×
Ad

Kolom Edukasi

Balita, Gawai, dan Pengasuhan di Era Digital

Penulis Kolom - Rini Hildayani, SPsi, MSi, Psikolog - detikEdu
Kamis, 23 Jul 2026 21:00 WIB
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh Gemini
Jakarta -

Mengasuh anak bukanlah perkara yang mudah, terlebih anak usia balita. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh orang tua, terutama ibu, yang sering dianggap sebagai pengasuh utama dalam keluarga. Anak usia balita umumnya sedang aktif-aktifnya bergerak. Mereka juga sedang mengembangkan kemandirian, yang salah satunya tampil dalam bentuk perilaku menolak.

"Ga mau", "Tidak", atau "Nanti" menjadi kata-kata yang sering terdengar dalam bercakapan antara anak dan orang tua. Di satu sisi, orang tua ingin mengajari anak disiplin dan aturan, misalnya lewat penerapan kegiatan merapikan mainan dan rutinitas jadwal makan. Di sisi lain, anak menampilkan perilaku tidak ingin dikontrol oleh orang tua sebagai tanda bahwa ia kini telah memegang kendali terhadap dirinya sendiri. Anak sering menguji seberapa kuat orang tua bisa bertahan dengan aturan yang mereka tetapkan, salah satunya dalam bentuk perilaku tantrum. Hasilnya akan memberikan kita kesimpulan siapa yang memegang kendali dalam interaksi tersebut: orang tua atau anak.

Selain karakteristik anak, lingkungan menjadi satu faktor yang dapat menambah tantangan dalam pengasuhan. Kemajuan teknologi telah membawa anak-anak hidup dalam era digital. Gawai bukan lagi konsumsi orang dewasa, remaja, dan anak sekolah. Bahkan, anak-anak yang belum mahir bicara pun sudah menggunakannya! Gawai sendiri sebenarnya meliputi berbagai objek yang multifungsi dan menggunakan berbagai teknologi, dari sederhana hingga canggih, dalam pengoperasiannya. Termasuk di dalam gawai adalah televisi dan mesin-mesin permainan yang disediakan di Pusat Hiburan Keluarga yang banyak dijumpai di mal. Akan tetapi, orang seringkali menafsirkan gawai dalam arti sempit, seperti handphone dan tablet. Jenis-jenis gawai inilah yang saat ini terlihat makin banyak digunakan dalam berbagai aktivitas harian, termasuk oleh anak dengan usia yang masih sangat dini.

Kehadiran gawai, seperti handphone dan tablet, dalam kehidupan anak balita memang seperti pedang bermata dua. Mereka tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga dampak negatif. Melalui gawai, orang tua dapat terbantu untuk menstimulasi aspek-aspek perkembangan anak lewat berbagai program hiburan edukatif (edutainment) yang ditawarkan. Anak juga dapat menjelajah dunia tanpa harus keluar rumah. Adanya stimulus gerakan, suara, dan warna yang ditampilkan secara kuat juga tak jarang dapat meningkatkan ketertarikan anak untuk belajar lewat gawai.

Di sisi lain, gawai dapat menimbulkan masalah kesehatan fisik. Kurangnya aktivitas fisik karena asyik bermain gawai, apalagi jika disertai dengan kegiatan mengemil dapat meningkatkna risiko obesitas pada anak. Anak juga jadi kurang dapat menunggu karena terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan. Penggunaan gawai yang berlebihan juga dapat menghambat perkembangan motorik, bahasa, dan sosial anak. Padahal, di masa balita, anak sedang mengembangkan keterampilan motorik kasar dan motorik halusnya. Mereka juga sedang mengembangkan kemampuan bahasa dan keterampilan sosialnya.




(nwk/nwk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork