Kata 'Neuroscience' Mulai Berseliweran, Belajar Ilmu Apa Sih Itu?

ADVERTISEMENT

Kata 'Neuroscience' Mulai Berseliweran, Belajar Ilmu Apa Sih Itu?

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikEdu
Kamis, 04 Jun 2026 10:30 WIB
Trisa Triandesa
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Mungkin kamu pernah mendengar kata 'neuroscience' seliweran beberapa tahun terakhir ini. Mulai familier. Apalagi kalau lagi membahas masalah pengendalian emosi dan kesehatan mental. Namun, sebenarnya, apa sih neuroscience itu?

"Ilmu neuroscience itu sederhananya ilmu yang mempelajari soal struktur dan fungsi otak. Karena kan bagaimana kita merasakan sesuatu, apa yang kita pikirkan, tingkah laku kita, semua itu kan terjadi di otak. Jadi, dengan mempelajari neuroscience, kita bisa memahami bagaimana sih otak kita ini memengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Dari mulai cara berpikir, cara dia merasakan sesuatu, ataupun berperilaku," ujar Trisa Triandesa, yang menyebut dirinya neuroscience communicator.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trisa merupakan lulusan MSc Cognitive Neuroscience and Neuropsychology dari Birkbeck, University of London, dan sarjana psikologi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung. Lalu bila ingin belajar neuroscience ini, harus mengambil jurusan STEM alias eksakta atau humaniora?

Dia menjelaskan bahwa bidang neuroscience itu sangat luas. Trisa mengibaratkan jurusan kedokteran dengan spesialis yang beraneka macam. Demikian juga neuroscience.

ADVERTISEMENT

"Jadi kan neuroscience sendiri kan ibaratnya, bayangin kayak dokteran. Kedokteran kan ada dokter mata, ada dokter THT, ada dokter kulit. Nah, neuroscience juga banyak turunannya. Jadi kayak cabang-cabang ilmunya, ada cognitive neuroscience, ada affective neuroscience, ada cellular neuroscience, ada educational neuroscience, computational neuroscience, pokoknya ada banyak banget gitu," ujar Trisa saat berbincang dengan detikEdu di Gedung Transmedia, Jl. Kapten Tendean, Jakarta, Selasa (2/6/2026), ditulis Kamis (4/6/2026).

Trisa memutuskan mengambil cognitive neuroscience karena linier dengan bidang S1-nya yakni psikologi, dari bidang humaniora. Namun, ada pula cabang neuroscience yang merupakan cabang STEM.

"Dari psikologi, (meneruskan studi) cognitive neuroscience bisa. Tapi kalau misalkan maunya computational neuroscience, misalnya mau bikin model cara otak berfungsi atau nggak, mekanisme otak seperti apa, jurusan komputer bisa. Karena justru kan dia harus paham ya coding segala macam gitu. Jadi, sebenarnya tergantung minatnya mau neuroscience apa. Luas, luas. Jadi memang harus tahu cabang neuroscience apa yang emang kita mau," tutur penulis buku 'Moving Forward Not Moving On: Belajar Ngerti Perasaan Sendiri Lewat Neurosains' ini.

"Kalau emang cognitive neuroscience, psikologi cocok. Kalau misalkan maunya clinical neuroscience, kedokteran itu bisa atau nggak anak biologi bisa. Gitu contohnya," imbuhnya.

Apa Saja yang Dipelajari?

Selama kuliah S2, Trisa mengungkapkan belajar anatomi dan struktur otak. Kemudian sedikit banyak belajar biologi dan memahami fungsi-fungsi tubuh. Apakah memakai kadaver (jenazah untuk praktikum anatomi) untuk memahami fungsi dan struktur otak manusia seperti laiknya mahasiswa kedokteran?

"Nggak sih. Tergantung, kalau misalkan clinical neuroscience, mungkin iya. Kalau nggak, cellular neuroscience mungkin iya. Mungkin mereka perlu ada otak beneran yang misalkan dilihat gitu kan," jawab Trisa.

Trisa juga belajar tentang elektroensefalografi (EEG) (prosedur mengukur dan merekam aktivitas listrik di dalam otak). Ada juga yang belajar Magnetic Resonance Imaging (MRI) (prosedur pemindaian medis tanpa radiasi yang menggunakan medan magnet kuat dan gelombang radio) otak.

"Belajar, tapi itu juga tergantung peminatannya. Kebetulan kalau aku waktu itu riset disertasi aku atau riset S2 aku itu pakenya EEG. Jadi aku waktu itu di lab riset pakai alat EEG itu. Dan temen aku ada juga pake MRI, jadi tergantung risetnya pengen apa," jelas dia.

Luasnya bidang neuroscience membuat Trisa makin tertantang.

"Tantangannya kalau buat aku pribadi sih, karena ini juga kan multidisipliner ya. Nggak cuman belajar otak doang. Tapi kan ada biologinya, ada fisikanya juga ada, kimianya juga ada. Terus kalau kita ngomongin cognitive neuroscience itu kan lebih bagaimana otak kita, cara otak kita memproses informasi. Ketika memproses informasi, kan ada banyak faktornya, ya, faktor lingkungan, budaya. Jadi sangat multifaktor banget ketika mempelajari ini. Sulit tapi sekaligus menyenangkan, karena kan jadi bisa dapat gambar yang lebih utuh," urainya.

Mau Belajar Neuroscience, Mata Pelajaran Apa yang Harus Kuat?

Buat detikers yang mengincar bidang neuroscience, coba dengar kata Trisa, mata pelajaran apa yang perlu diperkuat sejak SMP hingga SMA.

"Biologi sih yang pasti. Pasti biologi. Mungkin kalau dipelajarin di sekolah SMP, SMA, pasti harusnya biologi, karena kan psikologi belum diajarin ya. Kimia, fisika juga sih. Karena untuk, contohnya untuk paham kayak mesin-mesin neuroimaging atau pemindaian otak itu, untuk paham cara kerja gimana dan cara membacanya seperti apa, kita harus punya pemahaman yang nggak usah terlalu mendalam, tapi cukup lah soal fisika dan juga kimia. Karena ya prosesnya sangat (4:24) terlibat, (4:25) sangat bersentuhan dengan fisika dan kimia itu tadi. Tapi yang penting sih, biologi," pesannya.

Nah, detikers, tertarik nggak menekuni bidang neuroscience di masa depan? Persiapkan diri sejak dini, ya!

Halaman 3 dari 3


Simak Video "Video: Fokus Kesehatan Mental, Lauv Putuskan Hiatus"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads