negeri, dan memberikan pendidikan Inggris di pasar baru," kata Departemen Pendidikan Inggris.
Departemen Pendidikan juga akan memperketat syarat dan standar penerimaan mahasiswa asing. Syarat yang diperketat ini menjadi filter untuk memastikan kualitas mahasiswa asing yang sungguh-sungguh ingin belajar. Universitas akan menghadapi pembatasan perekrutan dan pencabutan izin jika para mahasiswa asing ini gagal memenuhi standar tersebut.
Simak Video "Video Inggris Izinkan AS Pakai Pangkalannya untuk Pertahanan Khusus"
(nwk/nwk)