Keledai terkadang digambarkan sebagai hewan yang keras kepala, 'bodoh', dan mudah tertipu pada sejumlah dongeng dan fabel. Pada cerita keledai dan karung garam, contohnya, ia menceburkan muatan kapas sehingga bebannya jadi sangat berat.
Sedangkan pada pepatah 'keledai pun tak akan jatuh ke lubang yang sama', sosok hewan ini dijadikan batas minimum sosok yang kurang cerdas, tetapi dapat belajar dari pengalaman.
Atas stigma keledai pada dongeng dan fabel tersebut, pakar genetika ekologi IPB University Prof Ronny Rachman Noor mengatakan awalnya muncul dari kebiasaan keledai berhenti dan tetap tidak mau bergerak saat dalam bahaya, meski disuruh. Keledai biasanya justru mengamati dan mempelajari keadaan, sedangkan kuda dalam keadaan yang sama akan langsung kabur,
Perilaku inilah yang kata Ronny membuat keledai dicap keras kepala. Namun, alih-alih bodoh, perilaku keledai tersebut justru cerminan kecerdasannya.
"Hasil penelitian tentang tingkah laku dan genetik menunjukkan keledai dikenal cerdas. Jika keledai berhenti bergerak, itu menandakan keledai sedang mengamati lingkungan untuk menilai apakah aman atau ada bahaya yang mengintai," terangnya, dikutip dari laman IPB, Selasa (13/10/2026).
Ronny mengatakan, keledai bahkan lebih cerdas daripada kuda dalam menilai keamanan lingkungannya.
"Dalam hal menilai keamanan lingkungan, keledai lebih cerdas daripada kuda. Tingkah laku keledai seperti ini mencerminkan kehati-hatian, daya analisis, dan kecerdasan sebagai ekspresi instingnya untuk bertahan hidup," jelasnya.
"Keledai lebih berhati-hati dan memiliki daya analisis lebih mendalam, sehingga menjadikan keledai sebagai hewan cerdas dan memiliki strategi bertahan hidup yang sangat baik," sambungnya.
Sementara itu, stigma keledai hewan keras kepala dan susah diajari menurutnya terbentuk dari cerita rakyat turun-temurun dari Timur Tengah dan India, yang kemudian masuk ke Indonesia lewat jalur perdagangan.
"Sebenarnya, ungkapan 'bodoh seperti keledai' yang sering kita dengar, hanya sebuah metafora untuk menggambarkan orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Hal ini tersirat dalam ungkapan aslinya dalam bahasa Arab, 'Al-himaru la yu'allim', yang bermakna bahwa 'keledai tidak bisa diajari'," ucapnya.
Kehati-hatian dan Adaptasi
Ronny mengatakan, perilaku keledai yang lebih berhati-hati menganalisis keadaan sebelum memutuskan melawan atau melarikan diri ketimbang kuda juga dipengaruhi oleh kehidupan sosialnya.
Meskipun sama-sama hewan sosial, ia menjelaskan, keledai hidup dalam kelompok kecil yang ikatannya kuat pada pasangan. Keledai juga dapat hidup di lingkungan yang lebih ekstrem ketimbang kuda.
"Keledai sangat tahan di wilayah kering seperti gurun dan lingkungan miskin nutrisi, sedangkan kuda hidup di padang rumput yang luas dan hijau. Karena itu, keledai lebih adaptif terhadap lingkungan marginal dan panas," ucapnya.
Sementara itu, kuda hidup dalam kelompok lebih besar dengan komunikasi lebih kompleks. Kuda juga cenderung lebih ekspresif dalam mengungkapkan rasa sakit ketimbang keledai.
Keledai dan Kuda Berkerabat
Dari sisi evolusi, Prof Ronny mengatakan keledai (Equus africanus asinus) dan kuda (Equus ferus caballus) berkerabat karena satu genus, Equus. Sekitar 55 juta tahun lalu, genus ini berevolusi dari nenek moyangnya, Hyracotherium.
Keledai kemudian didomestikasi di Afrika Timur Laut sekitar 5.000-4.000 SM, sedangkan kuda di wilayah Stepa Pontic-Caspian sekitar 2.200-2.000 SM.
"Dalam perjalanan evolusinya, keledai dan kuda akhirnya memiliki jumlah kromosom berbeda. Keledai memiliki jumlah kromosom 62, sedangkan kuda 64. Perbedaan inilah yang menyebabkan keturunan hasil persilangan menjadi steril karena terdapat kromosom yang tidak memiliki pasangan," terangnya.
Dua Jenis Persilangan, Dua Hasil
Dari sisi ilmu genetika, Prof Ronny mengatakan hasil keturunan keduanya yang berkarakter berbeda jadi menarik. Persilangan kuda betina dengan keledai jantan menghasilkan mule. Mule justru bertubuh mirip kuda, memiliki telinga lebih panjang, dan punya daya tahan dan kecerdasan lebih baik daripada keledai.
Sebaliknya, hasil persilangan kuda jantan dengan keledai betina menghasilkan hinny. Upaya persilangan yang jarang berhasil ini menghasilkan hewan yang bertubuh lebih kecil, lebih tenang, dan tidak sekuat mule.
Hal ini menurutnya menjadi menarik lantaran keledai biasanya dijadikan simbol suatu kelompok yang lebih rendang daripada kuda. Padahal dalam berbagai hal, keledai menurutnya lebih cerdas daripada kuda.
Tahan Banting dan Ramah Anak-Disabilitas
Selaras, peneliti dan dokter hewan Fakultas Kedokteran Hewan & Ilmu Biomedis di Texas A&M University, Nora Matthews mengatakan keledai dapat memetabolisme obat lebih cepat, lebih mudah beradaptasi dengan perubahan iklim, lebih tahan cuaca panas, serta lebih bisa bertahan lama tanpa air ketimbang kuda.
Matthews juga menyoroti bahwa keledai lebih tahan terhadap banyak penyakit ketimbang kuda. Ia menambahkan, keledai juga bisa bertugas sebagai hewan penjaga yang melindungi kawanan domba dari predator seperti coyote dan serigala.
"Mereka akan menendang dan menggigit anjing dan serigala dengan cara yang sangat efektif," tuturnya, dikutip dari laman Texas A&M University.
Ia menambahkan, keledai juga hewan yang sangat penyayang, mudah dilatih, dan merespons dengan sangat baik terhadap perintah suara. Sifatnya yang lembut membuat keledai bahkan dapat ditunggangi penyandang disabilitas, dan biasanya berperilaku baik di sekitar anak-anak.
"Sebenarnya, mereka adalah makhluk yang sangat cerdas yang tidak mudah takut seperti kuda. Ketika terancam, mereka cenderung membeku (freeze), yang mungkin menjadi alasan mereka mendapatkan reputasi sebagai hewan yang keras kepala," imbuhnya.
Simak Video "Video: Pramono Sebut Pekerja yang Tewas di Patung Kuda Bukan PJLP Jakarta"
(twu/pal)