Pakar Kedokteran Unair: Orang Obesitas Lebih Rentan Terkena COVID-19

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 18 Jul 2021 19:09 WIB
Anak obesitas
Foto: iStock/Pakar Kedokteran Unair: Orang Obesitas Lebih Rentan Terkena COVID-19
Jakarta - Kadar vitamin D dalam tubuh rupanya berkorelasi dengan obesitas. Hal ini dijelaskan oleh alumnus Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Henry Suhendra.

Henry menerangkan kaitan antara kadar vitamin D dalam tubuh dan orang-orang yang menderita obesitas. Dirinya menyebutkan pula bahwa penderita obesitas lebih rentan terkena COVID-19.

Mengapa demikian? Henry memaparkan, orang-orang dengan berat badan berlebih mempunyai kandungan vitamin D dalam tubuh hanya 50 hingga 70 persen dari mereka yang bertubuh ramping.

Seperti dilansir dari laman Unair, ia menjelaskan di mana vitamin D yang harusnya larut dalam lemak, justru lebih banyak terperangkap di dalam lemak pada orang-orang yang obesitasnya tinggi. Maka dari itu, vitamin D yang tersisa dalam pembuluh darah hanyalah sedikit.

Melalui kanal YouTube Deddy Corbuzier Henry menyatakan, "Yang bisa dipakai kan vitamin D di pembuluh darah, baru dibawa ke organ-organ. Jadi semakin tebal lemak seseorang, vitamin D akan semakin banyak tersimpan di lemak dan jadinya useless."

Dirinya juga menambahkan bahwa vitamin D sangat bagus untuk metabolisme otot. Tiap terjadi kerusakan otot, maka vitamin tersebut dibutuhkan untuk perbaikan. Hendra menyatakan bahwa protein saja tak cukup.

Lebih lanjut, untuk mengetahui apakah kadar vitamin D dalam tubuh sudah cukup atau belum, diperlukan kendali pada beberapa aspek lain. Contohnya, kalsium dalam darah, kalsium pada urin, juga hormon yang dikeluarkan oleh paratiroid.

Guna mencukupi kebutuhan vitamin D dalam tubuh, ada beberapa cara seperti berjemur sinar matahari atau mengonsumsi suplemen vitamin D.

Henry menganjurkan agar masyarakat berjemur pada pukul 11 hingga 1 siang. Ia menyebutkan bahwa jam-jam tersebut sesuai dengan hasil riset salah satu peneliti asal Boston yang datang ke Indonesia pada 2011 silam.

"Jam berjemur paling optimal, dimana kadar Ultraviolet B maksimum didapat bukanlah pagi hari, melainkan pada jam 11 hingga jam 1 siang," tegasnya.

Tak hanya itu, sebaiknya 85 persen tubuh terpapar sinar matahari secara langsung. Pasalnya, jika terhalang baju atau yang lain, tubuh hanya mendapatkan ultraviolet A yang tidak membentuk vitamin D.

Henry berujar bahwa durasi berjemur turut dipengaruhi tipe kulit. Dari enam tipe kulit, mayoritas penduduk Asia tenggara berada di urutan ke-4 dan ke-5.

"Kita kalau jemur rata-rata perlu tiga sampai empat kali lebih banyak daripada bule-bule untuk mendapatkan vitamin D yang sama. Itu susah, makanya bisa kita ganti juga dengan suplemen," pungkas alumnus FK Unair 1992 tersebut.

Simak Video "Indekos Hingga Kuliner di Unair yang Para Maba Harus Tahu"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia