Begadang Bikin Fokus Hilang, Tapi Otakmu Diam-diam Sedang Bersih-bersih

ADVERTISEMENT

Begadang Bikin Fokus Hilang, Tapi Otakmu Diam-diam Sedang Bersih-bersih

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Kamis, 22 Jan 2026 19:30 WIB
Ilustrasi begadang
Ilustrasi begadang. Foto: Getty Images/Filmstax
Jakarta -

Pernah merasa otak terasa lambat setelah begadang semalaman? Penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkap alasan ilmiahnya.

Saat seseorang kekurangan tidur, otak tampaknya memaksa diri untuk melakukan proses pembersihan alami yang biasanya hanya terjadi saat tidur. Namun, proses ini datang dengan harga mahal, yaitu turunnya fokus dan perhatian secara drastis.

Melansir MIT News, studi ini dipimpin oleh Prof Laura Lewis, ahli teknik elektro dan ilmu saraf di MIT's Institute for Medical Engineering and Science, bersama mahasiswa peneliti Zinong Yang. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang Cairan Otak yang "Menyusup" Saat Terjaga

Selama tidur, cairan serebrospinal (CSF) berperan penting untuk "mencuci" otak dari limbah sisa aktivitas saraf. Namun, dalam kondisi kurang tidur, para peneliti menemukan hal mengejutkan, yaitu gelombang cairan ini tetap muncul ketika seseorang terjaga, bertepatan dengan hilangnya fokus sesaat.

"Jika kamu tidak tidur, gelombang CSF mulai muncul saat kamu terjaga. Ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Namun, kemunculannya menimbulkan efek samping besar, yaitu perhatianmu gagal pada saat-saat ketika gelombang ini mengalir," jelas Prof Lewis.

ADVERTISEMENT

Penelitian ini melibatkan 26 relawan yang diuji dua kali. Satu kali setelah tidur cukup dan satu kali setelah tidak tidur semalaman. Mereka diminta menjalani tes perhatian visual dan auditori di dalam pemindai MRI sambil mengenakan EEG untuk merekam aktivitas otak.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang kurang tidur merespons lebih lambat dan lebih sering melewatkan stimulus visual maupun suara. Pada momen ketika perhatian mereka hilang, terjadi arus keluar cairan serebrospinal dari otak, diikuti aliran balik sesudahnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa otak berusaha menebus kekurangan tidur dengan "menyelundupkan" proses pembersihan saat seseorang masih bangun, tetapi menukar kemampuan fokus untuk fungsi perawatan otak.

"Karena otak sangat membutuhkan tidur, ia mencoba masuk ke keadaan mirip tidur untuk memulihkan sebagian fungsi kognitifnya. Sistem cairan otak berusaha mengembalikan fungsi itu dengan memaksa otak berganti antara kondisi fokus tinggi dan kondisi pembersihan," tambah Zinong Yang.

Satu Sirkuit Otak, Dua Fungsi: Fokus dan Pemulihan

Selain aliran cairan otak, para peneliti juga menemukan perubahan lain saat perhatian peserta menurun, yaitu denyut jantung dan laju napas melambat serta pupil mata menyempit sekitar 12 detik sebelum cairan otak keluar. Setelah fokus pulih, pupil kembali melebar.

"Yang menarik, fenomena ini tidak hanya terjadi di otak, tapi juga di seluruh tubuh," kata Lewis.

"Hal ini menunjukkan adanya koordinasi yang sangat erat antara otak dan sistem tubuh. Saat perhatian gagal, kamu tidak hanya merasakannya secara mental, tapi juga secara fisiologis," imbuhnya.

Tim peneliti menduga adanya sirkuit terpadu yang mengatur perhatian, aliran darah otak, hingga dinamika cairan serebrospinal. Salah satu kandidat kuat adalah sistem noradrenergik, yang berperan mengatur kewaspadaan dan berbagai fungsi tubuh melalui neurotransmiter norepinefrin.

Sistem tersebut diketahui berosilasi selama tidur normal, dan kemungkinan besar juga berperan dalam transisi antara fokus dan kelelahan pada kondisi kurang tidur.

Dengan temuan ini, Lewis menekankan pentingnya tidur yang cukup sebagai bentuk perawatan diri paling mendasar bagi otak.

"Gelombang cairan otak ini penting untuk membersihkan sisa-sisa aktivitas harian, tetapi jika terjadi di saat kamu bangun, itu artinya otakmu sedang berjuang keras untuk bertahan," jelas Lewis.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience dengan judul "Attentional failures after sleep deprivation are locked to joint neurovascular, pupil and cerebrospinal fluid flow dynamics", 29 Oktober 2025



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads