Mungkin kamu pernah mendengar kata 'neuroscience' seliweran beberapa tahun terakhir ini. Mulai familier. Apalagi kalau lagi membahas masalah pengendalian emosi dan kesehatan mental. Namun, sebenarnya, apa sih neuroscience itu?
"Ilmu neuroscience itu sederhananya ilmu yang mempelajari soal struktur dan fungsi otak. Karena kan bagaimana kita merasakan sesuatu, apa yang kita pikirkan, tingkah laku kita, semua itu kan terjadi di otak. Jadi, dengan mempelajari neuroscience, kita bisa memahami bagaimana sih otak kita ini memengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Dari mulai cara berpikir, cara dia merasakan sesuatu, ataupun berperilaku," ujar Trisa Triandesa, yang menyebut dirinya neuroscience communicator.
Trisa merupakan lulusan MSc Cognitive Neuroscience and Neuropsychology dari Birkbeck, University of London, dan sarjana psikologi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung. Lalu bila ingin belajar neuroscience ini, harus mengambil jurusan STEM alias eksakta atau humaniora?
Dia menjelaskan bahwa bidang neuroscience itu sangat luas. Trisa mengibaratkan jurusan kedokteran dengan spesialis yang beraneka macam. Demikian juga neuroscience.
"Jadi kan neuroscience sendiri kan ibaratnya, bayangin kayak dokteran. Kedokteran kan ada dokter mata, ada dokter THT, ada dokter kulit. Nah, neuroscience juga banyak turunannya. Jadi kayak cabang-cabang ilmunya, ada cognitive neuroscience, ada affective neuroscience, ada cellular neuroscience, ada educational neuroscience, computational neuroscience, pokoknya ada banyak banget gitu," ujar Trisa saat berbincang dengan detikEdu di Gedung Transmedia, Jl. Kapten Tendean, Jakarta, Selasa (2/6/2026), ditulis Kamis (4/6/2026).
Trisa memutuskan mengambil cognitive neuroscience karena linier dengan bidang S1-nya yakni psikologi, dari bidang humaniora. Namun, ada pula cabang neuroscience yang merupakan cabang STEM.
"Dari psikologi, (meneruskan studi) cognitive neuroscience bisa. Tapi kalau misalkan maunya computational neuroscience, misalnya mau bikin model cara otak berfungsi atau nggak, mekanisme otak seperti apa, jurusan komputer bisa. Karena justru kan dia harus paham ya coding segala macam gitu. Jadi, sebenarnya tergantung minatnya mau neuroscience apa. Luas, luas. Jadi memang harus tahu cabang neuroscience apa yang emang kita mau," tutur penulis buku 'Moving Forward Not Moving On: Belajar Ngerti Perasaan Sendiri Lewat Neurosains' ini.
"Kalau emang cognitive neuroscience, psikologi cocok. Kalau misalkan maunya clinical neuroscience, kedokteran itu bisa atau nggak anak biologi bisa. Gitu contohnya," imbuhnya.
Simak Video "Video: IDAI Soroti Poster Film 'Aku Harus Mati', Dinilai Picu Bunuh Diri"
(nwk/faz)