Ranking negara-negara paling bahagia di dunia telah diterbitkan pada Kamis (19/3/2026). Pemeringkatan ini merupakan kolaborasi dari Pusat Penelitian Kesejahteraan Universitas Oxford, Gallup, Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, serta sejumlah dewan redaksi independen.
Peringkat ini didasarkan pada rerata tiga tahun dari penilaian rata-rata setiap populasi tentang kualitas hidup mereka. Para ahli kemudian memperhitungkan variasi antarnegara dan dari waktu ke waktu menggunakan faktor-faktor seperti PDB per kapita, harapan hidup sehat, adanya seseorang untuk diandalkan, rasa kebebasan, kemurahan hati, dan persepsi korupsi.
Faktor-faktor tersebut membantu menjelaskan perbedaan antarnegara. Sementara peringkat kebahagiaan itu sendiri hanya didasarkan pada jawaban yang diberikan responden ketika diminta untuk menilai kehidupan mereka sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
10 Negara Paling Bahagia di Dunia 2026
Dikutip dari World Happiness Report, ini deretan negara paling bahagia di dunia:
1. Finlandia
2. Islandia
3. Denmark
4. Kosta Rika
5. Swedia
6. Norwegia
7. Belanda
8. Israel
9. Luksemburg
10. Swiss
Indonesia Ranking Berapa?
Beberapa negara tetangga dari kawasan Asean yang bertengger di peringkat 100 besar, ada Singapura di peringkat 36 dan Vietnam di peringkat 45. Kemudian, ada Tailan di peringkat 52, Filipina di peringkat 56, Malaysia di peringkat 71, dan Laos pada peringkat 92.
Indonesia ada di peringkat 87. Total terdapat 147 negara yang terlibat dalam pemeringkatan ini. Ranking terakhir adalah negara Afghanistan.
Sosmed Punya Pengaruh Signifikan
Direktur Pusat Penelitian Kesejahteraan Oxford, Jan-Emmanuel De Neve, menggarisbawahi poin penting dalam laporan ini. Menurutnya, secara global tampak jelas bahwa kaitan antara penggunaan media sosial dengan kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada platform yang digunakan, siapa yang menggunakan, bagaimana menggunakannya, dan berapa lama.
"Penggunaan (media sosial) yang berlebihan berkaitan dengan kesejahteraan yang jauh lebih rendah, tetapi mereka yang sengaja menjauhi media sosial juga tampaknya kehilangan beberapa efek positif. Di luar kompleksitasnya, jelas bahwa kita harus sebisa mungkin berusaha untuk mengembalikan unsur 'sosial' ke dalam media sosial," jelasnya, dikutip dari Universitas Oxford.
Dalam laporan ini dijelaskan, anak muda yang menggunakan media sosial kurang dari satu jam per hari memiliki tingkat kesejahteraan tertinggi, bahkan lebih tinggi daripada mereka yang tidak menggunakan media sosial sama sekali. Padahal, diperkirakan remaja menghabiskan rata-rata 2,5 jam sehari di media sosial.










































