Hubungan antara orang tua dan anak sering kali menjadi lebih rumit saat anak memasuki masa remaja. Namun, hasil studi terbaru menunjukkan perubahan perilaku ini bukan semata-mata karena pemberontakan atau kesalahan pola asuh, melainkan karena adanya pergeseran biologis pada otak anak.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Stanford University, California, Amerika Serikat (AS) ini mengungkapkan, pada usia sekitar 13 tahun, otak remaja mulai mengalami perubahan neurologis yang signifikan. Di tahap ini, otak tidak lagi memprioritaskan suara ibu dan mulai lebih responsif terhadap suara-suara orang baru di luar rumah, dilansir Futura Sciences.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam riset ini, para peneliti melibatkan 46 anak muda berusia antara 7 hingga 16 tahun beserta ibu mereka. Metodenya melibatkan perekaman suara para ibu, yang kemudian diperdengarkan kembali kepada anak-anak mereka.
Sambil mendengarkan suara tersebut, para peneliti mengukur aktivitas neurologis dalam otak anak menggunakan pemindaian MRI.
Hasil penelitian rupanya memberikan alasan medis atas fenomena sosial yang selama ini kerap memicu konflik keluarga. Rupanya, otak anak-anak di bawah usia 12 tahun bereaksi sangat kuat terhadap suara ibu mereka. Namun, bagi remaja berusia 13 hingga 16 tahun, aktivitas saraf yang muncul saat mendengar suara ibu justru jauh lebih rendah.
Hasil studi ini dipublikasi Daniel A Abrams dan rekan-rekan di Journal of Neuroscience (2022).
Bukan Sekadar Pemberontakan, Ini Evolusi Biologis Otak
Hingga saat ini, perubahan mendadak pada perilaku remaja sering kali hanya dijelaskan melalui perspektif sosiologis. Ada anggapan umum bahwa remaja mulai berubah karena mereka tumbuh dewasa, bertemu orang-orang baru, mencari kebebasan, dan sekadar mengikuti fase kehidupan.
Namun, temuan biologis di laboratorium menunjukkan, alasan 'pemberontakan' remaja ternyata jauh lebih kompleks.
Sejak lahir hingga sekitar usia 12 tahun, suara ibu adalah salah satu sinyal paling penting bagi otak seorang anak. Otak memperlakukan suara tersebut sebagai pusat keamanan dan penghargaan. Hasil pindai MRI menunjukkan, mendengar suara ibu saja sudah cukup untuk memicu aktivitas saraf sangat kuat di area otak yang mengatur emosi dan kepuasan.
Namun, kondisi tersebut berubah saat anak menginjak usia 13 tahun. Pada tahap ini, suara-suara asing yang belum dikenal mulai menghasilkan respons saraf yang lebih kuat dibandingkan suara ibu mereka sendiri.
Secara biologis, ini adalah fase saat otak anak mulai membuka diri terhadap dunia yang lebih luas dan mulai membangun identitas mandiri.
(crt/twu)
