Pada wisuda University of Leicester yang digelar Jumat (16/1/2026) lalu, ada ibu dan anak yang kompak lulus bersama. Mereka adalah Mehnaaz Fayaz dan putrinya Kauser Fayaz.
Hal yang menjadi sorotan selain kekompakan bisa kuliah S2 hingga lulus bersama adalah mereka mendapat predikat istimewa (distinction). Keduanya menyabet gelar Magister Science (MSc) Cancer Molecular Pathology and Therapeutics, demikian seperti dilansir BBC dan laman University of Leicester, ditulis dan dikutip, Jumat (30/1/2026).
Walau ujungnya mereka bisa wisuda dalam waktu yang sama, Mehnaaz mengaku ia dan putrinya mendaftar pada waktu yang berbeda dan tak mengira bisa lulus secara bersamaan. Mereka mendaftar bersama agar bisa saling mendukung selama menempuh pendidikan S2.
Kisah kebersamaan itu dapat sambutan hangat dari Wakil Rektor Bidang Pendidikan University of Leicester, Linda Ralphs.
"Kami menyambut semua orang. Kisah seperti itulah yang benar-benar membuat hari kami menyenangkan," kata Ralphs.
Kuliah S2 di Tempat yang Sama
Mehnaaz membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk kembali belajar. Ia menempuh pendidikan magister bersama putrinya, Kauser, di University of Leicester pada program MSc Cancer Molecular Pathology and Therapeutics.
Kemudian keduanya menjalani perkuliahan bersama. Keduanya bekerja sebagai rekan satu tim di laboratorium dan meraih predikat istimewa. Ia berharap kisahnya bisa menginspirasi para orang tua agar tidak ragu melanjutkan pendidikan.
"Mereka bilang setelah menikah dan punya anak, kamu tidak bisa belajar. Faktanya, kamu bisa, bahkan bisa belajar bersama anakmu," ujar Mehnaaz.
Ia mengatakan keputusannya kembali kuliah didorong oleh ketertarikannya pada riset kanker. Keputusan tersebut diambil untuk memperdalam pemahaman tentang aspek molekuler dalam penelitian kanker.
"Saya ingin mematahkan stereotip. Pendidikan itu untuk semua orang, tidak ada batas usia untuk belajar," katanya.
Cerita Semasa Kuliah
Kauser kemudian menceritakan pengalamannya selama kuliah bersama sang ibu. Ia mengatakan banyak teman sekelas yang kerap mengira dirinya dan Mehnaaz adalah saudara kandung karena memiliki nama belakang yang sama.
"Sering sekali orang mengira kami saudara. Kejadiannya cukup sering, dan rasanya menyenangkan karena itu berarti ibu menua dengan anggun," kata Kauser.
Ia menambahkan banyak rekan mahasiswa terkejut saat mengetahui hubungan mereka sebagai ibu dan anak.
"Yang paling mengejutkan mereka adalah cara kami berinteraksi. Di kampus, tidak ada hierarki seperti di rumah. Hubungan kami sangat santai dan setara," ujarnya.
Kauser dan ibunya tinggal di rumah keluarga yang sama di Leicester selama menempuh pendidikan S2. Keduanya sempat mengira akan belajar bersama secara intens, namun akhirnya menyadari adanya perbedaan gaya belajar masing-masing.
Meski kerap bersama, Kauser mengakui gaya belajarnya dan sang ibu tidak selalu sama. Menurutnya, sang ibu lebih tekun belajar dibanding dirinya.
"Ibu itu tipe kutu buku. Dia belajar jauh lebih banyak daripada saya, tapi saya harus jujur, nilai disertasi saya lebih tinggi," ujarnya.
Meski memiliki gaya belajar yang berbeda, Kauser mengatakan mereka tetap sering menghabiskan waktu bersama di kampus.
"Kami biasanya duduk berdekatan di kelas dan menjadi partner lab untuk salah satu proyek. Kami bekerja sangat efektif dan mendapat hasil yang baik," kata Kauser.
Kauser mengakui kuliah bersama sang ibu menjadi pengalaman yang berkesan baginya. Ia menyebut sang ibu sebagai sosok panutan dalam hidupnya.
"Dia ibu saya, dan dia juga role model saya," kata Kauser.
Ia berharap pencapaian ibunya bisa memotivasi perempuan lain untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, banyak perempuan yang ragu kuliah kembali karena faktor usia.
"Saya harap pencapaian ibu bisa menginspirasi perempuan lain yang merasa terlalu tua untuk kuliah. Ibu menunjukkan bahwa tidak pernah ada kata terlambat," ujarnya.
Setelah lulus, Kauser bekerja sebagai penulis di perusahaan alat kesehatan. Sementara itu, Mehnaaz bersiap memulai magang sebagai penulis artikel medis.
Simak Video "Video Kesaksian Warga Saat Temukan Ibu-2 Anak di Bandung Tewas"
(nwk/nwk)