Kucing Saling Jilat, Benarkah Tanda Sayang?

ADVERTISEMENT

Kucing Saling Jilat, Benarkah Tanda Sayang?

Kalila Untsa - detikEdu
Jumat, 18 Sep 2026 07:31 WIB
Foto kucing lucu
Ilustrasi kucing saling jilat Foto: Smithsonian Magazine
Jakarta -

Kucing terkenal sebagai salah satu hewan peliharaan yang tidak menyukai air. Mereka membersihkan diri dengan menjilat bagian-bagian badannya atau dikenal dengan istilah grooming.

Namun, jika kamu memelihara lebih dari satu kucing, ada perilaku lain yang mungkin pernah terlihat. Seekor kucing menjilati tubuh kucing lainnya, terutama di bagian kepala atau leher.

Perilaku tersebut disebut allogrooming, yakni aktivitas merawat atau membersihkan tubuh individu lain. Selama ini, allogrooming kerap dianggap sebagai tanda persahabatan atau kedekatan antarkucing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benarkah hanya itu alasannya?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perilaku saling menjilat ternyata bisa memiliki fungsi yang lebih kompleks. Selain berkaitan dengan hubungan sosial, allogrooming mungkin berperan dalam mengajak bermain, meredakan ketegangan, bahkan membantu menjaga kebersihan tubuh.

ADVERTISEMENT

Saling Jilat Tak Selalu Berarti Persahabatan

Pandangan lama mengenai allogrooming, berdasarkan pengamatan terhadap koloni kucing yang hidup bebas, menganggap perilaku ini sebagai tanda kasih sayang. Saling menjilat diduga membantu kucing membangun dan mempertahankan ikatan dengan anggota kelompoknya, termasuk melalui pembentukan aroma tubuh yang sama.

Namun, penelitian pada 1998 memberikan gambaran yang lebih kompleks.

Studi terhadap 25 kucing yang hidup bersama dalam sebuah lingkungan dengan akses di dalam dan luar ruangan menemukan perilaku agresif dalam sekitar 35 persen sesi allogrooming.

Temuan tersebut memunculkan dugaan saling menjilat tidak selalu berkaitan dengan kedekatan atau persahabatan. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut mungkin justru berfungsi untuk meredakan ketegangan, terutama ketika kucing hidup dalam ruang yang terbatas dan perkelahian bisa menimbulkan risiko cedera.

Studi Terbaru dari Belgia

Pertanyaan mengenai fungsi allogrooming kemudian kembali diteliti oleh Morgane Van Belle, pakar perilaku kucing dari Ghent University, Belgia, bersama sejumlah peneliti.

Dalam studi berjudul Unraveling feline social dynamics: a video-based observational study on allogrooming in domestic cats, mereka menganalisis video perilaku allogrooming dari 53 rumah yang memelihara dua kucing.

Dikutip dari Live Science, peneliti menemukan makna perilaku tersebut dapat berbeda-beda tergantung situasinya.

Dalam beberapa kesempatan, kucing terlihat saling menjilat sambil berdekatan dan mengikuti atau meniru postur tubuh satu sama lain. Situasi semacam ini diduga menunjukkan allogrooming dapat membantu memperkuat ikatan sosial di antara kedua kucing.

Sebagian besar jilatan juga diarahkan ke bagian telinga. "Hal ini mungkin dapat membantu kucing rileks karena kulit di sana kaya akan ujung saraf sensorik," kata Van Belle dikutip dari Live Science.

Efek menenangkan dari aktivitas grooming juga ditemukan pada hewan lain. Pada kuda, misalnya, perilaku saling merawat dapat menurunkan detak jantung. Sementara pada monyet, grooming diketahui dapat memicu pelepasan hormon yang berkaitan dengan rasa nyaman.

Bisa Jadi Sinyal Mengajak Bermain

Allogrooming ternyata tidak selalu berakhir dengan suasana tenang. Dalam sejumlah pengamatan, aktivitas saling menjilat justru dilanjutkan dengan perkelahian yang bersifat bermain.

Kucing-kucing tersebut saling mencengkeram menggunakan kaki depan kemudian berguling-guling bersama. Pola tersebut membuat peneliti menduga allogrooming juga dapat berfungsi sebagai sinyal untuk memulai permainan.

Namun, situasinya dapat berubah ketika perilaku saling menjilat diikuti tanda-tanda konflik.

Peneliti menemukan beberapa perilaku seperti telinga ditarik ke belakang, mencakar atau memukul dengan kaki, hingga menggigit. Dalam situasi tersebut, salah satu kucing dapat berdiri atau membungkuk di atas kucing lainnya.

Kedua kucing juga menunjukkan tanda-tanda stres yang lebih samar, seperti menjilati bibir, menggelengkan kepala, atau menggaruk tubuh sendiri.

Berdasarkan pengamatan tersebut, tim Van Belle menduga allogrooming dapat menjadi sinyal penenang (appeasement signal) dalam situasi yang berpotensi memicu konflik.

Misalnya, ketika seekor kucing ingin mengambil alih tempat tidur yang sedang ditempati kucing lain. Saling menjilat mungkin menjadi cara untuk meredakan ketegangan sehingga perselisihan tidak berkembang menjadi perkelahian yang sebenarnya.

Perilaku serupa juga ditemukan pada hewan lain. Pada meerkat, misalnya, individu yang berada dalam posisi lebih rendah dalam kelompok dapat melakukan grooming terhadap individu yang dominan. Perilaku tersebut diduga membantu meredakan ketegangan di antara mereka.

Bisa Juga Menjadi Sinyal Ancaman

Menariknya, perilaku saling menjilat juga tidak selalu berarti upaya untuk menenangkan. Peneliti mencatat jilatan sering diarahkan ke bagian leher. Bagian tubuh ini juga merupakan salah satu area yang menjadi sasaran gigitan ketika kucing berkelahi.

Karena itu, peneliti menduga allogrooming pada situasi tertentu mungkin sekaligus menjadi sinyal ancaman agresif yang halus.

Dengan kata lain, perilaku yang terlihat lembut dari luar belum tentu memiliki satu makna. Arti saling menjilat dapat bergantung pada situasi dan perilaku lain yang menyertainya.

Bagaimana dengan Alasan Kebersihan?

Selain fungsi sosial, Van Belle dan para peneliti juga menduga allogrooming memiliki fungsi dalam menjaga kebersihan tubuh.

Dugaan ini muncul karena aktivitas saling menjilat sering diarahkan ke kepala dan leher, yaitu bagian tubuh yang relatif sulit dijangkau kucing ketika melakukan grooming terhadap dirinya sendiri.

Fungsi kebersihan melalui grooming juga ditemukan pada sejumlah spesies lain. Semut, misalnya, melakukan grooming terhadap anggota koloni yang mengalami infeksi. Pada primata, aktivitas grooming juga cenderung diarahkan ke bagian tubuh yang sulit dijangkau oleh individu yang sedang dirawat.

Namun, fungsi kebersihan pada kucing belum dapat dipastikan.

Studi Van Belle tidak mengukur keberadaan parasit, infeksi, atau tingkat kebersihan kulit kucing untuk mengetahui apakah allogrooming benar-benar membantu mengurangi kotoran atau parasit.

Belum Ada Jawaban Tunggal

Dokter hewan sekaligus ahli perilaku hewan, Dr Terry Curtis, yang pernah meneliti frekuensi allogrooming pada kucing, juga melihat kemungkinan adanya fungsi kebersihan dalam perilaku tersebut.

Ia bahkan mempertanyakan apakah kucing liar memiliki pola allogrooming yang berbeda dengan kucing rumahan. Kucing liar kemungkinan lebih sering terpapar kutu sehingga pola grooming mereka mungkin berbeda.

Namun, Curtis menilai berbagai penjelasan mengenai allogrooming yang diajukan Van Belle dan timnya masih berupa kemungkinan yang masuk akal, bukan jawaban yang sudah pasti.

Menurutnya, terlalu banyak faktor yang dapat memengaruhi perilaku kucing sehingga sulit memastikan secara tepat mengapa seekor kucing menjilati kucing lainnya.

Jadi, ketika melihat kucing saling menjilat, jangan buru-buru mengartikannya sebagai tanda persahabatan. Bisa jadi mereka sedang memperkuat ikatan sosial, mengajak bermain, meredakan ketegangan, memberikan sinyal agresif, atau sekadar membantu membersihkan bagian tubuh yang sulit dijangkau.

Halaman 2 dari 2
(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads