Selama puluhan tahun, ilmuwan memetakan jaringan dan bagian otak berbeda untuk mencari tahu bagaimana kemampuan kognitif manusia muncul. Kemampuan otak yang disorot antara lain kemampuan untuk fokus, mengingat, memproses bahasa, dan bernalar.
Peneliti berharap, pendekatan ini membantu manusia untuk memahami fungsi spesifik dari setiap sistem di dalam otak. Lantas, area otak sebelah mana yang paling berperan penting atas kecerdasan?
Penelitian terbaru dari University of Notre Dame menunjukkan, rupanya kecerdasan tidak berasal dari satu area otak tertentu. Sebaliknya, kecerdasan muncul dari cara berbagai jaringan otak berkomunikasi, berkoordinasi, dan bekerja bersama secara efisien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal Kecerdasan
Dilansir dari ScienceDaily, dalam ilmu saraf modern, otak sering digambarkan sebagai kumpulan sistem yang memiliki tugas berbeda. Misalnya, ada jaringan yang berperan dalam memori, perhatian, persepsi, hingga bahasa.
Meski pemisahan fungsi ini membantu memahami kerja otak, pendekatan tersebut belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana semua sistem itu menghasilkan pikiran yang terintegrasi.
Tim peneliti kemudian mempelajari organisasi otak secara keseluruhan menggunakan teknik neuroimaging. Mereka menganalisis data pemindaian otak dan kemampuan kognitif dari ratusan orang dewasa dalam proyek Human Connectome Project.
Hasilnya menunjukkan, kecerdasan umum tidak berasal dari satu jaringan tertentu. Kecerdasan muncul ketika banyak jaringan otak bekerja bersama dan saling bertukar informasi.
Kecerdasan umum dalam hal ini merujuk pada kemampuan otak sehingga seseorang dapat belajar, memecahkan masalah, dan beradaptasi.
"Masalah kecerdasan bukan terletak pada di mana kecerdasan itu berada di otak, tetapi pada bagaimana kecerdasan muncul dari cara berbagai jaringan otak berkomunikasi dan memproses informasi secara bersama-sama," kata Aron Barbey, profesor psikologi di University of Notre Dame, dilansir dari Science Daily.
Kunci Kecerdasan
Penelitian ini didasarkan pada kerangka teori yang disebut Network Neuroscience Theory. Teori ini memandang otak sebagai sistem jaringan besar yang saling terhubung.
Menurut teori ini, kecerdasan bergantung pada beberapa hal utama. Pertama, otak harus mampu membagi tugas ke berbagai sistem khusus yang berbeda. Kedua, jaringan-jaringan tersebut perlu memiliki koneksi jarak jauh yang kuat agar informasi dapat mengalir dengan cepat.
Selain itu, terdapat wilayah pengatur di otak yang berfungsi seperti "koordinator", membantu menentukan jaringan mana yang perlu aktif untuk menghadapi tugas tertentu. Contohnya saat belajar hal baru, membuat keputusan, atau memecahkan masalah.
Keseimbangan antara spesialisasi per area kecil otak dan integrasi keseluruhan bagian otak juga menjadi faktor penting. Ketika kelompok jaringan kecil dapat bekerja efisien sekaligus tetap terhubung dengan jaringan lain, otak mampu memproses informasi secara lebih fleksibel.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa kecerdasan manusia berkembang selama masa kanak-kanak, dapat menurun pada usia lanjut, dan sering terpengaruh oleh cedera otak yang luas. Dalam semua kondisi tersebut, yang berubah bukan hanya fungsi tertentu, tetapi koordinasi seluruh sistem otak.
Peneliti juga menilai pemahaman ini bisa memberi inspirasi bagi pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Jika kecerdasan manusia berasal dari kerja sama banyak sistem, maka membangun kecerdasan buatan yang benar-benar fleksibel mungkin membutuhkan pendekatan yang serupa.
Hasil studi dipublikasi dengan judul 'The network architecture of general intelligence in the human connectome' dalam jurnal Nature Communications, 26 Januari 2026.
(rhr/twu)











































