Pernah Dibayar Rp 1.000, Guru Pensiunan Ini Buka Kursus Bahasa Jepang Seikhlasnya

ADVERTISEMENT

Pernah Dibayar Rp 1.000, Guru Pensiunan Ini Buka Kursus Bahasa Jepang Seikhlasnya

Cicin Yulianti - detikEdu
Minggu, 19 Jul 2026 18:00 WIB
Kisah inspiratif pensiunan guru bernama Rudy Dermawan. Buka kursus bahasa Jepang dengan bayaran seikhlasnya.
Foto: Dokumen Pribadi/Kisah inspiratif pensiunan guru bernama Rudy Dermawan. Buka kursus bahasa Jepang dengan bayaran seikhlasnya.
Jakarta -

Kisah inspiratif kali ini datang dari seorang pensiunan guru bahasa Jepang bernama Rudy Dermawan. Meski usianya sudah hampir kepala tujuh, ia masih melanjutkan mengajar.

Kini, Rudy membuka sebuah kursus online bahasa Jepang. Alih-alih mematok biaya kursus, ia justru membuka kelas dengan sistem bayar seikhlasnya.

Sebelum membuka kelas bahasa Jepang dengan bayaran seikhlasnya, Rudy ternyata sudah melewati berbagai pengalaman pahit. Misalnya, setelah ia pensiun, Rudy tidak bisa langsung menerima uang pensiunnya karena SK belum ada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pensiun Januari 2021, tapi belum terima SK. Saya sudah minta bantuan ke TU dan dinas, jawabannya hanya disuruh menunggu karena pandemi. Akhirnya Januari gaji saya nggak keluar karena SK belum ada. Anak istri makan dari mana?" kenang Rudy saat berbincang dengan detikEdu, Sabtu (18/7/2026), ditulis Minggu (19/7/2026).

Dari 2 Murid yang Ikut Kursus Kini Jadi Ribuan

Selama tiga bulan tanpa penghasilan, pensiunan guru SMAN 81 Jakarta ini mencari jalan keluar. Rudy kemudian mengunggah tawaran mengajar bahasa Jepang di Facebook dengan biaya sukarela.

ADVERTISEMENT

"Saya tulis, 'Tolong bantu saya, saya mau ngajar bayar seikhlasnya saja untuk menutupi kekurangan karena belum digaji.' Memang kenyataannya begitu, bukan dibuat-buat," ujarnya.

Tak disangka, ternyata ada yang antusias dengan tawaran tersebut. Awalnya hanya ada dua murid, itu pun merupakan tetangga dan kerabat muridnya.

Namun, tak lama setelah itu, unggahan Rudy viral di media sosial. Banyak yang berempati dengan kisahnya dan peminat kelasnya pun semakin bertambah.

Pria asal Bandung ini sempat kembali viral pada 2023 melalui TikTok. Kini, muridnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga peserta yang sedang menempuh studi S3 di Jepang.

Belakangan, popularitasnya kembali meningkat. Bahkan, ia mengaku kewalahan membalas pesan karena lebih dari 2.000 orang menghubunginya.

"Saya sambil ngajar juga. Banyak chat yang belum kebaca. WhatsApp saya juga sempat diblokir sistem karena terlalu banyak aktivitas," katanya.

Dibayar Rp 1.000 hingga Rp 1,5 Juta

Rudy memang tidak mematok bayaran besar dari muridnya. Ia menerima pembayaran Rp 10.000, Rp 100.000, bahkan Rp 1.000.

Ia tak memungkiri bahwa setiap orang mempunyai kemampuan finansial yang berbeda. Dengan niat mau belajar saja, menurutnya, sudah awal yang baik.

"Yang paling kecil pernah bayar Rp 1.000. Ada Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu, Rp 200 ribu. Yang paling besar pernah Rp 1,5 juta sebulan," ujarnya.

Walau tidak dipatok biaya, Rudy menuntut para murid untuk serius ketika belajar. Pasalnya, Rudy kerap melihat beberapa murid yang main-main dan sering bolos.

"Kalau memang belum mampu, gratis juga boleh. Tapi saya lihat serius atau tidak. Kalau main-main atau sering menghilang, ya saya coret," tuturnya.

Mengajar dari Pagi hingga Malam

Tak kenal usia, Rudy justru semakin rajin mengajar. Dalam sehari-hari, ia menghabiskan waktu dari 8 pagi hingga 10 malam untuk mengajar.

Seluruh kelas dilaksanakan secara daring menggunakan Zoom dengan durasi sekitar 80 menit. Satu kelas bisa berisi 10-60 peserta.

"Kalau offline, rumah saya kecil. Kalau sewa tempat kursus harus bagi hasil. Sekarang kan zamannya online, saya bisa mengajar dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam dari rumah," katanya.

Adapun materi yang diajarkan Rudy sangat beragam, mulai dari tingkat dasar hingga persiapan ujian kemampuan bahasa Jepang (JLPT) level N5 dan N4.

Rudy juga menyusun modul ajar dalam bentuk PDF. Modul ajar tersebut disusun dari materi yang umum digunakan di sekolah.

Mengajar Tak Kenal Batas Usia

Memang, awalnya Rudy membuka kelas untuk mencukupi kebutuhan finansialnya setelah masa pensiun. Namun, ternyata mengajar adalah cara baginya untuk tetap mengamalkan ilmu yang dimiliki.

Ia mengaku sempat menghadapi berbagai kesulitan setelah pensiun, termasuk harus membayar denda pinjaman bank karena pemotongan gaji terhenti saat SK pensiun belum terbit. Meski begitu, ia memilih tetap bersabar dan memanfaatkan waktunya untuk mengajar.

"Saya percaya pasti ada kasih Allah. Makanya saya isi waktu dengan mengajar daripada hanya tidur dan makan. Takut sakit juga kalau nggak ada kegiatan," ujarnya.

Rudy mempunyai sebuah harapan sebagai pengajar bahasa Jepang. Ia ingin ada pihak yang menaungi bidang pendidikan atau Kedutaan Jepang membantunya dalam mengembangkan media pembelajaran.

"Saya bukan mengharapkan uang. Saya ingin ada bantuan buku, materi, atau aplikasi supaya pembelajaran bahasa Jepang bisa lebih berkembang. Harapan saya nanti punya aplikasi sendiri untuk mengajar dari tingkat dasar sampai menengah," pungkasnya.



(cyu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads