Jakarta - Pemprov Lampung menyatakan, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) setidaknya sudah kebakaran hutan dan lahan sejak 21 Agustus 2026.
Satwa Way Kambas, Taman Nasional yang Kebakaran
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan penanganan berlangsung sejak 25 September atau 25 hari lalu, dengan kendala kondisi vegetasi rapat, jarak sumber air sekitar 1,5 km dari titik api, serta keterbatasan peralatan dan logistik. Pemadaman dilakukan lewat jalur udara, seperti water bombing dari helikopter. Foto: Dok. Istimewa
Berdasarkan pemantauan drone per Sabtu (18/10) pukul 17.00 WIB, ia mengatakan, area TN Way Kambas yang terindikasi masih terbakar atau berasap diperkirakan mencapai 30 hektare.
"Empat tim darat melakukan pemantauan menggunakan drone, pemadaman di sejumlah titik, serta pembukaan jalur menuju lokasi kebakaran," kata Rahmat, dilansir Kantor Berita Antara, Senin (19/10) malam. Foto: (Foto: Istimewa)
TNWK rumah bagi beragam satwa liar. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE), hewan endemik, langka, dilindungi, dan berstatus terancam punah seperti tapir (Tapirus indicus) hidup di taman nasional ini. Foto: (Foto: Istimewa)
Burung rangkong badak. Burung rangkong, jenis burung berparuh besar yang unik, merupakan satwa dilindungi yang terancam punah.
Dari total 32 jenis rangkong di Asia, 13 di antaranya hidup di Indonesia, termasuk di kawasan TNWK. Foto: getty images
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), satwa dilindungi, juga tinggal di Way Kambas. Ada sekolah gajah yang disebut Pusat Latihan Gajah di TNWK, salah satunya untuk individu yang pernah berkonflik dengan manusia lantaran habitatnya kian lenyap. Foto: dok. Kemenhut
Rusa sambar (Cervus unicolor), satwa dilindungi, merupakan salah satu jenis rusa terbesar. Hewan yang kerap jadi korban perburuan liar ini salah satunya hidup di Way Kambas. Foto: Protokol dan Komunikasi Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Timur
Kijang (Muntiacus muntjak). Kendati tidak terancam punah, hewan ini termasuk satwa dilindungi di Indonesia lantaran penurunan populasinya imbas menjadi target perburuan liar dan kerusakan habitat. Foto: Wikimedia Commons
Harimau Sumatera (Panthera tigris) salah satunya hidup di Way Kambas. Satwa dilindungi ini termasuk kategori kritis (Critically Endangered) oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Foto: Rengga Sancaya
Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan salah satu spesies beruang terkecil di dunia. Beruang hitam ini merupakan satwa dilindungi di Indonesia dan berstatus rentan (Vulnerable) menurut IUCN. Foto: Dok. Animalium BRIN
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), jenis badak berambut kecil yang terancam punah dan diperkirakan hanya tersisa 80-100 individu di alam maupun di penangkaran. Badak Sumatera adalah satu-satunya yang bercula dua di Asia.
Terdapat pusat penangkaran dan konservasi semi-alami khusus di TNWK bernama Suaka Rhino Sumatera, salah satunya dihuni oleh Ratu dan Delilah, badak betina yang diperkirakan akan melahirkan pada 2027.Foto: dok. KLHK
TNWK juga merupakan rumah bagi sejumlah primata. Salah satunya Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang, hewan terancam punah (Endangered) yang dihimpit perburuan liar, perdagangan primata global, serta kehilangan habitat dan konflik dengan manusia. Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Kukang Sumatra (Nycticebus coucang), satwa dilindungi dan berstatus terancam punah, juga hidup di TNWK.
Kukang merupakan salah satu primata yang ditemukan warga sebagai korban karhutla di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dan mati setelah memanjat kabel warga, diduga jatuh tersengat, dan lumpuh. Foto: dok. BKSDA Jawa Barat
Owa siamang (Symphalangus syndactylus), salah satu primata dilindungi, dikenal dengan kantong suara dan suaranya yang kencang.
Smithsonian's National Zoo & Conservation Biology Institute mengungkapkan penurunan populasinya sebesar 50 persen dalam 40 tahun terakhir akibat induknya dibunuh agar anaknya masuk perdagangan ilegal hewan liar, serta karena kerusakan dan kehilangan habitat, termasuk usai alih fungsinya menjadi kebun sawit. Foto: Dok BKSDA Bali
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
