Studi di Luar Negeri

Kisah Mahasiswa RI Berkuliah di Korea : Bermalam di Kampus Selama Ujian

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Senin, 17 Mei 2021 12:00 WIB
Rayhan Hanif Usamah (ketiga dari ka) bersama-sama dengan kawan kuliahnya di kampus  Kunsan National University, Korea Selatan (dok. pri)
Foto: Rayhan Hanif Usamah (keempat dari ka) bersama-sama dengan kawan kuliahnya di kampus Kunsan National University, Korea Selatan (dok. pri)
Jakarta - Salah seorang mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Korea Selatan, tepatnya Kunsan National University, Rayhan Hanif Usamah menceritakan keunikan budaya belajar mahasiswa Korea yang memengaruhi dirinya saat berkuliah di negeri Ginseng.

Budaya belajar dari mahasiswa Korea cenderung ambisius dan tidak mengenal waktu demi meraih nilai akademik. Tidak mengherankan, bila menemukan mahasiswa-mahasiswa Korea tengah bermalam di study room kampusnya selama periode ujian berlangsung.

Menurut Rayhan, bahkan mereka rela untuk mengurangi jatah tidurnya hanya untuk belajar.

"Saya benar-benar melihat orang ketika ujian hanya tidur 2 jam selama sehari. 22 jam yang lain digunakan untuk belajar. Jadi,
ada sampai orang yang ke study room bawa handuk, peralatan mandi, dan makanan pagi-siang-sore hanya untuk belajar di study room," paparnya, Minggu (16/5/2021) dalam Program Lipsus detikcom dengan PPID (PPI Dunia).

"(Mahasiswa Korea) tidur di meja. (Sebab) mereka sangat malu kalau mendapat nilai B, makanya 'ambis' (belajar dengan gigih) banget," tambahnya lagi.

Hidup di tengah lingkungan dengan budaya belajar yang tidak mengenal waktu tersebut, membuat Rayhan mengaku ia juga terpengaruh dengan budaya tersebut. Semasa menuntut ilmu di Korea Selatan, ia sempat menginap di study room selama periode ujian seperti yang lain.

Bahkan durasi belajarnya ikut bertambah dari durasi lama belajarnya selama di Indonesia.

"Misalnya yang biasanya (durasi) saya belajar katakanlah hanya 10 jam, ternyata nanti bakal jadi 14 jam. Saya tidur di kampus juga, (tetapi) minimal tidur 4 jam-lah," terang mahasiswa S2 jurusan Mechanical Engineering ini.

Namun, Rayhan juga menambahkan ia tetap sadar diri meski waktu dan gaya belajarnya ikut terpengaruh dengan lingkungan mahasiswa di Korea. Artinya, ia masih tetap paham dengan kapasitas dirinya sendiri saat belajar.

"Tapi saya tetap menyesuaikan dengan kemampuan saya sendirilah. Jadi saya tidak mau memaksakan (diri) karena saya harus mengikuti mereka, (lalu) saya jadi sakit. Itu tidak (pernah)," imbuh Rayhan.

Adapun salah satu kesulitan yang dialami Rayhan selama 4 tahun mengenyam pendidikan di negeri ginseng tersebut adalah kendala bahasa. Ia mengungkapkan bahwa bahasa Korea yang dipelajarinya (text book) ternyata sangat berbeda dengan pengaplikasian bahasa Korea sehari-hari.

Hal itulah yang membuat Rayhan harus belajar dua kali setelah menerima materi dari dosen semasa studi S1-nya dulu.

"Setelah kuliah biasanya saya harus belajar lagi di rumah untuk mengartikan penjelasan dosen tadi. Tiap kelas pasti saya nge-record (rekam) suara mereka (dosen) sehingga saya bakal dengar lagi setelah kelas," tuturnya.

Selain itu, minimnya kesediaan makanan halal di daerah tempatnya tinggal, daerah Jeollabuk-do, menjadi kesulitan lain yang harus dialaminya. Rayhan mengatakan ia tidak bisa sembarang membeli makanan yang dijajakan di luar.

Oleh karena itu, biasanya ia hanya sebatas membeli ikan, kue, dan sebagainya ketika sedang di luar. Untuk mengonsumsi ayam, Rayhan harus membeli online ayam mentah di sebuah toko makanan halal. Kemudian, ayam tersebut nantinya akan diolah sendiri di rumah.

Sebagai penutup, Direktur Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat PPID ini memberikan saran bagi mahasiswa yang memiliki minat untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Utamanya adalah dengan menentukan target kampus tujuan dan motivasi di baliknya dengan jelas.

"Tentukan negara tujuan dan motivasi untuk ke negara tersebut tuh apa? Kalau motivasi kita sudah kuat, insyaa Allah kesiapannya bakal kuat juga," saran Rayhan bagi yang hendak berkuliah di luar negeri.

Simak Video "Protes Jepang Buang Limbah Nuklir ke Laut, Mahasiswa Korsel Cukur Rambut"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia