KemenPPPA dan Tanoto Foundation Rilis Buku Cerita Anak 'Misi untuk Raka'

ADVERTISEMENT

KemenPPPA dan Tanoto Foundation Rilis Buku Cerita Anak 'Misi untuk Raka'

Aan Abdau Rizal - detikEdu
Rabu, 13 Mei 2026 19:16 WIB
Tanoto Foundation
Foto: dok. Tanoto Foundation
Jakarta -

Perkembangan teknologi digital kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari keluarga, termasuk bagi anak usia dini. Namun di balik kemudahan akses gawai, muncul tantangan baru terkait tumbuh kembang anak apabila penggunaan layar tidak didampingi secara tepat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah mengakses dunia digital lebih dari dua jam per hari. Padahal, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan durasi penggunaan layar untuk anak usia 2-6 tahun maksimal satu jam per hari dengan pendampingan orang tua.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak di era digital tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gawai. Anak juga perlu diperkenalkan pada aktivitas alternatif yang menyenangkan sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), serta Tanoto Foundation meluncurkan buku cerita anak berjudul 'Misi untuk Raka'.

Buku cerita bergambar untuk anak usia 3-8 tahun ini dihadirkan sebagai media edukasi yang tidak hanya mendorong aktivitas tanpa gawai, tetapi juga membantu orang tua membangun interaksi positif dengan anak di rumah.

ADVERTISEMENT

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan pentingnya penguatan peran keluarga dalam mendampingi anak di era digital.

"Tanpa pengawasan yang jelas dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, penggunaan gawai berlebihan berisiko mengganggu kebutuhan dasar anak akan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya," ujar Arifah Fauzi, dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Arifah mengatakan buku 'Misi untuk Raka' dihadirkan sebagai instrumen edukatif untuk membantu orang tua dan anak membangun dialog serta menemukan kembali kegembiraan dalam aktivitas fisik dan interaksi langsung yang menyehatkan.

"Perlu kolaborasi banyak pihak untuk menjaga pertumbuhan anak Indonesia optimal, bukan hanya dari orang tua, guru, dan pemerintah, namun juga pihak lain yang berkaitan. Inilah mengapa melalui buku ini kami berkolaborasi dengan Kemendikdasmen dan Tanoto Foundation, yang memiliki visi yang sama," sambungnya.

Di kesempatan yang sama, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati menilai dunia pendidikan perlu merespons tantangan era digital secara tepat.

"Di tengah pesatnya era digital yang membawa tantangan seperti adiksi gawai hingga rendahnya literasi digital, pendidikan harus merespons tidak hanya melalui aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter yang fundamental, salah satunya lewat Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dari Kemendikdasmen," kata Rita.

Menurut Rita, buku Misi untuk Raka juga mendukung penguatan karakter anak yang sejalan dengan nilai-nilai Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

"Kami menyambut baik buku Misi Untuk Raka, yang menguatkan pilar-pilar Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui cerita, anak-anak memiliki alternatif yang positif sekaligus bermanfaat bagi dirinya," ujarnya.

Sementara itu, Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry mengatakan penguatan kapasitas pengasuh dan penyediaan aktivitas alternatif tanpa gawai menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

"Teknologi telah menjadi bagian dari kegiatan keseharian keluarga. Namun, anak usia dini tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, membaca, berkarya, dan membangun interaksi sosial secara nyata. Karena itu, melalui buku ini kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih positif, yaitu tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga memperkenalkan aktivitas alternatif yang menyenangkan dan bermakna bagi anak," ujar Eddy.

Sebagai informasi, Misi untuk Raka merupakan buku seri keempat dari Buku Cerita Anak SIGAP yang dikembangkan bersama KemenPPPA dan Kemendikdasmen. Sebelumnya, Tanoto Foundation telah meluncurkan buku Rubrik Unik Korona pada 2021, Saat Noni Datang pada 2022, dan Bisa atau Tidak, Ya? pada 2024.

"Buku-buku ini menjadi bukti nyata dari komitmen kami dalam membantu pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pengasuhan dan literasi anak," tutup Eddy.

Buku 'Misi untuk Raka' mengangkat empat aktivitas utama #SeruTanpaLayar, yakni bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya. Buku ini juga dilengkapi tips praktis bagi orang tua melalui prinsip 3S, yaitu screen time, screen break, dan screen zone untuk membantu menciptakan pola pengasuhan yang sehat dan seimbang di rumah.

Untuk menjangkau lebih banyak keluarga di Indonesia, buku Misi untuk Raka tersedia dalam format cetak dan dapat diunduh secara gratis melalui website www.tanotofoundation.org.



(prf/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads