Pernahkah Anda melihat hewan peliharaan seolah menikmati ketika manusia atau hewan lain mengalami kesialan? Bisa jadi perilaku tersebut tampak seperti schadenfreude, istilah dalam bahasa Jerman untuk menggambarkan rasa senang ketika melihat orang lain mengalami kesusahan atau kemalangan.
Namun, apakah hewan benar-benar bisa merasakan emosi kompleks tersebut?
Pertanyaan itu sempat menarik perhatian setelah seekor burung beo abu-abu Afrika bernama Jack viral pada 2023. Jack diketahui mampu menirukan suara batuk dan napas berbunyi milik ayah pemiliknya, yang kerap mengalami kesulitan bernapas akibat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) parah.
Yang membuat Jack semakin menarik perhatian bukan hanya kemampuannya menirukan suara. Burung tersebut tampak menikmati suara batuk pria yang menurut pemiliknya tidak disukainya. Bahkan, sang pemilik mengatakan Jack memiliki suara batuk favorit.
Perilaku Jack sekilas menyerupai schadenfreude. Pada manusia, emosi ini misalnya dapat muncul ketika seorang rival di tempat kerja kehilangan pekerjaan atau ketika seseorang yang dianggap menyebalkan mengalami kemalangan.
Hal serupa juga kerap ditafsirkan pemilik hewan. Kucing yang terlihat terlalu senang ketika seseorang tersandung atau kuda yang tampak seperti "menyeringai" saat seseorang menginjak kotorannya bisa dianggap sedang menikmati penderitaan manusia.
Tetapi, benarkah hewan mengalami emosi tersebut? Atau manusia sebenarnya sedang melakukan antropomorfisme, yakni memberikan sifat, pikiran, atau pengalaman manusia kepada hewan?
Sulit Membuktikan Emosi Kompleks pada Hewan
Para peneliti perilaku dan kecerdasan hewan menilai kemungkinan hewan tidak mengalami schadenfreude dengan cara yang sama seperti manusia. Namun, pertanyaan tersebut masih relatif sedikit diteliti secara formal.
Salah satu kendalanya adalah hewan tidak dapat menjelaskan pengalaman emosionalnya melalui bahasa.
"Penelitian mengenai emosi kompleks sangat sulit ketika kita berbicara tentang hewan yang tidak dapat mengomunikasikan emosinya melalui bahasa," kata Zachary Silver, asisten profesor psikologi di Occidental College, Los Angeles, yang memimpin laboratorium kecerdasan anjing.
Menurut Silver, peneliti dapat mengamati perilaku, sinyal neurologis, maupun aktivitas hormon untuk memperkirakan kondisi emosional seekor hewan. Namun, indikator tersebut tidak selalu bisa menunjukkan emosi spesifik yang sedang dialami.
Seekor anjing yang menarik telinganya ke belakang dan menyelipkan ekor di antara kedua kaki, misalnya, kemungkinan sedang mengalami kondisi emosional negatif. Sebaliknya, anjing yang mengibaskan ekornya dapat menunjukkan kondisi emosional positif.
Masalah muncul ketika peneliti mencoba menentukan emosi yang lebih spesifik. Anjing yang terlihat bahagia, misalnya, belum tentu sedang mengalami kebahagiaan seperti yang dipahami manusia. Bisa saja ia hanya tertarik pada sesuatu yang baru.
"Selain positif dan negatif, tanpa kata-kata untuk menggambarkan emosi, menjadi sangat sulit untuk menguraikannya," ujar Silver.
Karena itu, peneliti harus berhati-hati ketika menerjemahkan perilaku hewan menggunakan kategori emosi manusia.
(pal/pal)