2 Dosen UNY Bikin Model Pembelajaran Siswa Milenial, Bisa Diterapkan Guru?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 28 Jun 2022 11:30 WIB
ilustrasi guru dan murid di kelas
Foto: detikcom/thinkstock/Ilustrasi Guru
Jakarta -

Guru selalu dituntut mempunyai kemampuan untuk memperkenalkan pembaruan dalam media pembelajaran. Pembaruan ini penting sebagai metode dalam penyampaian materi kepada peserta didik sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.

Dengan berkembangnya tren, inovasi media pembelajaran juga diperlukan agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan isu.

Plt. Direktur PPG Kemdikbud, Temu Ismail, S.Pd., M.Si mengatakan peran guru dalam melakukan pembaruan atau inovasi sangat dibutuhkan.

"Ke depan tantangan di dalam dunia kerja semakin besar. Kemungkinan akan ada pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga manusia. Artinya perlu ada seorang guru yang bisa mengantarkan, mendampingi, berinovasi kepada siswa-siswanya," ucapnya dalam acara Live Ngobrol PINTAR Tanoto Foundation dan Kemdikbud RI via instagram, Senin( 27/6/2022).

"Sehingga siswa bisa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kondisi ke depan dalam perkembangan dunia global," tambahnya.


Guru PPG Dibekali untuk Inovasi

Temu menyampaikan bahwa PPG Prajabatan menjadi salah satu jalan untuk menciptakan guru profesional yang kreatif dan inovatif.

Hal ini sudah dibentuk dari persiapan kurikulum kuliah hingga media untuk menunjang keterampilan masing-masing guru.

"Dalam penyiapan kerangka kurikulum PPG tahun 2022, telah disiapkan selama 2 semester yaitu kurikulum mata kuliah inti. Kemudian ada selektif, di mana mahasiswa bisa mengambil sesuai karakteristiknya. Ada juga mata kuliah elektif yang sesuai dengan karakteristik masing-masing RPTK," terangnya

Inovasi Media Pembelajaran Dosen UNY

Dalam acara Live Instagram tersebut, Fasilitator Dosen Pintar, Dr. H. Fery Muhamad Firdaus, S.Pd., M.Pd., yang berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran bertema "Implementasi Model Tic Tac Toe Berbantuan Flipbook Berbasis MIKiR".

Basis MIKIR dalam Model Tic Tac Toe yang dimaksud adalah Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi.

"Dalam pembelajaran, mengombinasi ketiga aktivitas dan dibantu oleh media atau bahan ajar. Ini membantu siswa untuk beraktivitas terutama dalam pembelajaran, tidak hanya mendengarkan tapi juga mengalami atau melakukan langsung," ucap Fery.

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengatakan model kolaborasi semacam ini bisa membantu guru untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa sesuai dengan kemampuan 4C di abad 21 yakni Communication, Collaboration, Critical thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation.

"Jadi kuncinya di kolaborasi dan Inovasi," tegas Fery.

Terkait perumusan model pembelajaran tersebut, Fery mengaku telah mendaftarkannya sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Hal ini sudah dilakukannya sejak tahun 2020.

"Media flipbook telah didaftarkan HAKI. Sampai sekarang sudah mendapat 41 HAKI dan sisanya masih proses," tuturnya.

Sementara itu, tak kalah dari Fery, Tika Aprilia, S.Pd., M.Pd. juga menjelaskan pengalamannya dalam membuat "Video Pembelajaran STEAM Berpusat Pada Proyek dalam Mata Kuliah Media Pembelajaran di SD".

"Pengalaman saya membuat video STEAM, awalnya dari waktu pandemi bingung gimana caranya mahasiswa bisa mengikuti proses pembelajaran. Kemudian terpikir model STEAM ini untuk digunakan di dalam kelas. Saya bikin video tutorialnya," jelasnya.

STEAM sendiri adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada hubungan pengetahuan dan keterampilan Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics.

Dosen PGSD UNY ini mengaku bahwa membuat video STEAM itu kan kompleks. Namun, hal itu bisa diatasi dengan menggabungkan dengan project based learning sebagai media.

"STEAM bukan asing, banyak yang membuat tapi sayangnya kurang kreatif dan terstruktur. Langkah-langkahnya mulai dari pembukaan, mengidentifikasi pertanyaan, hingga mendesain proyek, mengevaluasi bisa cek di YouTube," paparnya.

Lebih lanjut, Tika menjelaskan bahwa STEAM bisa dilakukan di dalam pembelajaran SD dan jenjang sekolah lain. Misalnya dengan mengolaborasikan dengan berbagai mata pelajaran untuk digabungkan.

"Misal materi membatik, membuat pola, itu bisa masuk matematika. Seninya bisa di pewarnaan. Tekniknya juga bisa masuk. Jadi gimana materi lebih menarik dan interaktif dan kolaboratif," tutur lulusan S1 Universitas Negeri Semarang itu.

Kepada para calon guru, terutama yang mengikuti PPG, Tika berpesan untuk mau belajar dan mampu berproses dalam hal berinovasi.

"Yang paling utama adalah 2 M. Mau dan Mampu. Yang pertama harus mau. Sebanyak apapun ikut bimbingan kalau tidak mau ya nggak bisa. Yang kedua, mampu akan menyusul setelah pengalaman dan proses yang kontinu," tutup dosen jurusan Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar UNY itu.



Simak Video "Bejat! Guru Agama Cabuli 3 Siswa SMP di Tangsel"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia